<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Budaya Kerja Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<atom:link href="https://1000startupdigital.id/category/budaya-kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://1000startupdigital.id/category/budaya-kerja/</link>
	<description>Rintis startupmu bersama mentor &#38; praktisi digital</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Aug 2023 09:12:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.3</generator>

<image>
	<url>https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/08/cropped-ICON-1-32x32.png</url>
	<title>Budaya Kerja Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<link>https://1000startupdigital.id/category/budaya-kerja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Budaya Kerja Positif Bikin Makin Produktif</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/budaya-kerja-positif-bikin-makin-produktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jul 2023 04:54:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Startup]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Productivity]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Startup Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Work Culture]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=9614</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti apa lingkungan kerjamu saat ini? Apakah lingkungan kerjamu memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerjamu saat ini? Cobalah untuk merenungkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sembari membaca sebuah penelitian menarik yang dipublikasikan oleh artikel Harvard Business Review. Di mana, tempat kerja yang punya budaya positif ternyata memberikan banyak efek yang menggembirakan. Untuk itu, para pemimpin di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/budaya-kerja-positif-bikin-makin-produktif/">Budaya Kerja Positif Bikin Makin Produktif</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="9648">Seperti apa lingkungan kerjamu saat ini?</p>



<p id="9a1f">Apakah lingkungan kerjamu memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerjamu saat ini?</p>



<p id="918d">Cobalah untuk merenungkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sembari membaca sebuah penelitian menarik yang dipublikasikan oleh artikel Harvard Business Review. Di mana, tempat kerja yang punya budaya positif ternyata memberikan banyak efek yang menggembirakan. Untuk itu, para pemimpin di startup perlu melakukan berbagai upaya untuk mendorong penciptaan budaya kerja yang menyenangkan. Bagaimana caranya?</p>



<p id="ffc0"><strong>Membina hubungan sosial</strong></p>



<p id="bae5">Sejumlah studi membuktikkan bahwa hubungan sosial yang positif di tempat kerja memberikan dampak positif yang luar biasa. Contohnya, karyawan jarang sakit, pulih dua kali lebih cepat dari operasi, dan mengalami lebih sedikit depresi. Tidak hanya itu, mereka juga belajar lebih cepat dan mengingat lebih lama, mentolerir rasa sakit dan ketidaknyamanan dengan lebih baik, menampilkan lebih banyak ketajaman mental, dan melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Sebaliknya, penelitian oleh Sarah Pressman di University of California, Irvine, menemukan bahwa kemungkinan kematian dini 20% lebih tinggi pada orang gemuk, 30% lebih tinggi pada peminum berlebihan, 50% lebih tinggi pada perokok, tetapi 70% lebih tinggi pada orang dengan hubungan sosial yang buruk. Tempat kerja yang tergolong ‘<em>toxic’</em>&nbsp;dan penuh stres mempengaruhi hubungan sosial dan lebih buruknya, harapan hidup.</p>



<p id="123d"><strong>Menunjukkan empati</strong></p>



<p id="e013">Seorang&nbsp;<em>leader&nbsp;</em>punya pengaruh luar biasa pada karyawannya. Apa yang&nbsp;<em>leader&nbsp;</em>lakukan dapat memberikan dampak positif dan negatif, tergantung dari apa yang&nbsp;<em>leader&nbsp;</em>lakukan. Sebuah studi menunjukkan bahwa, ketika karyawan mengingat&nbsp;<em>leader</em>&nbsp;yang tidak baik atau tidak empatik, mereka menunjukkan peningkatan aktivasi di area otak yang terkait dengan penghindaran dan emosi negatif. Uniknya, hal tersebut tidak terjadi ketika karyawan mengingat&nbsp;<em>leader</em>&nbsp;yang berempati. Selain itu, Jane Dutton dan rekan-rekannya di CompassionLab di University of Michigan menyarankan agar para pemimpin yang menunjukkan kasih sayang terhadap karyawannya agar mereka dapat berhasil untuk bertahan dan berjuang dari masa-masa sulit.</p>



<p id="e95d"><strong>Berusaha untuk membantu</strong></p>



<p id="07b2">Pada umumnya, karyawan akan lebih loyal untuk bekerja pada pemimpin yang ringan tangan untuk membantu karyawan yang sedang dalam kesulitan. Ini ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Jonathan Haidt di Stern School of Business New York University, ketika para pemimpin tidak hanya adil tetapi juga rela berkorban, karyawan mereka sebenarnya tergerak dan terinspirasi untuk menjadi lebih setia dan berkomitmen pada diri mereka sendiri. Dampaknya, mereka lebih cenderung untuk membantu dan ramah kepada karyawan lain, sehingga menciptakan siklus yang memperkuat diri sendiri. Daan Van Knippenberg dari Rotterdam School of Management menunjukkan bahwa karyawan yang punya karakter untuk rela berkorban menjadi lebih kooperatif karena mereka lebih mempercayai pemimpin mereka. Mereka juga lebih produktif dan melihat pemimpin mereka lebih efektif dan karismatik.</p>



<p id="ba7a"><strong>Mendorong karyawan untuk berbicara aktif dengan pemimpin</strong></p>



<p id="cc23">Setiap orang pasti punya masalah di tempat kerja, tidak terkecuali karyawan yang saat ini bekerja di bisnismu. Pemimpin yang dipercaya oleh karyawan, pada umumnya punya pola komunikasi yang baik dan aktif oleh karyawannya. Jika pemimpin mengutamakan kepentingan karyawan, mereka akan rela bekerja dengan kinerja terbaiknya. Karyawan akan merasa aman, daripada takut. Contohnya adalah hasil penelitian oleh Amy Edmondson dari Harvard dalam pekerjaannya tentang keamanan psikologis, budaya keselamatan, yaitu pemimpin yang inklusif, rendah hati, dan mendorong staf mereka untuk berbicara atau meminta bantuan, mengarah ke hasil belajar dan kinerja yang lebih baik. Karyawan yang merasa aman di tempat kerja ternyata membantu mendorong semangat bereksperimen yang sangat penting untuk inovasi.</p>



<p id="34eb">Tempat kerja yang positif memberikan dampak yang sangat luar biasa pada karyawan. Tidak hanya itu, pengaruh dari pemimpin yang positif juga dapat meningkatkan emosi dan kesejahteraan karyawan. Jadi, ketika startup mengembangkan budaya yang positif, mereka mencapai tingkat efektivitas bisnis yang jauh lebih tinggi. Hal ini termasuk kinerja keuangan, kepuasan pelanggan, produktivitas, dan keterlibatan karyawan.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="ac1d"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="ba55"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="6311"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----3fa73717f887--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/budaya-kerja-positif-bikin-makin-produktif/">Budaya Kerja Positif Bikin Makin Produktif</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Founders, Hati-hati Terjebak 7 Kesalahan ‘Budaya’ yang Sering Dilakukan Startup</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/founders-hati-hati-terjebak-7-kesalahan-budaya-yang-sering-dilakukan-startup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2021 07:35:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=6384</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kunci penentu kesuksesan startup adalah budaya perusahaan yang positif dan mengakar kuat dalam setiap anggota timnya. Seperti yang dikatakan seorang&#160;venture capitalist&#160;asal Amerika, Fred Wilson, “Jika kamu ingin berada dalam bisnismu selamanya, kamu perlu membangun budaya yang menopang bisnis”. Nah, supaya perusahaanmu memiliki budaya yang kuat dan tidak masuk ke lubang, ketahui tujuh kesalahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/founders-hati-hati-terjebak-7-kesalahan-budaya-yang-sering-dilakukan-startup/">Founders, Hati-hati Terjebak 7 Kesalahan ‘Budaya’ yang Sering Dilakukan Startup</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://miro.medium.com/max/1400/0*2_9Ildq2lYfwfqGb" alt=""/><figcaption>Photo by&nbsp;<a href="https://unsplash.com/@homajob?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral" rel="noreferrer noopener" target="_blank">Scott Graham</a>&nbsp;on&nbsp;<a href="https://unsplash.com/?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral" rel="noreferrer noopener" target="_blank">Unsplash</a></figcaption></figure>



<p id="2396">Salah satu kunci penentu kesuksesan startup adalah budaya perusahaan yang positif dan mengakar kuat dalam setiap anggota timnya. Seperti yang dikatakan seorang&nbsp;<em>venture capitalist&nbsp;</em>asal Amerika, Fred Wilson, “Jika kamu ingin berada dalam bisnismu selamanya, kamu perlu membangun budaya yang menopang bisnis”. Nah, supaya perusahaanmu memiliki budaya yang kuat dan tidak masuk ke lubang, ketahui tujuh kesalahan umum yang kerap dilakukan startup ketika menciptakan budaya dan tentunya harus kamu hindari:</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="279c"><strong>1. Percaya bahwa budaya terbentuk ‘begitu saja’</strong></h2>



<p id="f00d">Banyak startup menganggap sepele budaya perusahaan dan berpikir bahwa budaya tersebut dapat dengan mudah ‘terbentuk begitu saja’. Padahal, budaya perusahaan adalah salah satu ‘investasi’ terbesar di dalam startup yang perlu dibentuk sedari awal, sebab budaya perusahaan menjadi salah satu gambaran ‘ini adalah cara kerja kami’.</p>



<p id="0a1b">Di langkah awal membangun FiveStarts, sang founder Victor Ho, tidak pernah meluangkan waktu untuk mendefinisikan budaya secara resmi — dia merasa itu terlalu “murah”. Tetapi ketika mereka tumbuh dari 40 menjadi 80 karyawan, budaya perusahaan tak mengakar kuat, sehingga karyawan berselisih tentang cara menyelesaikan pekerjaan. Seperti dikutip di Fast Company, Ho menggambarkannya sebagai “salah satu periode tersulit perusahaan.”</p>



<p id="cfa9"><em>Well,&nbsp;</em>membangun budaya perusahaan tidak perlu melulu pergi retret berbiaya mahal, atau menulis dek budaya yang rumit. Ini bisa sesederhana menuliskan lima kata yang menggambarkan budaya perusahaanmu. Lalu sebulan sekali, sebagai sebuah tim, kamu dapat membuat diskusi untuk mengkaji apakah semangat tersebut masih relevan.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="fb00"><strong>2. Cuma hire kalangan terbatas alias temen sendiri</strong></h2>



<p id="dc93">Enggak salah, kok. Mencari teman kerja membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi: kamu perlu tim yang mampu bekerja keras dan membuat keputusan yang tepat, lalu tim harus percaya pada kamu dan visi kamu. Jadi wajar saja jika kamu mencari orang dari jaringan kamu yang sudah ada. Ini dapat berguna pada awalnya — tim yang homogen berkomunikasi lebih baik dan menunjukkan kohesi yang lebih besar — tetapi dapat dengan cepat menyebabkan masalah, semisal permasalahan personal yang bisa terbawa ke ranah profesional.</p>



<p id="2090">Hindari persoalan ini dengan menetapkan aturan, termasuk skenario terburuk (seperti memecat teman kamu). Kamu juga harus memikirkan bagaimana kamu akan mengintegrasikan orang ke dalam budaya yang ada; tujuan kamu adalah untuk mencegah ‘<em>bubble</em>’ atau membuat orang merasa dikucilkan dari “lingkaran dalam”.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="77a0"><strong>3. Berpikir kalau hire makin banyak orang = makin sukses</strong></h2>



<p id="cb9d">Menunjukkan keberhasilan dalam membangun startup memang terasa menyenangkan. Misalnya saja, menunjukkan berapa banyak tim yang kini bergabung di startup-mu dan menceritakannya ke sekitarmu. Tetapi, jangan sampai ‘besaran tim’ membutakan matamu. Faktanya, perusahaan yang mempekerjakan terlalu banyak orang terlalu cepat cenderung terpaksa memberhentikan 11 persen dari perusahaan. Jaga semangat tim dengan menentukan ukuran kesuksesan yang lebih akurat, dan temukan cara untuk merayakan kemenangan kecil secara sederhana namun berarti.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="e54a"><strong>4. Menghabiskan banyak uang untuk tunjangan demi bersaing dengan startup lain</strong></h2>



<p id="b4fb">Menjanjikan ‘tunjangan senang-senang’ adalah praktik umum di dunia startup, misalnya saja di Silicon Valley — siapa yang tak tergoda dengan makan siang sajian koki gourmet, kelas meditasi, dan layanan laundry supaya karyawan dapat bekerja lebih keras? Ingatlah bahwa tunjangan itu tidak murah: menyusutnya dana VC memaksa Dropbox untuk membatalkan tunjangan antar-jemput gratisnya dan membatasi makanan gratis.</p>



<p id="7be6">Jika kamu benar-benar ingin tim kamu melakukan pekerjaan terbaik mereka, terlepas dari anggaran kompensasi kamu, beri mereka pekerjaan yang berarti. Tunjukkan bagaimana pekerjaan mereka berdampak langsung pada organisasi, dan bagaimana organisasi membuat perbedaan di dunia. Dengan kata lain, beri mereka tujuan. Oh, dan jangan khawatir — “tujuan” tidak harus berupa produk atau layanan yang menyelamatkan dunia (walaupun itu nilai tambah); tujuan sesungguhnya berarti kamu memiliki visi dan misi yang menarik.</p>



<p id="cb82">(Ya tapi boleh juga sih kalau ada PS 5 di ruang kerja…)</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="ded1"><strong>5. Karyawan overwork, berujung burnout</strong></h2>



<p id="53da">Tentu, bekerja di sebuah startup adalah komitmen; bersiap kerja berjam-jam dan target yang ‘luar biasa’ tinggi. Masalahnya, bekerja terlalu keras pun berdampak buruk untuk performa perusahaan dan karyawan. Kerja dengan durasi terlalu lama nyatanya menyebabkan penurunan produktivitas dan minimnya perkembangan skill karyawan itu sendiri.</p>



<p id="8745">Untuk mencegah&nbsp;<em>burn out&nbsp;</em>di dalam perusahaan, lakukan check-in rutin dengan tim kamu untuk membantu mereka mengelola beban kerja dan tingkat stres. Dan jangan lupa, ya, buat kamu para founder: setidaknya 30 persen founder rentan mengalami depresi.</p>



<p id="9d4e">Dapat dipahami bahwa akan ada masa di mana kamu harus menghabiskan malam dan akhir pekan yang panjang di kantor, tetapi jangan sampai ini menjadi budaya kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="39f9"><strong>6. Tidak mempertimbangkan karakter diri para karyawan</strong></h2>



<p id="5a6f">Orang pintar memang banyak, namun tak sedikit juga yang memiliki karakter diri buruk. Jangan sampai kamu mempekerjakan talenta terbaik tetapi abai jika karakter diri mereka buruk.</p>



<p id="53e0">Terlepas dari keahlian mereka yang unggul, kepribadian buruk akan menghancurkan budaya tim dan produktivitas perusahaan. Cara terbaik untuk menghindari masalah ini adalah dengan hati-hati menyaring orang-orang menyebalkan selama proses wawancara, semisal menandai kandidat dengan jawaban yang hanya mementingkan diri sendiri, atau berbicara tentang keburukan teman kerja atau timnya di kantor sebelumnya. Jika orang seperti ini telanjur masuk ke dalam startupmu, bicaralah dengan mereka dan jelaskan bagaimana kamu berharap perilaku mereka berubah. Jika tak juga berubah, mungkin ada baiknya untuk berkata,&nbsp;<em>“I am sorry, good bye….”&nbsp;</em><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f641.png" alt="🙁" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<h2 class="wp-block-heading" id="deee"><strong>7. Tidak mengindahkan peraturan yang ada di sekitarmu</strong></h2>



<p id="d5af"><em>Going extra miles&nbsp;</em>memang sebuah langkah yang bagus untuk mencapai target. Namun, jangan sampai&nbsp;<em>going extra miles&nbsp;</em>berarti menerobos aturan yang ada. Sebagai contoh, Zenefits dipuji sebagai startup penggerak di industri asuransi, dan para investornya mendorongnya untuk meningkatkan target penjualannya. Sayangnya, untuk memenuhi tujuan tersebut, perusahaan mengabaikan peraturan negara — yang akhirnya mengancam stabilitas organisasi dan memaksa CEO keluar.</p>



<p id="aaef">Sebelum melangkah, duduklah bersama founder lain dan kembali diskusikan nilai perusahaan kamu. Apa yang paling penting bagi tim kamu? Kapan kamu mungkin perlu memperdebatkan suatu tindakan sebelum bergerak maju? Diskusikan secara berkala, sehingga ketika uang dipertaruhkan dan tenggat waktu mendekat, kamu tahu apa yang kamu perjuangkan.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="930a"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="b7f0"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="ff67"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p><meta charset="utf-8"><em>— Tulisan ini dibuat oleh </em>Sattwika Duhita.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/founders-hati-hati-terjebak-7-kesalahan-budaya-yang-sering-dilakukan-startup/">Founders, Hati-hati Terjebak 7 Kesalahan ‘Budaya’ yang Sering Dilakukan Startup</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Budaya Startup yang Hebat</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/karakteristik-budaya-startup-yang-hebat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2021 07:24:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5871</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kebanyakan orang akan menyangka, keberhasilan startup atau perusahaan biasanya meliputi beberapa faktor. Yang pertama, punya tim yang solid, memiliki kompetensi, dan kerja sama yang membangun. Kedua, produk atau layanannya memecahkan masalah dari pelanggan. Ketiga, pelanggan yang membutuhkan produk atau layanan dari startup. Akan tetapi, ada satu faktor lain yang tidak tampak di permukaan sebagai faktor [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/karakteristik-budaya-startup-yang-hebat/">Karakteristik Budaya Startup yang Hebat</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.22.39.png" alt="" class="wp-image-6106" width="838" height="662" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.22.39.png 538w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.22.39-300x237.png 300w" sizes="(max-width: 838px) 100vw, 838px" /></figure>



<p>Kebanyakan orang akan menyangka, keberhasilan startup atau perusahaan biasanya meliputi beberapa faktor. Yang pertama, punya tim yang solid, memiliki kompetensi, dan kerja sama yang membangun. Kedua, produk atau layanannya memecahkan masalah dari pelanggan. Ketiga, pelanggan yang membutuhkan produk atau layanan dari startup.</p>



<p>Akan tetapi, ada satu faktor lain yang tidak tampak di permukaan sebagai faktor pendorong keberhasilan startup, yaitu budaya kerja. Ya, faktor budaya kerja sering terlupakan sebagai hal yang dapat mendorong kinerja tim, menciptakan produk solutif, dan fit into market. Lalu, seperti apa sih, karakteristik budaya dalam startup yang hebat? Berikut adalah ulasannya:</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bekerja dengan Misi</h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.21.52-1024x439.png" alt="" class="wp-image-5872" width="667" height="286" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.21.52-1024x439.png 1024w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.21.52-300x129.png 300w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.21.52-768x329.png 768w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.21.52.png 1264w" sizes="(max-width: 667px) 100vw, 667px" /></figure></div>



<p>Misi adalah sesuatu yang ajaib. Lewat misi, maka sekelompok individu yang tergabung dalam tim tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Karakteristik budaya startup yang hebat adalah yang menjalankan sesuatunya tidak hanya berlandaskan pekerjaan atau sekadar menyelesaikan job description. Jika hanya berpatokan pada job description, maka setelah tugas tersebut selesai, tanggung jawab anggota tim juga selesai. Namun melalui misi, semua tim tentu harus bergotong royong untuk dapat menyelesaikan misi tersebut dengan sukses.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak ada Ruang untuk Mediocre</h2>



<p>Di startup, semua pekerjaan harus dikerjakan secara cepat dan maksimal. Budaya kerja seperti ini minim memberikan ruang untuk karakter individu yang mediocre (biasa-biasa saja); bekerja tidak dengan semangat dan tidak pula bersungguh-sungguh. Budaya kerja di startup dibentuk dari semangat para pendiri dan timnya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Maka dengan ini, startup membutuhkan sumber daya yang punya kompetensi, memiliki semangat dan etos kerja yang baik, serta tidak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Komunikasi yang Tepat</h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.23.08.png" alt="" class="wp-image-6107" width="665" height="345" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.23.08.png 466w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.23.08-300x156.png 300w" sizes="(max-width: 665px) 100vw, 665px" /></figure></div>



<p>Startup adalah tempat dimana para talenta terbaik bekerja dengan memanfaatkan peralatan dan teknologi. Dimana, orang-orang yang bekerja menggunakan teknologi berkomunikasi menggunakan bahasa pemrograman, membentuk machine learning, hingga menganalisis data. Namun, koordinasi antar tim tentu dilakukan menggunakan komunikasi verbal atau non-verbal. Di sini, kemampuan koordinasi menjadi penting karena melibatkan sisi humanis. Misalnya saat startup sedang ada di masa kritis ataupun masa yang menyenangkan, budaya kerja melalui alur komunikasi yang hebat harus mulai dibiasakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Leader yang Problem Solver dan Mengayomi</h2>



<p>Salah satu alasan mengapa seseorang nyaman dan terus meningkatkan kinerja kariernya adalah saat memiliki leader yang mengayomi. Begitu berpengaruhnya peran leader dalam performa tim yang hebat, jika ia adalah seorang problem solver serta bisa mengayomi anggota timnya. Menjadi orang yang bisa peka terhadap masalah dan mencari celah untuk menciptakan peluang tidak diciptakan dalam waktu singkat. Leader dibentuk dengan tantangan serta kondisi sulit yang dihadapi sehari-hari. Maka, carilah leader yang punya kemampuan berpikir kritis, menjadi problem solver, dan mengayomi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pelanggan adalah Kunci</h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.30.26-1024x540.png" alt="" class="wp-image-5873" width="668" height="351" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.30.26-1024x540.png 1024w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.30.26-300x158.png 300w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.30.26-768x405.png 768w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-16.30.26.png 1264w" sizes="(max-width: 668px) 100vw, 668px" /></figure></div>



<p>Karakteristik budaya startup selanjutnya adalah menyediakan solusi bagi pelanggan. Startup pada dasarnya bekerja dengan cara menyediakan solusi dan memecahkan masalah pelanggan. Artinya, budaya kerja yang pertama kali difokuskan adalah tentang pelanggan. Jadikan umpan balik (feedback) sebagai sesuatu yang berharga dan bagian paling penting dari proses pembuatan produk. Dengan bersikap proaktif kepada pelanggan, maka budaya kerja yang berorientasi pada pelanggan akan berlaku.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5:</strong> <strong>Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/karakteristik-budaya-startup-yang-hebat/">Karakteristik Budaya Startup yang Hebat</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Karyawan Jadi Pengusaha? Ini 5 Pola Pikir yang Harus Kamu Tanamkan</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/dari-karyawan-jadi-pengusaha-ini-5-pola-pikir-yang-harus-kamu-tanamkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2021 08:21:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kamu dulunya pernah menjadi karyawan dan saat ini memutuskan untuk menjadi pengusaha. Apa saja yang harus dipersiapkan? Karena kondisinya berbeda, tentu saja kamu perlu menanamkan pola pikir yang berbeda antara karyawandan pengusaha. Sayangnya, tidak semua pengusaha atau founder startup memahami hal-hal apa saja yang berubah dan pergeseran pola pikir yang harus disiapkan ketika masa transisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/dari-karyawan-jadi-pengusaha-ini-5-pola-pikir-yang-harus-kamu-tanamkan/">Dari Karyawan Jadi Pengusaha? Ini 5 Pola Pikir yang Harus Kamu Tanamkan</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.49.56.png" alt="" class="wp-image-5712" width="840" height="521" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.49.56.png 608w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.49.56-300x186.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Kamu dulunya pernah menjadi karyawan dan saat ini memutuskan untuk menjadi pengusaha. Apa saja yang harus dipersiapkan?</p></blockquote>



<p>Karena kondisinya berbeda, tentu saja kamu perlu menanamkan pola pikir yang berbeda antara karyawan<br>dan pengusaha. Sayangnya, tidak semua pengusaha atau <em>founder </em>startup memahami hal-hal apa saja yang berubah dan pergeseran pola pikir yang harus disiapkan ketika masa transisi dari karyawan menjadi pengusaha dimulai.</p>



<p>Untuk itulah, artikel ini disiapkan untukmu yang sudah mantap memutuskan memulai langkah baru menjadi pengusaha.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<h2 class="wp-block-heading">1. <span style="text-decoration: underline;">Semangat Memulai dari Nol</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.51.41.png" alt="" class="wp-image-5713" width="841" height="266" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.51.41.png 562w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.51.41-300x95.png 300w" sizes="(max-width: 841px) 100vw, 841px" /></figure>



<p>Saat kamu mulai berwirausaha, beranikan diri untuk membuat panduan sendiri. Jika dibandingkan dengan karyawan yang baru saja diterima bekerja, mungkin di hari pertama masuk, akan ada tim dari HRD yang memberi tahu aturan kerja, budaya, atau mengajakmu keliling kantor. Hal ini tidak berlaku saat kamu memutuskan untuk jadi pengusaha. Tidak akan ada orang yang menerangkan kepadamu aturan kerja yang berlaku, begitu pula dengan budaya kerja yang justru harus kamu bangun sendiri dari awal.</p>



<p>Sudah menjadi hal biasa bagi startup yang <em>bootstrapping </em>berada dalam kondisi yang kekurangan sumber daya, seperti memiliki anggaran yang kecil atau waktu yang terbatas. Usahakan setiap pengusaha hidup dan membiasakan untuk memiliki pola pikir bertumbuh (<em>growth mindset</em>). Maka, sesulit apa pun keadaannya, kamu bisa mengubah hal yang sulit menjadi peluang dengan kreativitas. Kemudian, penting juga untuk menjaga semangat tetap konsisten.</p>



<p>Realitanya, orang yang baru memulai startup, akan sangat menggebu di awal sehingga justru kehabisan energi saat fase berikutnya. Akan lebih baik jika kamu bisa mengelola energi sedari awal sehingga semangat bisa tetap dijaga.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. <span style="text-decoration: underline;">Berada di Lingkungan yang Suportif</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.52.57.png" alt="" class="wp-image-5714" width="841" height="457" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.52.57.png 565w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.52.57-300x163.png 300w" sizes="(max-width: 841px) 100vw, 841px" /></figure>



<p>Menjadi pengusaha perlu membuka pemikiran seluas mungkin, bergaul dengan banyak orang, dan menempa diri dengan berbagai pengalaman. Mungkin bagi sebagian orang, pengusaha identik dengan kesepian dan kesendirian, meski mungkin ada benarnya juga. Namun, tidak lantas harus berada dalam situasi seperti itu.</p>



<p>Kamu bisa memilih untuk terus bergaul dan melibatkan diri di lingkungan pertemanan yang bisa mengajarimu banyak hal. Ambil dan seraplah banyak ilmu dari orang-orang yang membangun startup. Kamu bisa mulai membangun koneksi karena sebagian besar dari mereka suka berbagi pengetahuan dan pengalamannya.</p>



<p>Jika perlu, carilah mentor dan penasihat yang sekiranya dapat membantumu berbagi pengetahuan dan pengalaman, atau menjadi tempatmu mencurahkan hati ketika ada kesulitan. Jangan pernah ragu meminta bantuan atau nasihat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. <span style="text-decoration: underline;">Berani Mengambil Risiko</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.54.11.png" alt="" class="wp-image-5715" width="839" height="337" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.54.11.png 564w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.54.11-300x120.png 300w" sizes="(max-width: 839px) 100vw, 839px" /></figure>



<p>Bersiaplah untuk menjalani kehidupan menantang layaknya kamu naik <em>roller coaster</em>. Akan selalu ada naik turunnya. Berbeda halnya saat masih menjadi karyawan, mungkin yang ada di pikiran setiap hari adalah bagaimana bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai target dengan hasil yang memuaskan. Namun, menjadi pengusaha tentu saja berbeda.</p>



<p>Pola pikir secara menyeluruh harus mulai dibiasakan saat kamu menjadi <em>founder</em>. Kamu harus bisa memikirkan tentang membangun MVP, mencari kandidat untuk wawancara riset pengguna, menemukan partner kerja yang tepat, sampai mengurus tagihan internet sendiri.</p>



<p>Pola pikir fleksibel dan menjadi <em>agile </em>sangat dibutuhkan seorang <em>founder </em>untuk bisa terus mengembangkan startupnya. Seorang <em>founder </em>juga harus melatih dirinya agar selalu siap menghadapi keadaan yang tiba- tiba berubah dengan cepat. Ambil contoh yang saat ini sedang terjadi, perubahan yang mendadak dan mengharuskan pengusaha untuk mengubah strategi adalah adanya pandemi COVID-19 yang memberikan efek luar biasa bagi semua sektor, terutama sektor teknologi dan startup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. <span style="text-decoration: underline;">Susun Visi Jangka Pendek dan Jangka Panjang Sekaligus</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.55.34.png" alt="" class="wp-image-5716" width="840" height="339" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.55.34.png 563w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.55.34-300x121.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<p>Membuat dan memproyeksikan rencana jangka panjang dan jangka pendek sangat penting untuk dilakukan. <em>Founder </em>juga harus bisa menilai, keadaan mana yang sekiranya bisa menimbulkan kesulitan atau jebakan, dan mana kondisi yang punya kesempatan besar untuk bisa dimanfaatkan.</p>



<p>Ketidakpastian akan selalu ada, akan tetapi kamu bisa terus mengasah ketajaman berpikir dan strategi ke depan karena hal ini akan berdampak pada startupmu beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun selanjutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. <span style="text-decoration: underline;">Kamu adalah Pengambil Keputusan</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.56.37.png" alt="" class="wp-image-5717" width="842" height="450" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.56.37.png 564w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-11.56.37-300x161.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<p>Bertanggung jawab atas semua keputusan yang terjadi di startup adalah salah satu bentuk kewajibanmu selama menjadi <em>founder</em>. Entah itu keputusan buruk atau baik, semuanya tentu punya pertimbangan dan juga dampak yang sudah dipikirkan terlebih dahulu. Jadi, usahakan untuk melihat dari sudut pandang yang luas, dengan berbagai alternatif pertimbangan, dan analisis risiko sebelum kamu mengambil keputusan.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Itu tadi 5 pola pikir yang sebaiknya mulai diresapi dan dipahami dari sekarang. Karena sejatinya, menjadi <em>founder </em>adalah sebuah keputusan yang tepat dan harus terus diupayakan. Semangat berjuang para <em>founder</em>!</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 11: Pendidikan</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/dari-karyawan-jadi-pengusaha-ini-5-pola-pikir-yang-harus-kamu-tanamkan/">Dari Karyawan Jadi Pengusaha? Ini 5 Pola Pikir yang Harus Kamu Tanamkan</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budaya Perusahaan Terlalu Bagus, Baik atau Tanda Bahaya?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/budaya-perusahaan-terlalu-bagus-baik-atau-tanda-bahaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2021 08:20:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sumber artikel dilansir dari Harvard Business Review yang ditulis oleh Timothy R. Clark. Dalam budaya kerja perusahaan, terbentuknya keselarasan seringkali menimbulkan efek samping atau risiko lainnya. Budaya kerja yang terlampau baik seringkali memang didasari oleh niat yang tulus dan percaya pada prinsip kerja dan nilai yang saling memotivasi. Akan tetapi jika budaya kerja yang baik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/budaya-perusahaan-terlalu-bagus-baik-atau-tanda-bahaya/">Budaya Perusahaan Terlalu Bagus, Baik atau Tanda Bahaya?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Sumber artikel dilansir dari <strong>Harvard Business Review </strong>yang ditulis oleh <strong>Timothy R. Clark.</strong></p></blockquote>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.05.23.png" alt="" class="wp-image-5795" width="842" height="419" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.05.23.png 594w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.05.23-300x149.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Dalam budaya kerja perusahaan, terbentuknya keselarasan seringkali menimbulkan efek samping atau risiko lainnya. Budaya kerja yang terlampau baik seringkali memang didasari oleh niat yang tulus dan percaya pada prinsip kerja dan nilai yang saling memotivasi. Akan tetapi jika budaya kerja yang baik ini disikapi secara berlebihan, efeknya justru bisa menjadi racun.</p><p>Beberapa racun yang kerap terjadi antara lain tidak adanya komunikasi yang jujur, hadirnya ungkapan “asalkan bos senang”, dan minim inovasi dan tanggung jawab. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, mari kita kenali lebih dalam tentang bahayanya dari budaya kerja yang terlalu baik ini:</p></blockquote>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Menghambat Inovasi</span></h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.08.25.png" alt="" class="wp-image-5796" width="404" height="501" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.08.25.png 246w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.08.25-242x300.png 242w" sizes="(max-width: 404px) 100vw, 404px" /></figure></div>



<p>Inovasi bisa tercipta karena adanya pemikiran yang beragam dan terobosan yang direalisasikan. Budaya yang terlampau baik dapat menghambat munculnya inovasi. Kebaikan dapat mengubah sekumpulan tim yang memiliki kompetensi tinggi menjadi kelompok yang pasif dan minim ide. Brainstorming bahkan perdebatan tentang ide justru memicu semangat tumbuhnya inovasi. Lain halnya jika dibandingkan dengan sekelompok orang yang mengikuti meeting dan hampir semuanya memiliki pendapat serupa dan mayoritas mengikuti hasil suara terbanyak.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Terkekang dalam Status Quo</span></h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.09.17.png" alt="" class="wp-image-5797" width="401" height="555" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.09.17.png 246w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.09.17-216x300.png 216w" sizes="(max-width: 401px) 100vw, 401px" /></figure></div>



<p>Status quo adalah kondisi yang ada saat ini dan sedang berjalan. Pada umumnya status quo digunakan untuk menyatakan kondisi, budaya, atau kebiasaan kerja yang sudah ada dan berjalan cukup lama. Budaya kerja yang terlalu baik bisa menjadi beracun, karena akan sulit mengenali hal yang salah dan benar, ketika di depan mata semua tampak baik-baik saja. Jika terjebak dalam status quo, maka akan lebih sulit untuk mengubah sistem, memaksakan reaksi, serta perkembangan kerja menjadi stagnan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Lama dalam Mengambil Keputusan</span></h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.11.20.png" alt="" class="wp-image-5798" width="399" height="506" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.11.20.png 244w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.11.20-236x300.png 236w" sizes="(max-width: 399px) 100vw, 399px" /></figure></div>



<p>Budaya yang baik terkadang menciptakan situasi zona nyaman, di mana orang akan lebih enggan untuk berterus terang. Efeknya adalah, diskusi dan analisis yang terjadi dalam situasi kerja menjadi dangkal. Keraguan akan lebih kerap muncul dan menghambat proses pengambilan keputusan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><meta charset="utf-8"><span style="text-decoration: underline;">Merasa Tidak Berdaya</span></h2>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.13.53.png" alt="" class="wp-image-5799" width="397" height="438"/></figure></div>



<p>Norma kebaikan yang terlalu lama diciptakan dalam budaya kerja dapat menyebabkan kepasifan dan ketidakberdayaan. Ini berdampak pada menurunnya inisiatif dan standar kinerja. Budaya kerja yang terlalu baik pada umumnya membuat orang lebih malas untuk mengambil risiko, memperbaiki situasi, dan lebih memilih untuk diam.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Agar hal-hal di atas tidak terjadi, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan, alih-alih menciptakan budaya yang baik namun beracun.</h1>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Jelaskan di Awal</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.19.24.png" alt="" class="wp-image-5800" width="842" height="538" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.19.24.png 590w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.19.24-300x191.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<p>Sebelum melakukan sebuah tindakan atau keputusan, jelaskan di awal tentang sistem, risiko, manfaat, dan dampak yang akan terjadi. Baik itu akan melakukan pertemuan rutin dengan tim, perekrutan, bahkan pengambilan keputusan. Terangkan harapan, standar kinerja, dan bagaimana tanggung jawab harus dilaporkan.</p>



<p>Akan lebih baik jika ekosistem kerja dilakukan dengan intelektual yang dapat dibuktikan, misalnya berdasarkan data, hingga melakukan umpan balik secara jujur. Memang ini tidak mudah, tapi justru lebih baik daripada tercipta budaya kebaikan yang beracun dan berdampak lebih buruk di kemudian hari. Contohnya, ketika kamu ingin mengadakan pertemuan rutin, buatlah agenda secara jelas dan output atau hasil yang diharapkan bisa tercipta dengan adanya pertemuan tersebut.</p>



<p>Jika agendanya adalah pertemuan untuk eksplorasi ide dan inovasi, maka beri tahu semua orang yang akan mengikuti pertemuan, dan beri tugas mereka untuk menyumbangkan ide, misalkan minimal 3 ide untuk tiap orang.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Mulai dari Lingkungan Terkecil</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.20.24.png" alt="" class="wp-image-5801" width="840" height="317" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.20.24.png 591w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.20.24-300x113.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<p>Budaya kerja baik yang beracun pada umumnya memiliki akar. Supaya hal ini bisa hilang secara perlahan-lahan, butuh proses dan langkah mulai dari lingkungan terkecil. Kamu bisa mulai dari lingkungan tim internal terlebih dahulu, kemudian baru ke tingkat divisi, squad, atau tingkatan tim lainnya. Akan lebih maksimal hasilnya apabila ada satu penggerak atau leader yang bisa memberi contoh. Beranilah untuk tunjukkan kesalahan, berpendapat, dan menghargai adanya kejujuran.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Ungkapan Terima Kasih</span></h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.21.19.png" alt="" class="wp-image-5802" width="840" height="317" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.21.19.png 591w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.21.19-300x113.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<p>Hargai dan nilai segala masukan serta kritikan dengan rasa syukur dan terima kasih, alih-alih dihadapi dengan emosi marah atau cercaan. Adanya perbedaan pendapat dan koreksi secara bertahap akan membentuk norma dan budaya kerja yang konstruktif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lindungi Kejujuran</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.29.21.png" alt="" class="wp-image-5803" width="842" height="374" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.29.21.png 589w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-29-at-17.29.21-300x133.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<p>Ketika ada orang yang punya keberanian untuk menyampaikan pendapatnya secara jujur, maka hargai upaya mereka. Salah satu cara terbaiknya dengan mengurangi mengkritik balik atau mencemooh. Dengan menyikapi perbedaan pendapat, maka norma dan ekspektasi budaya yang terbangun akan lebih sehat.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Sebagai rangkuman dari artikel ini, Martin Luther King Jr. pernah menulis surat yang terkenal dari penjara Birmingham, “Pertumbuhan membutuhkan ketegangan konstruktif tanpa kekerasan.”</p>



<p>Untuk itu, jangan hindari ketegangan atau konflik yang konstruktif. Sikapi hal tersebut dengan bijak. Justru hal tersebut adalah kebaikan yang nyata, bukan semu seperti budaya kerja baik yang beracun.</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 13: Fintech</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/budaya-perusahaan-terlalu-bagus-baik-atau-tanda-bahaya/">Budaya Perusahaan Terlalu Bagus, Baik atau Tanda Bahaya?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inspirasi 10 Company Values dari Berbagai Perusahaan di Dunia</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/inspirasi-10-company-values-dari-berbagai-perusahaan-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2021 07:20:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5853</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berbicara tentang company values atau nilai perusahaan, menjadi penting diaplikasikan di startup. Ini karena company values akan memandu atau menjadi pegangan paling dasar yang membantu startupmu untuk mencapai tujuan bersama. Company values pada umumnya berkaitan dengan bisnis, bagaimana cara memperlakukan pelanggan, serta bagaimana perusahaan bisa berkembang. Secara tidak langsung, merumuskan company values artinya mengkomunikasikan prinsip [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/inspirasi-10-company-values-dari-berbagai-perusahaan-di-dunia/">Inspirasi 10 Company Values dari Berbagai Perusahaan di Dunia</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berbicara tentang company values atau nilai perusahaan, menjadi penting diaplikasikan di startup. Ini karena company values akan memandu atau menjadi pegangan paling dasar yang membantu startupmu untuk mencapai tujuan bersama.</p>



<p>Company values pada umumnya berkaitan dengan bisnis, bagaimana cara memperlakukan pelanggan, serta bagaimana perusahaan bisa berkembang. Secara tidak langsung, merumuskan company values artinya mengkomunikasikan prinsip kepada karyawan dan juga konsumen. Lebih dari itu, company values juga berpengaruh pada pembuatan keputusan perusahaan dan juga budaya yang berkembang di perusahaan. </p>



<hr class="wp-block-separator has-css-opacity"/>



<p>Sebagai inspirasi, berikut adalah 10 company values dari berbagai perusahaan di dunia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukalapak</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.14.50.png" alt="" class="wp-image-6095" width="835" height="227" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.14.50.png 526w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.14.50-300x82.png 300w" sizes="(max-width: 835px) 100vw, 835px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Go the extra mile (berjuang lebih jauh)</li>



<li>Customer obsessed (berorientasi dengan pelanggan)</li>



<li>Speak up (berani berbicara)</li>



<li>Gotong royong</li>



<li>Try, fail, and try again (eksperimen dan tidak takut gagal)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Tokopedia</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.26.png" alt="" class="wp-image-6096" width="839" height="236" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.26.png 530w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.26-300x84.png 300w" sizes="(max-width: 839px) 100vw, 839px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Focus on consumer (fokus pada konsumen)</li>



<li>Growth mindset (pola pikir yang berkembang)</li>



<li>Make it happen, make it better (wujudkan dan jadikan<br>lebih baik)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Traveloka</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.53.png" alt="" class="wp-image-6097" width="839" height="231" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.53.png 529w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.15.53-300x83.png 300w" sizes="(max-width: 839px) 100vw, 839px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Dedication (dedikasi)</li>



<li>Intellectual honesty (kejujuran intelektual)</li>



<li>Curiosity (keingintahuan)</li>



<li>Empathy (empati)</li>



<li>Humility (rendah hati)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Gojek</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.27.png" alt="" class="wp-image-6098" width="842" height="250" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.27.png 531w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.27-300x89.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Speed (kecepatan)</li>



<li>Innovation (inovasi)</li>



<li>Social impact (dampak sosial)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Microsoft</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.56.png" alt="" class="wp-image-6099" width="842" height="230" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.56.png 528w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.16.56-300x82.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Innovation (inovasi)</li>



<li>Diversity and inclusion (keragaman dan inklusif)</li>



<li>Corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan)</li>



<li>Philanthropies (filantropi)</li>



<li>Environment (lingkungan)</li>



<li>Trustworthy computing (komputasi yang terpercaya)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Slack</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.17.28.png" alt="" class="wp-image-6100" width="840" height="230" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.17.28.png 530w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.17.28-300x82.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Empathy (empati)</li>



<li>Courtesy (santun)</li>



<li>Thriving (berkembang)</li>



<li>Craftsmanship (ahli)</li>



<li>Playfulness (kegembiraan)</li>



<li>Solidarity (solidaritas)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apple</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.01.png" alt="" class="wp-image-6101" width="840" height="227" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.01.png 528w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.01-300x81.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Accessibility (aksesibilitas)</li>



<li>Education (pendidikan)</li>



<li>Environment (lingkungan)</li>



<li>Inclusion and diversity (inklusif dan keragaman)</li>



<li>Privacy (kebebasan pribadi)</li>



<li>Supplier responsibility (tanggung jawab pengembang)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Nike</h2>



<p></p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.37.png" alt="" class="wp-image-6102" width="840" height="230" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.37.png 528w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.18.37-300x82.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>We dare to design the future of sport (kami berani merancang masa depan dari aktivitas olahraga)</li>



<li>A team that’s empowered, diverse, and inclusive (tim saling menguatkan, beragam, &amp; inklusif)</li>



<li>The world is our community (dunia adalah komunitas bersama)</li>



<li>A fair sustainable future for every athlete (masa depan yang adil dan berkelanjutan untuk setiap atlet)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Amazon</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.01.png" alt="" class="wp-image-6103" width="840" height="224" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.01.png 528w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.01-300x80.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Customer obsession (obsesi terhadap konsumen)</li>



<li>Ownership (kepemilikan) Invent and simplify (ciptakan dan sederhanakan)</li>



<li>Learn and be curious (belajar dan terus cari tahu)</li>



<li>Think big (berpikir besar)</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Google</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="529" height="145" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.29.png" alt="" class="wp-image-6104" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.29.png 529w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.19.29-300x82.png 300w" sizes="(max-width: 529px) 100vw, 529px" /></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li>Focus on the user and all else will follow (fokuslah kepada user dan semuanya akan mengikuti)</li>



<li>It’s best to do one thing really, really well (lakukan satu hal dengan sebaik mungkin)</li>



<li>Fast is better than slow (cepat lebih baik daripada lambat)</li>



<li>Democracy on the web works (kebebasan dalam menggunakan internet)</li>



<li>You don’t need to be at your desk to need an answer (jawaban atau solusi bisa dicari selain dari meja kerja)</li>



<li>You can make money without doing evil (buatlah keuntungan tanpa harus berbuat kurang pantas)</li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-css-opacity"/>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong>Setelah melihat beberapa referensi di atas, mungkin kamu bertanya-tanya tentang, “berapa company values yang<br>harus dibuat?”</strong></p>



<p><strong>Idealnya, company values berjumlah tiga hingga sepuluh poin. Usahakan agar company values ditulis secara jelas dan mudah diingat.</strong></p>



<p><strong>Kemudian, dari company values yang ada, yang terpenting adalah bagaimana startup dapat mengembangkan nilai-nilai tersebut dengan bekerja bersama tim dan mencapai tujuan perusahaan.</strong></p>
</blockquote>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5</strong>: <strong>Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/"><code>klik link ini</code></a> untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/inspirasi-10-company-values-dari-berbagai-perusahaan-di-dunia/">Inspirasi 10 Company Values dari Berbagai Perusahaan di Dunia</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>17 Tips Membangun Budaya Remote Working</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/17-tips-membangun-budaya-remote-working/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2021 07:12:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5851</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulis to-do-list setiap hari sehingga kamu tahu apa saja yang harus dikerjakan. Kamu bisa tulis di malam hari sebelumnya atau pagi hari sebelum siap bekerja. Bentuk accountability system dengan cara menyetorkan to-do-list setiap hari kepada tim, terutama kepada atasan. Dengan ini, kamu dan teman/atasan dapat saling mengingatkan dan meminimalisir hal-hal yang rawan untuk terlewat. Video [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/17-tips-membangun-budaya-remote-working/">17 Tips Membangun Budaya Remote Working</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.11.13.png" alt="" class="wp-image-6092" width="842" height="636" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.11.13.png 603w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.11.13-300x227.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<ol class="wp-block-list"><li>Tulis <em>to-do-list</em> setiap hari sehingga kamu tahu apa saja yang harus dikerjakan. Kamu bisa tulis di malam hari sebelumnya atau pagi hari sebelum siap bekerja.<br></li><li>Bentuk <em>accountability system </em>dengan cara menyetorkan <em>to-do-list</em> setiap hari kepada tim, terutama kepada atasan. Dengan ini, kamu dan teman/atasan dapat saling mengingatkan dan meminimalisir hal-hal yang rawan untuk terlewat.<br></li><li>Video call 10 menit untuk membahas pekerjaan lebih baik daripada 40 menit texting lewat chat, karena kamu lebih bisa saving time dan fokus untuk mengerjakan hal lainnya.<br></li><li>Buat tempat khusus untukmu kerja dari rumah. Kamu dapat bekerja dimanapun kamu inginkan. Namun, pastikan tempatnya kondusif sehingga kamu bisa tetap produktif. Entah itu di meja kerja, di dapur, di dekat halaman, atau di teras.<br></li><li>Pisahkan tempat kerja dengan tempat istirahat. Usahakan tidak bekerja di tempat tidur karena akan mengaburkan batasan antara pekerjaan dan waktu rehat.<br></li><li>Pisahkan pekerjaan dengankeluarga. Ini mungkin menjadi tantangan bagi kamu yang bekerja dari rumah serta tinggal bersama dengan keluarga. Beri pengertian kepada keluargamu bahwa dengan bekerja di rumah, sama artinya seperti saat bekerja di kantor, sehingga tercipta komunikasi yang baik dan saling berempati.<br></li><li>Buat batasan jam kerja. Atur jam berapa kamu harus mulai bekerja, dan kamu juga harus patuh untuk mengakhirijam kerja. Ingat bahwa tubuhmu juga perlu istirahat. Kesehatan fisik dan kesehatan mental sangat penting untuk dijaga ketika <em>remote working</em>.<br></li><li>Jadwalkan obrolan ringan seputar hal lain di luar pekerjaan. Kamu bisa set up untuk conference call atau video call yang membicarakan seputar hal ringan lain yang bisa membuatmu rehat sejenak dari pekerjaan. Anggaplah waktu ini sama seperti layaknya chit-chat santai di pantry kantor atau saat makan bersama di kantin.<br></li><li>Transisi dari offline working ke remote working bagi sebagian orang mungkin tidak berjalan dengan mulus. Ingatlah bahwa transisi ini adalah sebuah perjalanan. Mungkin memang di awal ada kesulitan, namun berusahalah untuk tetap terbuka, menjaga komunikasi, dan bereksperimen terhadap style bekerjamu saat remote working.<br></li><li>Yang sering dilupakan saat membangun budaya remote working adalah memberikan motivasi, terutama bagi para leader kepada anggota timnya. Sebagai leader, kamu bisa memberikan pengakuan ke publik tentang kinerja yang baik bagi anggota tim, misalnya saja saat video call meeting. Beri apresiasi kepada tim dan bagikan untuk memotivasi yang lainnya. Begitu pula jika ada hal-hal yang perlu dikoreksi, sampaikan secara personal dan usahakan tidak melalui komunikasi tertulis karena akan membuat kesalahpahaman.<br></li><li>Lacak perkembangan dari setiap pekerjaan. Jadwalkan follow up kepada tim yang bersangkutan tentang update progress. Beri jeda waktu dan batasan yang pas, agar tim lain juga dapat mengerjakan pekerjaan tersebut secara maksimal. Hindari memberi pekerjaan dengan tenggat waktu yang terbatas secara mendadak. Untuk itu, penting sekali melakukan update pekerjaan menggunakan timeline yang terstruktur.<br></li><li>Dokumentasikan semuanya dengan rapi. Bagaimanapun, remote working adalah mengurangi arsip-arsip dokumen fisik yang tidak bisa dilihat oleh semua anggota tim. Catatlah segala hal secara tertulis dan bagikan kepada tim yang terlibat. Ini juga dapat mengurangi konflik akibat penugasan yang menumpuk karena semuanya dapat dilihat secara transparan dan online.<br></li><li>File dan folder yang tertata jelas akan memudahkan dan mempercepat pekerjaanmu. Bagikan file dan folder kepada anggota tim yang membutuhkan. Pastikan mereka memahami setiap bagiannya. Jika mereka bingung, maka berikan arahan sampai mereka memahami seperti apa yang kamu pahami (bersepakat untuk menyelaraskan pemikiran).<br></li><li>Arsipkan file lama yang sudah tidak relevan dengan project terbaru yang sedang kamu tangani. Jangan biarkan file menumpuk tidak beraturan dan menghambat proses kerjamu.<br></li><li>Buatlah file khusus yang menampung attachment file dari email penting yang masuk. Klasifikasikan berdasarkan kategori, timeline, atau project.<br></li><li>Komunikasi secara tertulis atau texting jadi hal yang tidak nyaman bagi orang-orang yang sering berkomunikasi langsung secara tatap muka. Misalnya koordinasi antar tim yang ternyata saat di kantor, tempat kerja mereka berhadapan. Membiasakan komunikasi dengan teks dan menggunakannya secara efektif membutuhkan waktu dan kesiapan mental. Hargai proses setiap orang saat sedang berkomunikasi dalam remote working. Tanyakan apa saja kesulitan yang dialami. Bahkan, para anggota tim yang lain juga dapat saling sharing bagaimana mereka mengatasi kesulitan tentang koordinasi pekerjaan saat remote working.<br></li><li>Ketahui kapan waktunya kamu harus berkomunikasi secara tertulis, dan kapan harus melakukan voice/video call. Pahami bahwa tidak semua pesan bisa disampaikan secara verbal, misalnya saja tentang revisi dokumen. Begitu pula dengan komunikasi secara voice/video call, akan lebih tepat dilakukan untuk membahas rancangan pekerjaan yang melibatkan banyak orang.<br></li></ol>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5: Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/17-tips-membangun-budaya-remote-working/">17 Tips Membangun Budaya Remote Working</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Startup Harus Membuat Culture Handbook?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-harus-membuat-culture-handbook/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2021 07:09:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5848</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membentuk tim dalam startup membutuhkan proses yang panjang. Mungkin pada awalnya hanya ada tiga hingga empat orang founder yang mengawali perjalanan. Di tahap ini, budaya kerja akan dibentuk sesuai dengan value yang diyakini oleh founder. Lambat laun seiring berkembangnya startup, maka founder merekrut karyawan baru. Dari sini, budaya kerja rawan mengalami perubahan, atau hilang, akibat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-harus-membuat-culture-handbook/">Mengapa Startup Harus Membuat Culture Handbook?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.07.45.png" alt="" class="wp-image-6090" width="840" height="640" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.07.45.png 600w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-14.07.45-300x229.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Membentuk tim dalam startup membutuhkan proses yang panjang. Mungkin pada awalnya hanya ada tiga hingga empat orang founder yang mengawali perjalanan. Di tahap ini, budaya kerja akan dibentuk sesuai dengan value yang diyakini oleh founder. Lambat laun seiring berkembangnya startup, maka founder merekrut karyawan baru.</em></p></blockquote>



<p>Dari sini, budaya kerja rawan mengalami perubahan, atau hilang, akibat pertambahan sumber daya manusia. Setiap karyawan baru yang masuk dengan kompetensi masing-masing, bisa jadi juga menerjemahkan budaya startup dengan cara yang berbeda. Pada akhirnya, budaya kerja di startup harus dirumuskan dan didokumentasikan agar apa yang dirumuskan tidak hilang atau diterjemahkan dalam bentuk yang berbeda. Untuk itu, sangat penting bagi startup untuk membuat culture handbook. </p>



<p>Tips saat membuat culture handbook adalah menulis dengan bahasa yang jelas dan ringkas. Usahakan apa yang ditulis di dalam culture handbook tidak bertele-tele atau menimbulkan penafsiran yang berbeda.</p>



<p>Nah, supaya kamu lebih terbayang, seperti apa sih, bentuk culture handbook, cek dulu di artikel berikut ini, ya:</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rumuskan Bersama</h2>



<p>Membuat culture handbook artinya membuat budaya yang akan ‘dipakai’ oleh semua orang yang ada di startup. Agar hasilnya sesuai, maka kamu harus menampung aspirasi dari tim. Tidak perlu semua orang, beberapa perwakilan sudah cukup untuk memberikan ide-ide terkait pembentukan budaya startup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentukan Misi</h2>



<p>Culture handbook berhubungan langsung dengan strategi perusahaan atau produk yang sedang kamu rancang. Culture handbook bahkan lebih dari itu. Sederhananya, dampak apa yang ingin kamu ciptakan melalui budaya kerja? Pertanyaan yang bisa kamu renungkan bersama dalam menentukan misi adalah: bagaimana caranya agar pekerjaan yang dilakukan bisa mengubah suasana kerja menjadi lebih baik?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentukan Values</h2>



<p>Values atau nilai adalah hal-hal yang mendasari misi yang kamu buat. Nilai adalah apa saja yang menurutmu penting dan yang tidak penting. Kamu dapat menulis daftar nilai-nilai yang kamu dan tim yakini. Coret beberapa yang tidak sesuai dan prioritaskan pada values yang relevan diterapkan di dalam startup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentukan Kadar Sukses</h2>



<p>Menentukan misi dan values rasanya seperti melakukan hal-hal yang formalitas, karena terkesan ‘menciptakan hal yang tidak tampak’. Agar terasa lebih konkret, maka kamu harus tentukan kadar kesuksesan dari misi dan nilai yang kamu yakini. Kapan bisa disebut sukses? Apa harapan dari tim tentang hal ini? Intinya, jadikan misi dan nilai sebagai hal-hal yang mudah dan realistis untuk dicapai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentukan Tradisi</h2>



<p>Yang istimewa dalam menentukan culture handbook adalah menentukan tradisi. Budaya bisa mempersatukan banyak orang, tanpa membuat mereka merasa terikat atau terkekang. Untuk itu, kamu dapat ciptakan tradisi khusus untuk membuat tim merasa betah serta tetap produktif dalam bekerja dan menjalin interaksi di startup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentukan Bagaimana Perkembangannya</h2>



<p>Membuat culture handbook bukan berarti digunakan untuk sekali dan selama-lamanya. Budaya tumbuh dan hidup seiring dengan pertumbuhan tim yang ada. Bahasa kerennya sih, “people come and go.”</p>



<p>Bisa jadi hal-hal dari eksternal memicu terjadinya perubahan. Bisa juga perubahan terjadi karena ada kesuksesan yang berkembang dari dalam tim. Atau bahkan, ada kemungkinan perubahan didorong oleh sesuatu hal yang negatif. Karena rentan terhadap perubahan, salah satu tantangan dalam membuat culture handbook adalah membiarkan budaya berkembang sembari mempertahankan nilai aslinya.</p>



<p>Itu tadi beberapa tips tentang bagaimana merumuskan culture handbook dalam startup. Lalu, bagaimana sih, bentuk culture handbook dari startup atau perusahaan digital lainnya? Simak referensi di bawah ini, yuk!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Netflix</h2>



<p>Nilai yang diusung Netflix dalam culture handbook antara lain:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Performa tinggi</li><li>Bebas dan bertanggung jawab</li><li>Konteks, bukan kontrol</li><li>Promosi dan pengembangan</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading">Spotify</h2>



<p>Beberapa poin penting dalam culture handbook Spotify adalah:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Semua tugas harus selesai</li><li>Dilakukan dengan maksimal</li><li>Karyawan harus bahagia</li><li>Pemimpin memberi arahan dan bimbingan untuk mendapatkan solusi</li><li>Keberhasilan dirayakan</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading">Asana</h2>



<p>Culture handbook di Asana cukup unik dan menekankan poin-poin seperti:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Mindfulness</li><li>Ketenangan hati</li><li>Berinvestasi pada diri sendiri dan satu sama lain secara efisien</li><li>Kurangi ego</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading">Hubspot</h2>



<p>Mereka menyebut culture handbook versinya dengan Hubspot Culture Code:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Berkomitmen ‘gila-gilaan’ untuk misi dan metrik</li><li>Kami melihat sesuatu sebagai jangka panjang dan memberikan solusi untuk pelanggan</li><li>Kami berbagi secara terbuka dan transparan</li><li>Kami percaya keuntungan terbaik adalah memiliki talenta yang luar biasa</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-15.05.34-1024x732.png" alt="" class="wp-image-5849" width="584" height="417" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-15.05.34-1024x732.png 1024w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-15.05.34-300x215.png 300w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-15.05.34-768x549.png 768w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/10/Screen-Shot-2021-10-30-at-15.05.34.png 1418w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></figure></div>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5</strong><meta charset="utf-8"><strong>: Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-harus-membuat-culture-handbook/">Mengapa Startup Harus Membuat Culture Handbook?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Startup Culture vs Corporate Culture, Mana yang Cocok Untukmu?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/startup-culture-vs-corporate-culture-mana-yang-cocok-untukmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2021 07:03:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5845</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika berbicara tentang budaya startup dengan budaya di perusahaan, pada dasarnya mereka punya beberapa kesamaan. Seperti contohnya nilai-nilai yang dianut, tujuan bisnis dan pencapaian kerja, serta etika bisnis. Namun, startup dan perusahaan dalam cakupan lebih luas, ternyata memiliki cara yang berbeda dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Beberapa kategori dan perbedaan tentang budaya kerja akan dijabarkan menggunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/startup-culture-vs-corporate-culture-mana-yang-cocok-untukmu/">Startup Culture vs Corporate Culture, Mana yang Cocok Untukmu?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.58.59.png" alt="" class="wp-image-6087" width="840" height="701" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.58.59.png 608w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.58.59-300x250.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Jika berbicara tentang budaya startup dengan budaya di perusahaan, pada dasarnya mereka punya beberapa kesamaan. Seperti contohnya nilai-nilai yang dianut, tujuan bisnis dan pencapaian kerja, serta etika bisnis. Namun, startup dan perusahaan dalam cakupan lebih luas, ternyata memiliki cara yang berbeda dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Beberapa kategori dan perbedaan tentang budaya kerja akan dijabarkan menggunakan ilustrasi<br>seperti berikut:</p></blockquote>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Kamu akan cocok dengan budaya di startup jika…</span></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><em>Kamu lebih menyukai suasana kerja yang bergerak cepat.</em></h3>



<p>Di startup, kamu bisa mengerjakan banyak hal, selain di luar tanggung jawab utama. Suasana kerja di startup jauh dari mengerjakan hal yang serba rutin atau mengikuti template. Ini disebabkan karena tantangan yang besar sebagai perusahaan yang baru, sehingga mengharuskan para karyawan serta tim untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Agility sangat diutamakan dalam budaya kerja di startup, karena jika bekerja dengan lambat, artinya sama dengan memberi kesempatan lebih bagi kompetitor untuk selangkah lebih maju daripada startup milikmu. Di startup, kamu sering kali didorong untuk mengemukakan ide-ide segar dan out of the box.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bekerja di startup artinya kamu berkomitmen untuk mengambil banyak tanggung jawab.</h3>



<p>Maksudnya adalah, kamu tidak hanya menjalankan tugas individu saja, tapi punya peran sangat besar dalam tanggung jawab tim. Ini dikarenakan di startup, biasanya jumlah timnya lebih terbatas daripada di perusahaan, sehingga keputusan sekecil apa pun dampaknya akan sangat terasa. Bekerja dengan tim yang lebih kecil, berarti mau mengambil konsekuensi untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab dan terlibat dengan banyak pekerjaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Budaya di startup memungkinkanmu untuk bergerak lebih cepat, sehingga ada peluang maju untuk lebih cepat.</h3>



<p>Tidak jarang orang yang bekerja di startup pada level paling bawah, seiring dengan peningkatan kompetensi karena sudah berhasil mengambil tanggung jawab yang banyak, ia bisa dengan cepat naik ke level senior.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Dari segi komunikasi, interaksi antar individu atau lintas tim/divisi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan lebih mudah.</h3>



<p>Budaya startup cenderung casual sehingga memungkinkan individu untuk melakukan komunikasi dengan atasan, Vice President, bahkan menyampaikan pendapat langsung kepada founder atau C-level.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Karyawan dituntut untuk Go Extra Miles.</h3>



<p>Seringkali, dalam merintis bisnis, perusahaan belum bisa meluangkan banyak anggaran dalam pelaksanaan operasional, sehingga <strong>karyawan dituntut untuk go extra miles</strong>, misalnya saja dengan merangkap banyak jabatan, mengerjakan banyak tugas, dan menyelesaikan tanggung jawab dengan cara yang mengeluarkan biaya seminimal mungkin. Dengan ini, maka kamu dilatih untuk berkembang dan bekerja dengan kreativitas. Di startup, kompensasi mungkin tidak sebesar seperti jika bekerja di perusahaan. Bisa jadi mendapatkan tunjangan yang minimal. Namun benefit yang bisa didapatkan lebih kepada fleksibilitas waktu, suasana kerja yang casual, snack atau makan siang gratis, hingga akses untuk remote working.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.59.51.png" alt="" class="wp-image-6088" width="841" height="651" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.59.51.png 526w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.59.51-300x233.png 300w" sizes="(max-width: 841px) 100vw, 841px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Kamu akan lebih cocok dengan budaya di perusahaan jika…</span></h2>



<h3 class="wp-block-heading">Kamu lebih menyukai stabilitas dalam bekerja dan merasa enjoy mengerjakan hal-hal yang bersifat rutin.</h3>



<p>Dalam lingkungan perusahaan, peran dalam bekerja pada umumnya lebih jelas karena hirarki yang lebih terstruktur. Ini tidak memungkinkanmu untuk eksplorasi lebih jauh tentang pekerjaan lainnya sehingga lebih memudahkanmu untuk fokus dengan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Perusahaan dengan cakupan yang lebih besar, biasanya memiliki aturan yang semakin ketat dan tidak rentan terhadap benturan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Di perusahaan besar, setiap orang punya tanggung jawabnya masing-masing.</h3>



<p>Perbedaannya, jika di startup, kamu bisa saja mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi ranahmu asalkan demi kemajuan tim. Namun, di perusahaan besar, peran antar individu ditetapkan dengan jelas. Ini menimbulkan kesan bahwa peran individu menjadi kurang terlihat dibandingkan dengan cakupan perusahaan yang sangat besar. Karena dilibatkan dalam tim yang jumlahnya banyak, kamu jadi bisa lebih efektif dan menyelesaikan apa yang menjadi peran dan tanggung jawabmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Budaya perusahaan mencerminkan kestabilan dan juga ritme yang lebih teratur.</h3>



<p>Untuk peningkatan karir di perusahaan, pada umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan peningkatan karir di startup. Hal ini bisa terjadi karena jalur serta struktur organisasi di perusahaan lebih kompleks.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alur komunikasi yang lebih panjang namun memiliki hirarki yang terstruktur karena ada SOP (Standar Operational Procedure) yang mengatur.</h3>



<p>Pada umumnya, karyawan dengan level staff akan lebih sulit untuk berkomunikasi langsung dengan manager, founder, atau C-level.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Budaya kerja di perusahaan lebih mencerminkan kemapanan.</h3>



<p>Perbedaannya, jika di startup, kamu bisa saja mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi ranahmu asalkan demi kemajuan tim. Namun, di perusahaan besar, peran antar individu ditetapkan dengan jelas. Ini menimbulkan kesan bahwa peran individu menjadi kurang terlihat dibandingkan dengan cakupan perusahaan yang sangat besar. Karena dilibatkan dalam tim yang jumlahnya banyak, kamu jadi bisa lebih efektif dan menyelesaikan apa yang menjadi peran dan tanggung jawabmu.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5</strong><meta charset="utf-8"><strong>: Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/startup-culture-vs-corporate-culture-mana-yang-cocok-untukmu/">Startup Culture vs Corporate Culture, Mana yang Cocok Untukmu?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3 Alasan Mengapa Investasi dalam Budaya Kerja Sangat Penting</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/3-alasan-mengapa-investasi-dalam-budaya-kerja-sangat-penting/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2021 06:56:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[Tim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=5843</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada dasarnya, budaya bukan sesuatu yang abstrak. Mereka mungkin tidak dapat dilihat secara langsung, tapi memberikan dampak besar terhadap keseluruhan elemen organisasi atau perusahaan. Jika boleh dibandingkan, budaya hampir mirip dengan soft skill. Tidak bisa dilihat secara langsung, tapi punya peran besar dalam meningkatkan kemampuan seseorang. Budaya perusahaan adalah sekumpulan dari nilai, tujuan, tindakan, norma, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/3-alasan-mengapa-investasi-dalam-budaya-kerja-sangat-penting/">3 Alasan Mengapa Investasi dalam Budaya Kerja Sangat Penting</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.53.33.png" alt="" class="wp-image-6082" width="842" height="615" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.53.33.png 615w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.53.33-300x220.png 300w" sizes="(max-width: 842px) 100vw, 842px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Pada dasarnya, budaya bukan sesuatu yang abstrak. Mereka mungkin tidak dapat dilihat secara langsung, tapi memberikan dampak besar terhadap keseluruhan elemen organisasi atau perusahaan.</em></p></blockquote>



<p>Jika boleh dibandingkan, budaya hampir mirip dengan soft skill. Tidak bisa dilihat secara langsung, tapi punya peran besar dalam meningkatkan kemampuan seseorang.</p>



<p>Budaya perusahaan adalah sekumpulan dari nilai, tujuan, tindakan, norma, dan karakter dari perusahaan tersebut. Yang juga termasuk dalam budaya adalah aturan kerja serta harapan para karyawan dan konsumen terhadap perusahaan. Lalu, seberapa penting budaya kerja mempengaruhi perusahaan?</p>



<p>Menurut artikel yang dilansir dari Harvard Business Review, budaya adalah apa yang terjadi saat CEO meninggalkan ruangan kerja dan menyisakan para karyawan dalam sebuah kantor.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Kira-kira, apa yang akan para karyawan ini lakukan?</em></p><p><em>Bagaimana mereka menjalin interaksi satu sama lain?</em></p><p><em>Bagaimana mereka mengerjakan tugas dan menghadapi tantangan?</em></p><p><em>Apakah mereka merasa nyaman dalam mengekspresikan diri dan gagasannya saat di kantor?</em></p></blockquote>



<p>Selanjutnya, mari kita ketahui mengapa startup perlu mempertimbangkan untuk berinvestasi dari segi waktu, tenaga, dan biaya dalam mengembangkan budaya kerja mulai dari saat ini:</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dapat Kualitas Kandidat yang Mumpuni</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.54.38.png" alt="" class="wp-image-6083" width="840" height="467" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.54.38.png 528w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.54.38-300x166.png 300w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /></figure>



<p>Orang-orang pada umumnya mencari perusahaan dengan reputasi dan kredibilitas yang baik. Perusahaan yang membangun budaya kerjanya, akan menarik orang-orang tertentu yang sesuai dengan kriteria serta penjelasan tentang budaya kerja yang mereka cantumkan. Bagi calon kandidat yang ingin mendaftar kerja, mereka sebagian akan menyortir atau menyeleksi, perusahaan mana yang punya visi, misi, dan budaya yang sejalan dengan apa yang mereka yakini. Dengan kata lain, budaya kerja sangat berperan sebagai faktor untuk menarik minat kandidat atau pelamar kerja dengan kriteria yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.</p>



<p>Menurut penelitian dari Deloitte Millennial Survey pada tahun 2018, yang sering terjadi terutama bagi generasi millenial dan Gen Z yakni cenderung mencari pekerjaan yang dapat membantu mereka berkembang secara personal dan profesional. Oleh karena itu, gaji dan tunjangan bukan hanya satu-satunya patokan yang dicari oleh calon karyawan. Dengan begitu, budaya perusahaan yang lebih baik, akan menyaring kandidat yang lebih baik. Ini menjadi alasan mengapa penting bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam budaya kerja yang positif dan dapat membangkitkan semangat para karyawannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meningkatkan Performa Kerja atau Kinerja Karyawan</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.07.png" alt="" class="wp-image-6084" width="841" height="428" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.07.png 529w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.07-300x153.png 300w" sizes="(max-width: 841px) 100vw, 841px" /></figure>



<p>Tahukah kamu, bahwa karyawan yang bahagia sangat mempengaruhi produktivitas kerja mereka? Kebahagiaan karyawan bisa ditingkatkan dengan menyusun budaya kerja yang sesuai dengan visi perusahaan.</p>



<p>Penelitian yang dilakukan oleh New Century Financial Corporation menunjukkan bahwa karyawan yang bahagia, performa kerjanya akan terlihat lebih baik. Karyawan yang bahagia menunjukkan performa 20% lebih baik dan menghasilkan profit 1.2%-1,7% lebih besar daripada perusahaan sejenis.</p>



<p>Selain itu, terdapat studi menarik lainnya yang dikemukakan oleh Departemen Ekonomi dari University of Warwick, bahwa karyawan yang bahagia 12% lebih produktif dari rata-rata karyawan yang lain. Bagaimana dengan sisanya? Karyawan yang tidak bahagia menunjukkan kinerja 10% kurang produktif. Jika berbicara dari segi pendapatan, penelitian yang dilakukan oleh James L. Heskett dan John Kotter dari Harvard Business School, menunjukkan bahwa perusahaan dengan budaya yang kuat menghasilkan pendapatan 4x lebih besar dibandingkan perusahaan yang tidak membangun budaya kerja. Penelitian ini akhirnya diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Corporate Culture and Performance.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Membangun Loyalitas Karyawan</h2>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.37.png" alt="" class="wp-image-6085" width="839" height="461" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.37.png 532w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-01-at-13.55.37-300x165.png 300w" sizes="(max-width: 839px) 100vw, 839px" /></figure>



<p>Karyawan yang memahami tentang budaya kerja di perusahaannya, cenderung lebih loyal dan mau berinteraksi lebih banyak dan melibatkan diri dalam memberikan kontribusi perusahaan. Berinvestasi lebih terhadap budaya perusahaan sama artinya dengan merencanakan biaya perekrutan secara lebih efektif. Perusahaan, terutama divisi HRD tidak perlu melakukan pemborosan dari segi wawancara dan merekrut kandidat baru.</p>



<p>Menanamkan budaya perusahaan, sama artinya dengan memberikan suntikan semangat kepada karyawan. Mereka akan rela datang lebih pagi dan pulang agak terlambat karena memiliki rasa memiliki dan antusias yang tinggi. Bahkan, ketika kondisi perusahaan sedang berada di fase yang kurang baik, karyawan akan berusaha setia dan tetap percaya dengan misi perusahaan. Sebaliknya, jika perusahaan tidak punya budaya kerja, para karyawan cenderung akan mencari pekerjaan baru karena mereka tidak nyaman dan tidak betah terhadap lingkungan kerja dan budaya perusahaan yang dijalani.</p>



<p>Dari penjelasan di atas, sekarang kamu dan teman-temanmu memahami mengapa investasi dalam budaya adalah salah satu tindakan nyata untuk mendapatkan kandidat karyawan yang berkualitas, meningkatkan pendapatan, branding, kinerja tim, hingga loyalitas karyawan. Masa depan startupmu bisa jadi bergantung pada budaya kerja yang kamu bangun, jadi sekarang tidak perlu ragu lagi untuk berinvestasi di dalamnya, ya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Tidak ada formula ajaib untuk budaya perusahaan yang hebat. Kuncinya adalah memperlakukan staf Anda sebagaimana Anda ingin diperlakukan.</em></p><cite>Richard Branson, Founder of Virgin Group</cite></blockquote>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p>Artikel ini telah terbit pada&nbsp;<strong>Buku Saku RINTISAN Edisi 5</strong><meta charset="utf-8"><strong>: Budaya Startup</strong>. Silakan&nbsp;<code><a href="https://1000startupdigital.id/rintisan/">klik link ini</a></code>&nbsp;untuk membaca artikel eksklusif lainnya di RINTISAN.</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/3-alasan-mengapa-investasi-dalam-budaya-kerja-sangat-penting/">3 Alasan Mengapa Investasi dalam Budaya Kerja Sangat Penting</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
