<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Business Model Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<atom:link href="https://1000startupdigital.id/category/business-model/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://1000startupdigital.id/category/business-model/</link>
	<description>Rintis startupmu bersama mentor &#38; praktisi digital</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 03:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.3</generator>

<image>
	<url>https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/08/cropped-ICON-1-32x32.png</url>
	<title>Business Model Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<link>https://1000startupdigital.id/category/business-model/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lean Startup: Strategi Efektif untuk Mengurangi Risiko Kegagalan Startupmu</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/lean-startup-strategi-efektif-untuk-mengurangi-risiko-kegagalan-startupmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Oct 2024 03:20:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business Model Canvas]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10943</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat merintis startup, kamu harus siap menghadapi berbagai risiko, termasuk kemungkinan gagal. Statistik menunjukkan bahwa sebanyak 75% startup akhirnya tumbang. Kegagalan ini sering kali disebabkan oleh pendekatan tradisional dalam mengembangkan bisnis, mulai dari membuat rencana bisnis yang rinci hingga meluncurkan produk yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun, ada metode yang menawarkan cara lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/lean-startup-strategi-efektif-untuk-mengurangi-risiko-kegagalan-startupmu/">Lean Startup: Strategi Efektif untuk Mengurangi Risiko Kegagalan Startupmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat merintis startup, kamu harus siap menghadapi berbagai risiko, termasuk kemungkinan gagal. Statistik menunjukkan bahwa sebanyak 75% startup akhirnya tumbang. Kegagalan ini sering kali disebabkan oleh pendekatan tradisional dalam mengembangkan bisnis, mulai dari membuat rencana bisnis yang rinci hingga meluncurkan produk yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun, ada metode yang menawarkan cara lebih adaptif dan efisien untuk mengurangi risiko ini, yaitu metode&nbsp;<em>lean startup</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="a30a">Apa Itu Lean Startup?</h2>



<p id="2394">Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami apa itu&nbsp;<em>lean startup</em>. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Steve Blank, seorang ahli dalam teknologi dan pengembangan bisnis.<em>&nbsp;Lean startup</em>&nbsp;menekankan eksperimen cepat,&nbsp;<em>feedback&nbsp;</em>pelanggan, dan iterasi berkelanjutan untuk meminimalkan risiko kegagalan. Alih-alih berfokus pada perencanaan yang panjang, metode ini mendorong kamu, sebagai founder, untuk belajar cepat dari pasar dan mengambil keputusan berdasarkan data nyata.</p>



<p id="63bb">Inti dari metode<em>&nbsp;lean startup</em>&nbsp;adalah mengembangkan&nbsp;<em>Minimum Viable Product</em>&nbsp;(MVP) atau produk awal dengan fitur minimal yang memungkinkan kamu menguji asumsi bisnis dan memperoleh umpan balik dari pelanggan sebelum melakukan pengembangan lebih lanjut. Dengan MVP, kamu bisa memahami apa yang diinginkan pelanggan tanpa harus menghabiskan terlalu banyak waktu dan biaya. Jika ternyata asumsi awal kurang tepat, kamu bisa melakukan perubahan atau&nbsp;<em>pivot</em>&nbsp;sesuai kebutuhan pasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="e740">Mengapa Lean Startup Penting?</h2>



<p id="b365">Metode tradisional mengharuskan founder membuat rencana bisnis lengkap dengan proyeksi keuangan hingga lima tahun ke depan. Tetapi, dalam praktiknya, rencana ini sering kali tidak dapat bertahan di tengah dinamika pasar yang cepat berubah.<em>&nbsp;Lean startup</em>&nbsp;hadir untuk menjawab masalah ini dengan mengedepankan tiga prinsip utama:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Uji Coba daripada Rencana Detail<br></strong>Pada tahap awal, kamu biasanya hanya memiliki serangkaian hipotesis atau dugaan yang belum teruji.<em> Lean startup</em> mendorong kamu untuk menyusun hipotesis ini dalam sebuah <em>business model canvas</em> yang mudah diubah-ubah dan disesuaikan. <em>Business model canvas</em> membantu kamu melihat gambaran bisnis secara menyeluruh dalam satu halaman, termasuk segmentasi pelanggan, nilai produk, saluran distribusi, hingga aliran pendapatan.</li>



<li><strong>Validasi Hipotesis dengan Umpan Balik Pelanggan<br></strong>Pendekatan ini juga mengajak founder untuk keluar dan bertemu langsung dengan pelanggan potensial. Dari interaksi ini, kamu akan mendapatkan wawasan yang lebih konkret tentang kebutuhan dan preferensi mereka. Umpan balik pelanggan sangat penting dalam menguji hipotesis awal dan memastikan produk yang kamu tawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar.</li>



<li><strong>Pengembangan Agile<br></strong>Tidak seperti metode pengembangan tradisional yang bersifat linier dan memakan waktu, <em>agile development</em> memungkinkan produk dikembangkan secara bertahap dan responsif. Dalam setiap iterasi, kamu dapat terus memperbaiki produk berdasarkan umpan balik yang diterima dari pelanggan, sehingga menghemat waktu dan biaya.</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading" id="0905">Bagaimana Lean Startup Membantu Founder?</h2>



<p id="863a">Bagi para founder startup tahap awal, lean startup menawarkan pendekatan yang lebih realistis dan fleksibel. Beberapa manfaat dari metode ini antara lain:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Efisiensi Biaya dan Waktu</strong><br>Mengembangkan MVP dan melakukan iterasi memungkinkan kamu untuk mencoba berbagai fitur dan menghapus yang tidak efektif tanpa menghabiskan banyak sumber daya.</li>



<li><strong>Mengurangi Risiko Kegagalan</strong><br>Dengan terus belajar dari umpan balik pelanggan, kamu bisa menghindari kesalahan besar yang biasa muncul dari asumsi yang keliru. Pendekatan ini membuat kamu lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar.</li>



<li><strong>Kemampuan untuk Pivot Cepat</strong><br>Jika ide awal terbukti kurang efektif,<em> lean startu</em>p memberikan ruang bagi kamu untuk melakukan pivot atau perubahan arah bisnis tanpa harus mulai dari nol.</li>
</ul>



<p id="c680">Pendekatan<em>&nbsp;lean startup</em>&nbsp;juga membangun pola pikir kritis yang selalu siap menghadapi perubahan. Sebagai founder, kamu didorong untuk tetap fleksibel dan tidak terjebak dalam rencana kaku. Dalam dunia yang terus berubah seperti sekarang, kemampuan untuk belajar dari kegagalan dan segera beradaptasi sangatlah penting.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="c094">Mengapa Kamu Perlu Menerapkan Lean Startup?</h2>



<p id="2703"><em>Lean startup</em>&nbsp;telah mengubah cara pandang dunia bisnis terhadap kewirausahaan. Di masa lalu, bisnis baru sering kali dinilai berdasarkan rencana bisnis yang rinci. Namun,&nbsp;<em>lean startup&nbsp;</em>menunjukkan bahwa startup bukanlah versi kecil dari perusahaan besar. Sebaliknya, startup adalah organisasi sementara yang berfungsi untuk mencari model bisnis yang berulang dan dapat ditingkatkan.</p>



<p id="15a6">Bagi kamu yang baru memulai, menerapkan prinsip-prinsip<em>&nbsp;lean startup</em>&nbsp;bisa menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan meningkatkan peluang sukses. Metode ini menawarkan cara yang lebih responsif dalam mengembangkan produk yang benar-benar diinginkan oleh pasar, dan memberi kamu fleksibilitas untuk berkembang di tengah dinamika yang cepat berubah.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="4f83"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="7fac"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em><a href="https://medium.com/@yuristaandina?source=post_page---byline--5e90e6804229--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/lean-startup-strategi-efektif-untuk-mengurangi-risiko-kegagalan-startupmu/">Lean Startup: Strategi Efektif untuk Mengurangi Risiko Kegagalan Startupmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>7 Pertanyaan yang Perlu Kamu Pastikan Sebelum Menjalin Kemitraan Bisnis</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/7-pertanyaan-yang-perlu-kamu-pastikan-sebelum-menjalin-kemitraan-bisnis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Oct 2023 04:27:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[Team Work]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business Partnerships]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam dunia bisnis yang kompetitif, menjalin kemitraan bisnis adalah salah satu langkah strategis yang bisa kamu lakukan. Namun, sebelum kamu terjun ke dalam kolaborasi tersebut, ada beberapa pertanyaan yang perlu kamu pertimbangkan dengan matang. Lewat sederet pertanyaan ini, kamu dapat memastikan bahwa kemitraan bisnis yang kamu bangun memiliki dasar yang kuat dan berpotensi sukses di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/7-pertanyaan-yang-perlu-kamu-pastikan-sebelum-menjalin-kemitraan-bisnis/">7 Pertanyaan yang Perlu Kamu Pastikan Sebelum Menjalin Kemitraan Bisnis</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="f92f">Dalam dunia bisnis yang kompetitif, menjalin kemitraan bisnis adalah salah satu langkah strategis yang bisa kamu lakukan. Namun, sebelum kamu terjun ke dalam kolaborasi tersebut, ada beberapa pertanyaan yang perlu kamu pertimbangkan dengan matang. Lewat sederet pertanyaan ini, kamu dapat memastikan bahwa kemitraan bisnis yang kamu bangun memiliki dasar yang kuat dan berpotensi sukses di masa depan. Yuk, lihat dari daftar pertanyaan yang pertama!</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="87d3">1. Apakah kita punya tujuan yang sama?</h2>



<p id="d466">Meskipun keuangan biasanya menjadi motivasi bersama, seberapa besar dan seberapa keras seseorang menginginkannya perlu menjadi pertimbangan penting. Seringkali mitra datang dengan perbedaan finansial yang signifikan denganmu.</p>



<p id="b0ae">Misalnya ada dua orang yang terlibat dalam suatu bisnis startup, di mana salah satu mitra telah sukses secara finansial sebelumnya. Bagi mitra tersebut, bisnis startup ini hanyalah suatu hal yang santai atau tidak menjadi prioritasnya. Namun, mitra yang lain memiliki kondisi sebaliknya, sehingga mereka sangat butuh bisnis tersebut bisa sukses.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="2216">2. Seberapa keras kita akan bekerja?</h2>



<p id="655e">Pertimbangan ini termasuk seberapa banyak jam kerja mereka, apakah mereka akan menjawab email di malam hari atau akhir pekan, atau apakah mereka bersedia untuk bekerja saat hari libur ketika dibutuhkan.</p>



<p id="b6c0">Mengatasi aspek umum ini sangat penting untuk membentuk ekspektasi dan kesepakatan konkret sejak awal. Adanya perbedaan dalam kebiasaan kerja dapat diatasi dengan memberikan kompensasi yang sesuai. Dalam konteks ini, kesetaraan tidak berarti adil secara ekuitas.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="7bb3">3. Bagaimana kita menghargai kontribusi masing-masing?</h2>



<p id="ca55">Ada sebuah contoh kasus di mana dalam perusahaan pakaian ada dua mitra yang memiliki peran berbeda, yakni salah satu mengurus desain, sedangkan yang lain mengurus bisnis. Meskipun perusahaannya sukses, tetapi ada kalanya perasaan tidak dihargai muncul di antara kedua mitra tersebut. Mereka memiliki pandangan berbeda tentang nilai kontribusi mereka. Salah satu mitra berpendapat bahwa desainnya sangat penting, sementara mitra lainnya berpendapat bahwa penjualan produk yang dihasilkan dari desain itulah yang menjadi&nbsp;<em>value&nbsp;</em>utama.</p>



<p id="8450">Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengakui bahwa semua kontribusi dari setiap pihak sangat berharga dan layak mendapat pengakuan.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="0740">4. Bagaimana cara kita dalam mengambil keputusan sulit?</h2>



<p id="59bb">Situasi di mana kamu dan mitra dituntut untuk membuat keputusan sulit mungkin akan muncul di masa mendatang. Sebelum situasi tersebut terjadi, penting bagi kamu dan mitra untuk menentukan cara mengambil keputusan yang tepat di situasi tersebut.</p>



<p id="7197">Mitra bisnis seringkali membagi hak pengambilan keputusan, misalnya satu mitra bertanggung jawab atas keputusan pemasaran, sedangkan mitra lainnya bertanggung jawab atas keputusan terkait&nbsp;<em>human resources</em>. Namun, pertimbangkan juga bagaimana cara untuk mengambil keputusan sulit yang melibatkan perbedaan antara kamu dan mitra, terutama keputusan yang berisiko tinggi.</p>



<p id="bfde">Sebaiknya kamu dan mitra perlu menetapkan rencana atau mekanisme khusus untuk mengatasi perbedaan pendapat yang kuat dalam mengambil keputusan sulit tersebut sejak awal agar tidak mengganggu stabilitas dan keberlanjutan bisnis di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="c9e2">5. Bagaimana cara kita mengatasi konflik?</h2>



<p id="7e74">Setiap orang memiliki gaya mengatasi konflik yang berbeda-beda. Beberapa orang merasa nyaman dengan perdebatan yang sengit, sementara orang lain mungkin merasa bahwa perdebatan sengit sebagai sesuatu yang menakutkan atau mengganggu. Nah, sebelum konflik serius pertama kali muncul, penting bagi kamu dan mitra untuk memahami gaya penyelesaian konflik satu sama lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="04bf">6. Apa strategi yang kita gunakan dalam mengelola bisnis?</h2>



<p id="1fda">Bagaimana rencana bisnis disusun dan diimplementasikan dapat menjadi sumber konflik antara kamu dan mitra, apalagi jika keduanya memiliki pandangan berbeda. Dalam kasus ini, komunikasi terbuka, pengertian satu sama lain, dan bersedia untuk menemukan kesepakatan adalah kunci dalam mengatasi risiko terjadinya konflik dalam kemitraan bisnis.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="1e93">7. Bagaimana akhir dari kemitraan bisnis kita?</h2>



<p id="32aa">Setiap kemitraan pada akhirnya akan berakhir, entah itu berakhir dengan kegembiraan, kesedihan, atau justru gabungan keduanya. Oleh karena itu, penting bagi kamu dan mitra bisnis untuk merencanakan bagaimana kemitraan tersebut akan berakhir sejak awal. Buatlah perencanaan seperti pembagian aset, kepemilikan, dan hak kekayaan intelektual.</p>



<p id="0f18">Selain itu, penting juga untuk menetapkan perjanjian mengenai protokol komunikasi saat salah satu atau beberapa mitra ingin keluar dari kemitraan, serta perjanjian tentang larangan untuk menggaet karyawan atau pelanggan yang sudah ada. Dengan memiliki perjanjian yang jelas, kamu dan mitra dapat berpisah dengan damai.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="2263"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="729f"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="9a3d"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@yuristaandina?source=post_page-----0be4e4b4d99e--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/7-pertanyaan-yang-perlu-kamu-pastikan-sebelum-menjalin-kemitraan-bisnis/">7 Pertanyaan yang Perlu Kamu Pastikan Sebelum Menjalin Kemitraan Bisnis</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dear Founder, Kamu Pasti Relate dengan Keresahan Ini!</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/dear-founder-kamu-pasti-relate-dengan-keresahan-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Sep 2023 01:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[Mindset]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=9939</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai sosok di balik berdirinya startup, menjadi&#160;founder&#160;ternyata punya kisahnya sendiri yang jarang diketahui orang lain. Keresahan inilah yang membuat kita semakin&#160;respect&#160;akan kerja keras seorang&#160;founder&#160;yang punya andil besar dalam perkembangan bisnis atau startup. Lalu, apa saja keresahan yang hanya dipahami oleh seorang&#160;founder? Jauh di dalam diri seorang&#160;founder, ada rasa kesepian yang datang menghantui. Kamu harus berjuang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/dear-founder-kamu-pasti-relate-dengan-keresahan-ini/">Dear Founder, Kamu Pasti Relate dengan Keresahan Ini!</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="7cea">Sebagai sosok di balik berdirinya startup, menjadi&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;ternyata punya kisahnya sendiri yang jarang diketahui orang lain. Keresahan inilah yang membuat kita semakin&nbsp;<em>respect</em>&nbsp;akan kerja keras seorang&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;yang punya andil besar dalam perkembangan bisnis atau startup.</p>



<p id="126e">Lalu, apa saja keresahan yang hanya dipahami oleh seorang&nbsp;<em>founder</em>?</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Merasa Kesepian</strong></li>
</ol>



<p id="0a95">Jauh di dalam diri seorang<em>&nbsp;founder</em>, ada rasa kesepian yang datang menghantui. Kamu harus berjuang membesarkan startup. Kamu juga tidak bisa sembarangan ‘mengeluh’ atau bercerita tentang permasalahanmu ke orang lain karena tidak semua orang mengalami hal yang sama. Jika dilihat sekilas, tampaknya&nbsp;<em>founder&nbsp;</em>dikelilingi oleh partner kerja dan banyak orang yang punya hubungan baik dengan mereka. Namun sejatinya, hanya sedikit dari mereka yang bisa disebut ‘teman’. Saat semua karyawan di startup pergi makan siang, mereka bisa saja membicarakan banyak hal, mengeluh tentang pekerjaan, dan lain-lain. Namun tidak dengan&nbsp;<em>founder.&nbsp;</em>Kamu tidak bisa pergi makan siang dan mengeluh dengan sembarang orang tentang apa yang menjadi kegelisahanmu.</p>



<p id="8932"><strong>2. Sering Mengalami Keraguan</strong></p>



<p id="0722">Sebagai salah satu pengambil keputusan, maka setiap jalan yang dipilih harus tepat bagi semua pihak. Padahal, kamu tidak akan pernah tahu, apakah pilihanmu paling tepat sehingga rasa ragu kerap muncul ketika kamu dihadapkan pada banyaknya persimpangan. Bagaimanapun,&nbsp;<em>founder&nbsp;</em>tidak akan pernah tahu apakah yang mereka lakukan berhasil atau tidak. Yang hanya bisa dilakukan adalah berupaya semaksimal mungkin dan berharap semuanya akan berjalan (entah nanti jalannya macet, banyak gelombang, atau ‘mulus’, sekali lagi kita tidak akan pernah tahu).</p>



<p id="0b4b"><strong>3. Berusaha untuk Tidak Egois</strong></p>



<p id="3708">Memikirkan kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri. Itulah tugas saat kamu jadi<em>&nbsp;founder.</em>&nbsp;Harus rela berkorban baik itu dari segi waktu, materi, tenaga, dan sumber daya apa saja yang kamu miliki.&nbsp;<em>Founder&nbsp;</em>adalah pihak terakhir yang menerima pembayaran, yang meluangkan banyak energi dan pemikirannya untuk kebaikan startup, dan yang berjuang ‘mati-matian’ agar startup bisa terus&nbsp;<em>survive.</em></p>



<p id="315d"><strong>4. Belajar Berkawan dengan Kegagalan</strong></p>



<p id="b233"><em>Fail fast, learn fast.</em>&nbsp;Ini yang sering terjadi di startup. Masalahnya, terkadang kegagalan diikuti beberapa situasi lain yang kurang menyenangkan, seperti kecemasan, rasa bersalah, kehilangan uang, sampai pertaruhan integritas.</p>



<p id="fd33"><strong>5. Punya Ikatan</strong></p>



<p id="0616">Menjadi pemilik dari startup, tentu punya rasa ikatan yang besar terhadap apa yang kamu bangun mulai dari nol. Ketika yang lain bisa saja pergi saat merugi, tapi&nbsp;<em>founder&nbsp;</em>harus bangkit dan membangun semangat lagi, bahkan saat kamu kehilangan banyak hal.</p>



<p id="e944">Menjadi<em>&nbsp;founder</em>&nbsp;startup memang tidak mudah. Ada banyak pengorbanan, tapi akan ada banyak peluang dan pengalaman tak terlupakan juga yang datang menantimu. Yang paling penting, kamu bisa berkontribusi untuk banyak orang disekitarmu dengan masalah yang kamu pecahkan. Jadi, terus semangat dan pantang menyerah, ya!</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="dd09"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="df75"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="a44d"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----b46e053f6c7f--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/dear-founder-kamu-pasti-relate-dengan-keresahan-ini/">Dear Founder, Kamu Pasti Relate dengan Keresahan Ini!</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>10 Komponen Paling Penting yang Harus Ada di Business Plan Milikmu</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/10-komponen-paling-penting-yang-harus-ada-di-business-plan-milikmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 May 2023 01:22:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Business Plan]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=9090</guid>

					<description><![CDATA[<p>Business plan bisa jadi senjata mumpuni ketika pendiri startup berhadapan dengan investor. Nggak ‘sekadar’ business plan biasa, kamu perlu menyiapkan business plan yang ampuh agar investor mau mengucurkan dana investasinya. Kamu dapat menuliskan 10 komponen paling penting yang harus kamu cantumkan dalam rencana bisnismu. Berikut adalah penjelasannya, ya. 1. Ringkasan eksekutif Ibarat menonton film, pertama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/10-komponen-paling-penting-yang-harus-ada-di-business-plan-milikmu/">10 Komponen Paling Penting yang Harus Ada di Business Plan Milikmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="637b">Business plan bisa jadi senjata mumpuni ketika pendiri startup berhadapan dengan investor. Nggak ‘sekadar’ business plan biasa, kamu perlu menyiapkan business plan yang ampuh agar investor mau mengucurkan dana investasinya. Kamu dapat menuliskan 10 komponen paling penting yang harus kamu cantumkan dalam rencana bisnismu. Berikut adalah penjelasannya, ya.</p>



<p id="a583"><strong>1. Ringkasan eksekutif</strong></p>



<p id="b33e">Ibarat menonton film, pertama kali kamu akan disuguhi&nbsp;<em>trailer&nbsp;</em>terlebih dahulu, kan? Nah, seperti itu juga fungsi dari ringkasan eksekutif, yaitu inti dari rencana bisnismu, sekaligus memiliki daya tarik agar investor atau pihak lain ingin membaca lebih dalam tentang&nbsp;<em>business plan-</em>mu. Pada umumnya, ada beberapa bagian yang tertulis dalam ringkasan eksekutif, yakni:</p>



<p id="7eb2">a. Pernyataan misi</p>



<p id="9bf5">Kamu bisa menjelaskan mengapa perusahaanmu harus ada, apa fungsinya bagi pelanggan, dan mengapa hal tersebut penting.</p>



<p id="8764">b. Ringkasan produk atau layanan</p>



<p id="ac2a">Tidak perlu ragu untuk menuliskan deskripsi singkat tentang produk atau layananmu. Jangan lupa untuk menekankan keunikan produkmu.</p>



<p id="85eb">c. Ringkasan peluang pasar</p>



<p id="bc04">Tuliskan juga tentang satu masalah utama dan bagaimana hal tersebut dapat diubah menjadi peluang besar untuk perusahaanmu dan investor.</p>



<p id="4500">d. Ringkasan traksi</p>



<p id="ca83">Masukkan seberapa banyak traksi yang bisa kamu dapatkan dan bagaimana hal tersebut memberi pengaruh positif di masa depan.</p>



<p id="b84d">e. Langkah selanjutnya</p>



<p id="8a06">Agar terencana dengan matang, kamu dapat membuat tujuan atau tonggak berikutnya yang ingin dicapai serta artinya bagi pertumbuhan perusahaanmu.</p>



<p id="55f9">f. Pernyataan visi</p>



<p id="9c11">Apa gambaran besar dari bisnismu? Dan mengapa seorang investor atau mitra harus menjadi bagian dari perusahaanmu?</p>



<p id="169f"><strong>2. Sinopsis perusahaan</strong></p>



<p id="7c29">Kamu perlu memberikan gambaran kepada pembaca tentang perusahaanmu secara lebih dalam. Ini bisa dimulai dari, masalah apa yang ingin kamu selesaikan untuk pelangganmu? Apa solusi yang kamu buat untuk mereka?</p>



<p id="0614">Berbicara tentang masalah, kamu perlu menjelaskan dengan seksama mengapa masalahnya penting, dan mengapa itu harus dipecahkan. Setelah itu, jelaskan apa alasan dari munculnya produkmu dan seberapa besar peran produkmu dalam membantu pelanggan. Kamu juga bisa memperkuat penjelasannya dengan menjawab pertanyaan ini, “Bagaimana solusi lain yang ada di pasar tidak dapat mengatasi masalah tersebut sehingga menciptakan kebutuhan besar akan produkmu?”</p>



<p id="77ac"><strong>3. Tinjauan pasar</strong></p>



<p id="bb7f">Dalam bagian ini, kamu perlu memberikan gambaran tentang:</p>



<p id="db6b">&#8211; Ukuran peluang pasar yang kamu sasar</p>



<p id="5ad4">&#8211; Jumlah pertumbuhan yang terjadi di pasar</p>



<p id="a6e5">&#8211; Tren yang mendorong permintaan untuk solusi/produkmu</p>



<p id="f42f"><strong>4. Produk</strong></p>



<p id="d382">Inilah waktu yang tepat untuk membahas secara lengkap tentang produkmu. Kamu bisa membahas mengapa produk barumu memberikan nilai bagi mereka dan dapat memenuhi kebutuhan spesifiknya. Beberapa pertanyaan ini dapat kamu jawab dan tulis di bagian produk:</p>



<p id="2b9c">&#8211; Apa saja fitur utama produkmu?</p>



<p id="fea7">&#8211; Bagaimana pelanggan dapat menggunakan produk atau layananmu?</p>



<p id="f9ae"><strong>5. Model pendapatan</strong></p>



<p id="4b5f">Dalam mengisi bagian ini, kamu dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut sebagai panduan:</p>



<p id="4701">&#8211; Mengapa model pendapatan ini cocok untuk produk/pasar/tahap pengembangan ini?</p>



<p id="a8ab">&#8211; Apakah ada sumber pendapatan tambahan yang kamu harapkan untuk ditambahkan?</p>



<p id="e567">&#8211; Apakah kamu sudah menghasilkan pendapatan sampai saat ini? Jika demikian, berapa banyak?</p>



<p id="ba6a">&#8211; Apa yang telah kamu pelajari dari upaya pendapatan awal?</p>



<p id="e42a">&#8211; Jika belum mulai menghasilkan pendapatan, kapan kamu bisa memperolehnya?</p>



<p id="608c"><strong>6. Model operasi</strong></p>



<p id="4783">Ini adalah tentang bagaimana kamu akan mengelola biaya agar proses operasionalmu berjalan dengan efisien. Beberapa biaya komponen yang penting dimasukkan dalam bagian ini adalah:</p>



<p id="6c04">&#8211; Biaya kritis:</p>



<p id="4154">Merupakan biaya yang membuat atau menghancurkan bisnis apabila tidak dapat mengelola dengan tepat. Ini menentukan kemampuan dalam mencapai profitabilitas.</p>



<p id="91f0">&#8211; Pematangan biaya &amp; milestones</p>



<p id="e3cc">Seringkali biaya kritis akan jatuh tempo dari waktu ke waktu, tumbuh atau menyusut. Misalnya, kamu mungkin hanya dikenakan biaya $10 untuk mendapatkan 1.000 pengguna pertama, tetapi $20 untuk mendapatkan 10.000 pengguna berikutnya. Untuk itu, penting sekali agar investor tahu di titik mana biaya dapat meningkat atau memburuk dari&nbsp;<em>timeline.</em></p>



<p id="6a39">&#8211; Biaya investasi dan efisiensi operasi:</p>



<p id="cd18">Biaya investasi mengacu pada penggunaan modal strategis di mana ROI (Return on Investment) sangat menentukan, sedangkan efisiensi operasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses efisiensi perusahaan. Contohnya, cara mengelola biaya dukungan pelanggan.</p>



<p id="b813"><strong>7. Analisis kompetitif</strong></p>



<p id="527b">Bagian ini memberikan gambaran sekilas tentang pesaingmu di industri yang sama, serta bagaimana perusahaanmu dapat berkompetisi dan memiliki keunggulan daripada pesaing.</p>



<p id="3740">Ketika kamu mengidentifikasi pesaing terberat, tanyakan pada diri sendiri hal ini:</p>



<p id="d47a">&#8211; Produk/layanan apa yang digunakan oleh target market kami untuk mengatasi masalah ini sekarang?</p>



<p id="96cf">&#8211; Produk/layanan apa yang berpotensi mereka gunakan untuk mengatasi masalah ini sekarang?</p>



<p id="6b7f"><strong>8. Tentang pelanggan</strong></p>



<p id="8b53">Ceritakan seberapa jauh kamu mengenal pelangganmu. Siapakah audiensmu? Di mana mereka tinggal? Apakah mereka sensitif akan harga? Apakah mereka menghargai kenyamanan? Apakah mereka adalah golongan yang termasuk&nbsp;<em>early adopter&nbsp;</em>dalam teknologi? Telusuri lebih jauh tentang audiens dan pelangganmu di bagia ini, ya.</p>



<p id="429b"><strong>9. Pendanaan</strong></p>



<p id="fd37">Dalam bagian ini, kamu dapat menjelaskan tentang:</p>



<p id="78ca">&#8211; Tujuan pendanaan</p>



<p id="7cde">&#8211; Bagaimana investor dapat membantumu mencapai tujuan tersebut</p>



<p id="6c52">&#8211; Apa yang harus mereka peroleh saat terlibat dalam perusahaanmu</p>



<p id="d354">&#8211; Proporsi dan penggunaan dana</p>



<p id="4fce"><strong>10. Keuangan</strong></p>



<p id="8f7e">Sampailah kita di bagian paling akhir dan mungkin paling membuat ‘pusing’ para founder, yaitu keuangan. Kamu dapat mengolah dan menyajikan informasi tentang spreadsheet, bagan, tabel, dan grafik yang mudah dicerna dan dipahami. Meskipun ini semua tentang angka, akan tetapi kamu perlu memperkuat penyampaiannya melalui cerita yang menarik. Pada umumnya, kamu dapat menyertakan laporan laba rugi, neraca keuangan, proyeksi arus kas, serta analisis&nbsp;<em>break even point.</em></p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="d5cb"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="0817"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="38cf"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----abca18933347--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/10-komponen-paling-penting-yang-harus-ada-di-business-plan-milikmu/">10 Komponen Paling Penting yang Harus Ada di Business Plan Milikmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Analisis Kompetitif, Strategi Bisnis untuk Hadapi Persaingan Pasar</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/mengenal-analisis-kompetitif-strategi-bisnis-untuk-hadapi-persaingan-pasar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2023 04:38:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[SWOT Analysis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8958</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengenal kompetitor bisnismu sama pentingnya dengan mengenal produk dan pelangganmu. Dengan mengenal kompetitor, kamu jadi tahu apa saja kelemahan yang membuat bisnismu rentan kehilangan pelanggan dan mana bagian produkmu yang harus dikembangkan. Sebab itu, gunakan analisis kompetitif untuk bisa mengenali kompetitormu. Analisis kompetitif adalah cara yang bisa dilakukan untuk menemukan kompetitor bisnismu di pasar dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengenal-analisis-kompetitif-strategi-bisnis-untuk-hadapi-persaingan-pasar/">Mengenal Analisis Kompetitif, Strategi Bisnis untuk Hadapi Persaingan Pasar</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="d9bd">Mengenal kompetitor bisnismu sama pentingnya dengan mengenal produk dan pelangganmu. Dengan mengenal kompetitor, kamu jadi tahu apa saja kelemahan yang membuat bisnismu rentan kehilangan pelanggan dan mana bagian produkmu yang harus dikembangkan. Sebab itu, gunakan analisis kompetitif untuk bisa mengenali kompetitormu.</p>



<p id="01d2">Analisis kompetitif adalah cara yang bisa dilakukan untuk menemukan kompetitor bisnismu di pasar dan menganalisis rencana mereka, sehingga kamu dapat mengidentifikasi apa kekuatan dan kelemahan mereka dibandingkan bisnismu.</p>



<p id="1cf2">Mulai analisis kompetitif dengan analisis SWOT, yakni&nbsp;<em>Strengths&nbsp;</em>(kekuatan)<em>, Weakness&nbsp;</em>(kelemahan)<em>, Opportunities&nbsp;</em>(peluang)<em>,&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>Threats&nbsp;</em>(ancaman)<em>.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading" id="36fa">Strengths (Kekuatan)</h2>



<p id="6a60">Tunjukan sederet kemampuan perusahaanmu dalam memenangkan hati pelanggan, seperti kekuatan bisnismu, aspek-aspek dari produkmu yang terbaik di kelasnya, dan alasan mengapa pelangganmu menyukai produkmu. Jadilah sangat deskriptif dan gali bagaimana kekuatan itu bisa benar-benar menonjol. Berikut contohnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Tinder.&nbsp;</strong>Pelanggan kami lebih memilih Tinder daripada situs kencan lainnya karena mereka bisa mendapatkan respons langsung dari calon jodoh mereka dan&nbsp;<em>user interface&nbsp;</em>aplikasi kami sederhana sehingga menyenangkan saat digunakan.</li>



<li><strong>Subway.&nbsp;</strong>Jumlah&nbsp;<em>outlet&nbsp;</em>kami lebih banyak dibandingkan kompetitor, yakni lebih dari 37.000&nbsp;<em>outlet&nbsp;</em>di seluruh dunia. Produk kami juga dianggap lebih sehat daripada kompetitor.</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading" id="747c">Weakness (Kelemahan)</h2>



<p id="ae57">Setiap bisnis pasti memiliki kelemahan, terutama pada fase startup. Namun, bukan berarti kamu harus mengatakan “bisnis kami sangat rentan, sehingga kami tidak bisa bertahan dalam persaingan pasar” untuk menunjukkan kelemahan bisnismu.</p>



<p id="858c">Artikulasikan kelemahan bisnismu secara mendetail, karena ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa kamu tahu persis apa yang harus kamu lakukan untuk mempertahankan bisnismu.</p>



<p id="5b96">Cara terbaik untuk menyajikan kelemahan bisnismu adalah dengan menyertakan beberapa skenario deklaratif yang paling kamu khawatirkan, sehingga pembaca bisa langsung memahami intinya. Selain itu, buatlah deskripsi yang lebih mendetail tentang mengapa dan bagaimana kelemahan dan ancaman itu penting. Berikut contohnya:</p>



<p id="5e6f">“Perusahaan kami, Amazon, menyadari fakta bahwa pelanggan ingin melihat barang elektronik yang mahal secara langsung sebelum membeli. Kami percaya bahwa kompetitor kami, Best Buy, akan konsisten menarik pelanggan terlebih dahulu dengan toko&nbsp;<em>offline&nbsp;</em>mereka sebelum mereka memutuskan untuk membeli produk kami. Oleh karena itu, kami berencana menawarkan jaminan harga rendah untuk memikat pelanggan Best Buy tetapi melakukan pembelian di Amazon karena biaya yang lebih hemat.”</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="922d">Opportunities (Peluang)</h2>



<p id="9943">Peluang sangat lekat dengan ekspansi, seperti memperbesar atau memperluas bisnismu dengan menciptakan pasar baru, meningkatkan fasilitas, dan lain sebagainya. Saat kompetitormu sedang lengah, kamu harus siap menerkam peluang tersebut agar kamu bisa mendapatkan pangsa pasar baru dan melakukan ekspansi.</p>



<p id="ee6d">Peluang biasanya datang ketika:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Area persaingan bisnismu saat ini sedang lemah.</strong>&nbsp;Manfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisi bisnismu di pasar. Namun, kamu juga harus tetap berhati-hati dan memastikan bahwa langkah yang kamu ambil tidak akan merugikan kompetitor atau melanggar hukum persaingan yang berlaku.</li>



<li><strong>Terjadi perluasan kebutuhan pelangganmu saat ini.&nbsp;</strong>Menjadi visioner dapat membantumu tidak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini, tetapi juga kebutuhan mereka di masa mendatang.</li>



<li><strong>Ada pasar yang belum terjamah.</strong>&nbsp;Ini dapat menjadi sinyal baik bagi perusahaanmu untuk memperluas pangsa pasar atau mengembangkan produk atau layanan baru. Namun, kamu perlu melakukan riset pasar secara teliti dan mempertimbangkan strategi pemasaran dan bisnis yang efektif agar mampu mencapai keberhasilan di pasar tersebut.</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading" id="ac53">Threats (Ancaman)</h2>



<p id="c60e">Cepat atau lambat, kompetitor akan menjadi ancaman serius bagi bisnismu. Kamu mungkin merasa gugup untuk menghadapi ancaman tersebut karena takut akan memengaruhi investor. Sebenarnya ini tentang bagaimana kemampuanmu dalam mengidentifikasi dan mengurangi ancaman tersebut agar investor tetap mempercayakan bisnismu.</p>



<p id="3718">Investor biasanya tertarik pada bisnis yang sangat memahami pasar di mana mereka beroperasi dan bagaimana persaingan terjadi. Mulailah dengan membuat daftar ancaman yang paling berisiko terlebih dahulu, lalu jelaskan bagaimana strategimu untuk menghadapi ancaman tersebut untuk menarik investor.</p>



<p id="3dc7">Kesimpulannya, analisis kompetitif dengan SWOT menjadi alat yang sangat berguna dalam mengembangkan strategi bisnis di tengah persaingan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi bisnis untuk melakukan analisis kompetitif secara teratur agar selalu siap menghadapi persaingan dan mempertahankan keunggulan. Semoga artikel ini dapat menambah wawasanmu dalam berbisnis ya.</p>



<p class="has-text-align-center" id="4570">. . .</p>



<p id="4752"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="6e62"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="f692"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengenal-analisis-kompetitif-strategi-bisnis-untuk-hadapi-persaingan-pasar/">Mengenal Analisis Kompetitif, Strategi Bisnis untuk Hadapi Persaingan Pasar</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Startup Sering Gagal? Ini Alasannya</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-sering-gagal-ini-alasannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2023 04:35:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Startup Lessons]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8683</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahukah kamu, ternyata dua pertiga perusahaan rintisan atau startup tidak pernah menunjukkan hasil yang positif. Kaget mengetahui hal ini, seorang profesor kewirausahaan di Harvard Business School bernama Tom Eisenmann melakukan penelitian tentang hal ini. Eisenmenn menuangkan penelitiannya tentang startup dalam sebuah buku yang berjudul ‘Why Startup Fail’. Berikut adalah ringkasan dari artikelnya yang dilansir dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-sering-gagal-ini-alasannya/">Mengapa Startup Sering Gagal? Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="cbee">Tahukah kamu, ternyata dua pertiga perusahaan rintisan atau startup tidak pernah menunjukkan hasil yang positif. Kaget mengetahui hal ini, seorang profesor kewirausahaan di Harvard Business School bernama Tom Eisenmann melakukan penelitian tentang hal ini. Eisenmenn menuangkan penelitiannya tentang startup dalam sebuah buku yang berjudul ‘Why Startup Fail’. Berikut adalah ringkasan dari artikelnya yang dilansir dari artikel Harvard Business Review.</p>



<p id="e68b">Gagalnya perusahaan tidak selalu tentang pendiri. Ada banyak orang lain yang ikut memegang andil penting dalam kehancuran perusahaan. Sebut saja karyawan, mitra strategis, hingga investor.</p>



<p id="713b">Menurut Eisenmann, VC akan mencari pendiri melalui beberapa karakteristik, antara lain ketangguhan, semangat, pengalaman memimpin tim start-up, dan sebagainya. Terlepas dari kemampuan andal yang dimiliki oleh pendiri, ada pihak lain yang memegang kontribusi besar terhadap kemajuan perusahaan. Atau sebaliknya, berkontribusi dalam menjatuhkan perusahaan. Untuk itu, sangat penting untuk memastikan semua kolaborator dari perusahaan memiliki kemampuan dan sepak terjang yang mumpuni. Ini termasuk pemangku kepentingan yang luas, karyawan, mitra strategis, dan investor, semuanya dapat berperan dalam kejatuhan usaha.</p>



<p id="e028">Kemudian, awal pembentukan startup juga mempengaruhi berhasil atau gagalnya perusahaan. Ada langkah penting yang umumnya ditempuh oleh para pendiri, yaitu melalui&nbsp;<em>lean startup.&nbsp;</em>Salah satu tahapan yang kerap terlewatkan oleh pendiri adalah meneliti kebutuhan pelanggan sebelum menguji produk. Kebutuhan pasar dan kebutuhan pelanggan adalah yang utama. Jadi, produk dengan fitur yang luar biasa namun tidak menjawab kebutuhan pasar dan pelanggan sama dengan sia-sia.</p>



<p id="fd8e">Menurut Eisenmenn, banyak pengusaha yang mengaku menjalankan konsep&nbsp;<em>lean startup&nbsp;</em>namun hanya mengadopsi sebagian saja. Secara khusus, mereka meluncurkan MVP dan mengulanginya setelah mendapatkan umpan balik. MVP berfungsi untuk menguji bagaimana tanggapan pelanggan terhadap produk sehingga para pendiri dapat meminimalisir risiko, misalnya dari segi waktu dan uang untuk membangun dan memasarkan produk yang ternyata tidak dibutuhkan oleh satu orang pun.</p>



<p id="11d0">Namun apabila pendiri tidak meneliti tentang kebutuhan pelanggan sebelum memulai MVP mereka, pendiri akhirnya membuang-buang waktu dan modal yang berharga untuk MVP yang kemungkinan besar tidak sesuai dengan target marketnya. Eisenmenn menyebut hal ini dengan istilah&nbsp;<em>false starts&nbsp;</em>atau awal yang salah.</p>



<p id="db83">Untuk menghindari hal ini, tim dapat mendefinisikan masalah yang ingin diselesaikan, mendapatkan umpan balik satu per satu dari pelanggan potensial, dan memvalidasi kepada pelanggan secara langsung.</p>



<p id="dce4">Penting sekali untuk mewawancarai&nbsp;<em>early adopters</em>&nbsp;dan prospek yang punya potensi besar melakukan pembelian. Jika kebutuhan mereka bervariasi, pendiri harus mempertimbangkan perbedaan tersebut saat merumuskan peta jalan produk. Selain itu, wajib untuk melakukan analisis persaingan, termasuk pengujian pengguna atas solusi yang ada, untuk memahami kekuatan dan kekurangan produk pesaing. Langkah selanjutnya, survei dapat membantu tim dalam mengukur perilaku dan sikap pelanggan. Tujuannya untuk mengumpulkan data yang berguna saat melakukan segmentasi dan mengukur pasar potensial.</p>



<p id="96f3">Setelah pendiri mengidentifikasi segmen pelanggan prioritas dan benar-benar memahami kebutuhan mereka yang belum terpenuhi, langkah tim selanjutnya adalah melakukan brainstorming untuk mencapai berbagai solusi. Tim harus membuat prototipe beberapa konsep dan mendapatkan umpan balik melalui sesi empat mata dengan pelanggan potensial.</p>



<p id="c618">Yang terakhir, untuk dapat mengevaluasi solusi, tim harus melakukan serangkaian tes MVP. Artinya, tim menempatkan produk aktual di tangan pelanggan untuk melihat bagaimana tanggapan mereka. Agar pemborosan tidak terjadi, MVP terbaik adalah yang memiliki fidelitas terendah yang diperlukan untuk mendapatkan masukan yang andal.</p>



<p id="3fc2">Startup yang mengalami kegagalan pada tahun-tahun pertamanya menunjukkan bahwa pendiri perlu melakukan banyak hal secara ‘benar’ untuk dapat meminimalisir risiko kegagalan. Namun berita baiknya, kamu dapat menjadi salah satu dari sekian banyak startup yang berhasil dan sukses, dengan cara belajar dari pengalaman dan kesalahan dari startup lainnya.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="d9c0"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="512e"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="c847"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengapa-startup-sering-gagal-ini-alasannya/">Mengapa Startup Sering Gagal? Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3 Tantangan Besar Ketika Pengujian Model Bisnis Startup</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/3-tantangan-besar-ketika-pengujian-model-bisnis-startup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2023 06:27:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Business Development]]></category>
		<category><![CDATA[Business Strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisnis yang berkelanjutan dan sukses punya pondasi yang kokoh dalam model bisnisnya. Menurut artikel yang dipublikasikan di Medium oleh BMI Lab, 90% ide bisnis berubah beberapa kali sebelum mencapai kesuksesan komersial dan lebih dari dua produk/solusi baru gagal memenuhi harapan pelanggan. Alasannya bisa bermacam-macam, misalnya tidak dapat beradaptasi dengan perubahan ekosistem, kolot dalam mempertahankan model [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/3-tantangan-besar-ketika-pengujian-model-bisnis-startup/">3 Tantangan Besar Ketika Pengujian Model Bisnis Startup</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="66f8">Bisnis yang berkelanjutan dan sukses punya pondasi yang kokoh dalam model bisnisnya. Menurut artikel yang dipublikasikan di Medium oleh BMI Lab, 90% ide bisnis berubah beberapa kali sebelum mencapai kesuksesan komersial dan lebih dari dua produk/solusi baru gagal memenuhi harapan pelanggan. Alasannya bisa bermacam-macam, misalnya tidak dapat beradaptasi dengan perubahan ekosistem, kolot dalam mempertahankan model bisnis lama yang sudah ‘usang’, hingga kekurangan struktur yang dapat menopang perusahaan.</p>



<p id="a20f">Di bawah ini ada 3 tantangan yang umumnya terjadi ketika proses pengujian model bisnis baru sedang dilakukan. Dengan begitu, kamu dapat melakukan langkah antisipasi agar hal-hal yang buruk dapat dihindari.</p>



<p id="702a"><strong>Tantangan pertama: membangun tim yang tepat</strong></p>



<p id="1bac">Bisnis model yang baru ‘diuji coba’ punya risiko lebih tinggi terhadap bisnis model yang sudah lebih dulu ‘valid’. Proses uji coba ini membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi dan kekompakan tim ketika bekerja. Membangun tim yang tepat dapat meningkatkan peluang kesuksesan ketika pengaplikasian model bisnis. Seperti yang dijelaskan Jim Collins dalam buku Good to Great, yaitu mendapatkan “orang yang tepat di dalam bus”. Menurut Collins, ketika pemimpin memiliki orang yang tepat di dalam bus, mereka ternyata kesulitan untuk menentukan peran yang tepat untuk setiap anggota tim. Maksudnya adalah orang yang tepat di kursi yang tepat.</p>



<p id="2a0d">Pada dasarnya, kesulitan yang dialami pemimpin adalah mencari karakteristik yang diperlukan tim yang sedang menerapkan ide model bisnis baru. Beberapa karakteristik penting ini antara lain memiliki&nbsp;<em>hands-on mentality&nbsp;</em>(proaktif dalam melakukan sesuatu dan berani menyelesaikan masalah), tidak takut gagal (mungkin khawatir ketika gagal adalah hal yang wajar, namun harapannya mereka tidak takut bangkit lagi), dan terbuka terhadap cara kerja baru. Menurut Collins, proyek inovasi model bisnis memerlukan karakteristik pola pikir yang berbeda tergantung pada tahap pengembangan. Tim harus berkembang dan melakukan improvisasi tingkat tinggi berdasarkan wawasan yang didapatkan.</p>



<p id="833d"><strong>Tantangan kedua: mengintegrasikan inovasi ke dalam proses</strong></p>



<p id="44cc">Mengembangkan model bisnis yang inovatif punya dampak besar pada setiap proses yang akan dan telah dijalankan. Membangun pemikiran model bisnis dan meluncurkan inisiatif inovasi model bisnis dapat berdampak pada kurangnya pemahaman dan dukungan di tingkat tertinggi dalam organisasi. Karena mengubah proses itu sulit, perusahaan kehilangan pengalaman dan pendekatan untuk mengintegrasikan inovasi model bisnis ke dalam proses pengembangan produk yang ada. Hal tersebut dapat berisiko untuk proses implementasi yang tidak memikirkan kompatibilitas dengan lanskap proses secara menyeluruh.</p>



<p id="bf23"><strong>Tantangan ketiga: eksplorasi dengan mengandalkan asumsi vs intuisi</strong></p>



<p id="1c61">Perusahaan harus berhasil menjelaskan kepada seluruh anggota tim tentang alasan: mengapa dan bagaimana bisnis dan teknik harus bisa bekerja sama ketika mengerjakan proyek baru. Ketika melakukan eksplorasi terhadap ide model bisnis baru, ada gesekan pemikiran dari para ketua tim (misalnya) yang punya asumsi berbeda. Dampaknya bisa menyebabkan ketidakcocokan antara pengambil keputusan dengan tim. Untuk itu, lakukanlah banyak pengujian untuk membuktikan hal mana yang paling tepat dan bisa menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.</p>



<p id="154e">Terakhir, sebagai penutup, proyek-proyek baru biasanya mendapatkan tantangan dalam memahami kesulitan internal perusahaan. Misalnya ketika para pemimpin tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikan misi proyek, siapa orang-orang yang relevan untuk memulai inovasi, dan seperti apa peran mereka. Butuh keterampilan yang gesit mengenai tata cara memahami teori, melakukan implementasi, hingga agile project management. Untuk itu, diperlukan bimbingan dan dukungan dari perusahaan kepada para pemimpin dalam menganalisis kesenjangan antara keterampilan yang tersedia dan yang dibutuhkan.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="6b6c"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="0e7b"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="2fb8"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/3-tantangan-besar-ketika-pengujian-model-bisnis-startup/">3 Tantangan Besar Ketika Pengujian Model Bisnis Startup</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Implementasikan Cara Terjitu Menjalankan Model Bisnis Digital</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/implementasikan-cara-terjitu-menjalankan-model-bisnis-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2022 06:14:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk menjalankan bisnis memiliki strategi atau cara yang diterapkan agar perusahaan kamu dapat lebih maju, terutama dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan lainnya. Hal yang bisa kamu lakukan untuk bisa bersaing di era revolusi industri 4.0 menuju era society 5.0 adalah mengenal dan merancang model bisnis dengan lebih baik. Model bisnis terdiri dari empat dimensi yaitu: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/implementasikan-cara-terjitu-menjalankan-model-bisnis-digital/">Implementasikan Cara Terjitu Menjalankan Model Bisnis Digital</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="eda4">Untuk menjalankan bisnis memiliki strategi atau cara yang diterapkan agar perusahaan kamu dapat lebih maju, terutama dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan lainnya. Hal yang bisa kamu lakukan untuk bisa bersaing di era revolusi industri 4.0 menuju era society 5.0 adalah mengenal dan merancang model bisnis dengan lebih baik.</p>



<p id="16b4">Model bisnis terdiri dari empat dimensi yaitu:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>(WHO) = merupakan target pelanggan dan apa yang dibutuhkannya</li>



<li>(WHAT) = merupakan proposisi nilai dan dengan bantuan produk dan layanan mana yang dihasilkan</li>



<li>(HOW) = merupakan cara proposisi nilai disampaikan</li>



<li>(WHY) = merupakan hal-hal yang membuat model bisnisnya menguntungkan</li>
</ul>



<p id="ed14">Untuk mengimplementasikan model bisnis yang sistematis sesuai jenis lingkungannya, kamu dapat menerapkan pengembangan model bisnis yang&nbsp;<strong>berbasis asumsi</strong>. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian yang menempel pada model bisnis yang dilakukan dengan memeriksa asumsi yang paling kritis pada setiap perkembangannya. Biasanya hal ini menyangkut aspek-aspek internal, seperti kelayakan teknik serta solusi, sumber daya yang dibutuhkan, serta kemampuan yang tersedia. Akan tetapi hal yang paling penting dalam pengembangan awal adalah&nbsp;<strong>konsumen</strong>.</p>



<p id="247d">Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat kamu implementasikan untuk menjalankan model bisnis digital:</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="5468"><strong>Problem-<em>Solution Fit</em></strong></h2>



<p id="b53f">Langkah awal yang dapat kamu gunakan adalah dengan mengetahui masalah serta kebutuhan pelanggan untuk memecahkan masalah mengenai ketertarikan mereka dan kamu dapat mempelajarinya lebih lanjut. Dapat fokus mengenai aspek kualitas pembelajaran untuk mengembangkan solusi sesuai kebutuhannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="dab4"><strong>Product-<em>Market Fit</em></strong></h2>



<p id="1e66">Pada langkah ini kamu dapat memeriksa mengenai ketertarikan pelanggan pada model bisnis kamu secara keseluruhan yang didalamnya adalah campuran layanan produk serta fitur-fitur yang ada. Tujuannya untuk melakukan identifikasi terhadap “yang harus dimiliki” dan keinginan keseluruhan dari solusi yang hanya dapat dicapai melalui visualisasi, Minimal Viable Product (MVP), serta interaksi pelanggan langsung.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="d7c0"><strong>Kesediaan untuk Membeli</strong></h2>



<p id="a0da">Pada fase ini, kamu berfokus pada model pendapatan. Penilaian yang andal dari kesediaan pelanggan untuk membayar hanya bisa dicapai apabila proposisi nilai serta penawaran produk dan layanan terkait telah ditetapkan dengan tepat sehingga setiap pelanggan dapat memahaminya. Karena jika tidak, perusahaanlah yang menanggung risiko melebih-lebihkan persetujuan yang tidak spesifik dari fase sebelumnya dan mengambil resiko terlalu banyak atau terlalu cepat.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="d060"><strong>Fase Pengiriman Nilai</strong></h2>



<p id="b260">Pada fase ini, pengiriman nilai dapat digunakan untuk memetakan juga mengembangkan proses produksi dan logistik yang dibutuhkan, mitra kerja sama mana yang diperlukan, juga bagaimana struktur biaya yang tepat akan terlihat. Hasil yang biasa adalah pengembangan produk atau solusi yang tidak ingin dibeli oleh siapa pun. Karena mengabaikan ide dasar pendekatan, yang tujuannya untuk menguji model bisnis dengan cepat dan murah dapat membuat ketidakpastian ada di tingkat yang tinggi dengan konsep bisa sering sangat berubah.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="c914"><strong>Penskalaan &amp; KPI</strong></h2>



<p id="effc">Pada langkah ini, penting untuk menentukan kesuksesan model bisnis sebenarnya beserta cara pengukurannya. Dalam hal ini, pertumbuhan tipikal dan tokoh-tokoh kunci keuangan mungkin sudah cukup. Namun karena karakter strategis model bisnis baru, serta aspek-aspek seperti efek sinergi dan potensi penskalaan juga merupakan faktor penting sehingga harus juga dilakukan.</p>



<p id="d4b2">Faktor penentu dalam hal ini adalah basis teknologi yang dipilih untuk menawarkan fleksibilitas serta modularitas yang diperlukan untuk pendekatan berbasis asumsi.</p>



<p id="87d9">Nah, untuk menghindari penipuan penting untuk mengembangkan aspek teknis seefektif dan seefisien mungkin untuk memvalidasi asumsi model bisnis yang paling penting di setiap fase pengembangan. Sehingga dapat dihasilkan&nbsp;<em>takeaways</em>&nbsp;utama model bisnis digital, yaitu:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Memahami dan menyelesaikan masalah dan kebutuhan pelanggan kamu terlebih dahulu, lalu kemudian memikirkan tentang teknologi</li>



<li>Model bisnis digital tidak selalu menyiratkan proposisi nilai digital murni</li>



<li>Mengembangkan model bisnis digital terjadi di bawah ketidakpastian yang besar dengan mengandalkan data dan fakta daripada opini untuk menguranginya</li>



<li>Pendekatan&nbsp;<em>lean</em>&nbsp;memudahkan untuk membatalkan proyek jika perlu, untuk mengejar salah satu dari banyak ide lainnya</li>



<li>Semua pihak yang terlibat perlu memahami pentingnya mengembangkan dan menguji model bisnis baru dan menciptakan kebebasan organisasi yang cukup untuk memungkinkannya</li>
</ul>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="8829"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="dc85"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="9766"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/implementasikan-cara-terjitu-menjalankan-model-bisnis-digital/">Implementasikan Cara Terjitu Menjalankan Model Bisnis Digital</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Memilih Business Model yang Tepat untuk Startupmu</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/cara-memilih-business-model-yang-tepat-untuk-startupmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2022 07:54:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8423</guid>

					<description><![CDATA[<p>Business model&#160;menggambarkan bagaimana strategi bisnismu dapat memberikan manfaat kepada pelanggan dalam kisaran harga yang optimal. Dalam&#160;business model, kamu akan menentukan produk atau layanan seperti apa yang ingin kamu tawarkan, pasar yang akan kamu targetkan, serta jumlah biaya yang mungkin kamu keluarkan untuk mengembangkan bisnis tersebut. Agar dapat mengetahui&#160;business model&#160;yang tepat untuk startupmu, kamu bisa menggunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/cara-memilih-business-model-yang-tepat-untuk-startupmu/">Cara Memilih Business Model yang Tepat untuk Startupmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="959c"><em>Business model&nbsp;</em>menggambarkan bagaimana strategi bisnismu dapat memberikan manfaat kepada pelanggan dalam kisaran harga yang optimal. Dalam&nbsp;<em>business model</em>, kamu akan menentukan produk atau layanan seperti apa yang ingin kamu tawarkan, pasar yang akan kamu targetkan, serta jumlah biaya yang mungkin kamu keluarkan untuk mengembangkan bisnis tersebut.</p>



<p id="ac6d">Agar dapat mengetahui&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>yang tepat untuk startupmu, kamu bisa menggunakan format&nbsp;<em>lean canvas</em>. Format ini berupa tabel yang dikhususkan untuk proses pengembangan ide bisnis dari proyek di masa depan. Berikut ini hal-hal yang perlu kamu perhatikan saat memilih&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>untuk startup-mu.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="1fa8">1. Customer segment atau segmentasi pelanggan</h1>



<p id="609d">Elemen pertama dan terpenting untuk menentukan&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>yang tepat adalah pelanggan. Tentukan untuk siapa kamu membuat bisnis dan siapa pelanggan yang paling berpeluang memberikan keuntungan untuk bisnismu. Barulah setelah itu kamu bisa memilih&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>yang dapat menambah manfaat bagi pelanggan dengan mengikat kebutuhan mereka dan memahami cara mereka membeli.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="028f">2. Value proposition atau nilai manfaat produk</h1>



<p id="0b48">Cari tahu apa masalah pelanggan yang akan kamu pecahkan, apa manfaat yang kamu berikan kepada pelanggan, apa produk atau jasa yang akan kamu berikan kepada setiap segmen pelanggan. Dengan begitu, kamu dapat memberikan alasan mengapa pelanggan harus membeli produk atau menggunakan jasamu.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="9557">3. Interaction channels</h1>



<p id="b15f">Bagaimana cara kamu berinteraksi dengan pelanggan dan bagaimana cara kamu memenuhi kebutuhan mereka dengan&nbsp;<em>value proposition&nbsp;</em>bisnismu.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="a748">4. Hubungan dengan pelanggan</h1>



<p id="b62c">Bagaimana cara kamu berinteraksi dengan pelanggan, baik secara langsung dengan menyediakan manajer pribadi untuk setiap pelanggan, melalui komunitas, atau pembuatan produk bersama.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="f9fc">5.<em>&nbsp;Income flows</em>&nbsp;atau arus pendapatan</h1>



<p id="ecd0">Riset seberapa besar harga yang siap dibayar oleh pelanggan, hingga apa saja cara untuk memonetisasi produkmu.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="22de">6. Key resources</h1>



<p id="4e3d">Apa saja yang kamu butuhkan untuk keberhasilan pembuatan produk dan peluncurannya di pasar, sehingga bisnismu bisa meraup keuntungan ketika produk diluncurkan.&nbsp;<em>Key resource&nbsp;</em>ini bisa berupa finansial, material, atau sumber daya manusia.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="d55c">7. Key types of activity</h1>



<p id="6b39">Apa yang perlu dilakukan agar bisnis kamu bisa mulai berjalan. Ini bisa berupa manajemen industri, distribusi, pencarian solusi masalah untuk pelanggan tertentu, manajemen proses kerja, dan masih banyak lagi.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="3a69">8. Key partners</h1>



<p id="5a5d">Merupakan pihak yang bisa kamu ajak kerja sama untuk menyokong alokasi sumber daya, mengurangi risiko persaingan, hingga meningkatkan kinerja.&nbsp;<em>Key partner&nbsp;</em>termasuk pemasok bahan, penyalur, atau layanan tambahan lainnya.</p>



<h1 class="wp-block-heading" id="2931">9. Expenses atau biaya pengeluaran</h1>



<p id="07cd">Kamu perlu tahu perkiraan jumlah biaya yang harus kamu keluarkan agar bisnismu berjalan lancar. Jika biaya untuk menjalankan startup cukup tinggi, tetapi kamu tidak mampu membebankan biaya yang sama kepada konsumen,&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>kamu dapat mencakup hubungan strategis untuk mengatasi batasan itu.</p>



<p id="59ab">Memilih&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan startup. Selain poin-poin di atas, kamu juga bisa memilih&nbsp;<em>business model&nbsp;</em>berdasarkan tipe pelanggan, seperti B2B (<em>Business to Business</em>), B2C (<em>Business to Customer</em>), B2G (<em>Business to Government</em>), C2C (<em>Customer to Customer</em>) atau P2P (<em>peer-to-peer</em>), C2B (<em>Customer to Business</em>), dan masih banyak lagi. Selamat mencoba,&nbsp;<em>founders</em>!</p>



<p class="has-text-align-center" id="4497">. . .</p>



<p id="b1f9"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="05e0"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="1f69"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/cara-memilih-business-model-yang-tepat-untuk-startupmu/">Cara Memilih Business Model yang Tepat untuk Startupmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seperti Apa Elemen Nilai dari Perusahaan B2B?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/seperti-apa-elemen-nilai-dari-perusahaan-b2b/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2022 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=7591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk mendapatkan hal apa yang paling penting bagi pembeli di sektor bisnis B2B, perusahaan konsultan Bain melakukan studi pelanggan kuantitatif dan kualitatif. Hasilnya adalah munculnya 40 elemen nilai yang dibagi ke dalam tingkatan layaknya piramida. Elemen tersebut berasal dari bergaam hal objektif hingga berhubungan dengan emosi dan perasaan. Untuk dapat menilai dan mengidentifikasi apa saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/seperti-apa-elemen-nilai-dari-perusahaan-b2b/">Seperti Apa Elemen Nilai dari Perusahaan B2B?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="6acd">Untuk mendapatkan hal apa yang paling penting bagi pembeli di sektor bisnis B2B, perusahaan konsultan Bain melakukan studi pelanggan kuantitatif dan kualitatif. Hasilnya adalah munculnya 40 elemen nilai yang dibagi ke dalam tingkatan layaknya piramida. Elemen tersebut berasal dari bergaam hal objektif hingga berhubungan dengan emosi dan perasaan.</p>



<p id="6407">Untuk dapat menilai dan mengidentifikasi apa saja proposisi nilai yang paling sesuai dengan perusahaanmu, berikut adalah penjelasannya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://miro.medium.com/max/1400/0*gyuQAyFWVuxTfr0x" alt=""/></figure>



<p id="d517"><em>Sumber gambar: HBR ‘The B2B Elements of Value’</em></p>



<p id="d23c">Di tingkat paling dasar, ada elemen&nbsp;<em>table stakes&nbsp;</em>atau berarti ‘taruhan meja’. Konteksnya adalah memenuhi spesifikasi dengan harga yang dapat diterima sesuai dengan peraturan dengan tetap memenuhi standar etika.</p>



<p id="3d37">Elemen&nbsp;<em>table stakes&nbsp;</em>adalah hal paling dasar dan memenuhi kebutuhan kinerja ekonomi atau produk perusahaan. Ada 4 hal yang masuk dalam elemen&nbsp;<em>table stakes&nbsp;</em>ini antara lain:</p>



<p id="0784">&#8211;&nbsp;<em>meeting specification&nbsp;</em>(spesifikasi pertemuan)</p>



<p id="6fde"><em>&#8211; acceptable price&nbsp;</em>(harga yang dapat diterima)</p>



<p id="9eab"><em>&#8211; regulatory compliance&nbsp;</em>(kepatuhan terhadap peraturan)</p>



<p id="6e69"><em>&#8211; ethical standards&nbsp;</em>(standar etika)</p>



<p id="fe01">Perusahaan B2B masih fokus mencurahkan energi untuk memenuhi elemen&nbsp;<em>functional value&nbsp;</em>yang terdiri dari:</p>



<p id="1c5f"><em>&#8211; improved top line&nbsp;</em>(meningkatkan garis atas)</p>



<p id="ad95"><em>&#8211; cost reduction&nbsp;</em>(pengurangan biaya)</p>



<p id="4459"><em>&#8211; product quality&nbsp;</em>(kualitas produk)</p>



<p id="888d"><em>&#8211; scalability&nbsp;</em>(skalabilitas)</p>



<p id="c118"><em>&#8211; innovation&nbsp;</em>(inovasi)</p>



<p id="7f7b">Elemen di tengah atau tingkat ketiga adalah yang dapat memudahkan bisnis, misalnya sifatnya meningkatkan produktivitas pelanggan dengan cara menghemat waktu, mengurangi usaha, memberikan informasi yang jelas dan transparan, dan lain-lain. Tidak hanya itu saja, hal-hal yang dapat memudahkan akses pelanggan adalah dengan ketersediaan barang dan jenis barang yang memenuhi kebutuhan pelanggan. Sedangkan hubungan dapat ditingkatkan dengan respon yang cepat, mudah dijangkau, mengurangi risiko pelanggan, dan lain-lain.</p>



<p id="097b">Kemudian ada elemen nilai individu yang memberikan nilai subjektif tambahan. Misalnya bersifat pribadi, seperti mengurangi kecemasan, desain dan estetika yang menarik. Atau berhubungan dengan karir, seperti meningkatkan daya jual atau perluasan jaringan.</p>



<p id="caca">Di tingkatan ini, elemen nilai dapat mengatasi masalah yang berhubungan dengan perasaan. Misalnya kegelisahan pembeli karena takut gagal dalam memilih produk, sebab harga produk yang tidak murah serta pembeli harus mengambil keputusan besar karena terkait dengan dana yang mempengaruhi pendapatan (misalnya membeli rumah).</p>



<p id="495c">Di tingkatan paling atas adalah elemen inspirasional, yang dapat meningkatkan visi pelanggan di masa depan (misalnya membantu perusahaan dalam mengantisipasi perubahan di pasar), memberikan harapan untuk masa depan perusahaan, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Semakin tinggi tingkatan piramidanya, maka akan semakin sulit untuk diukur. Karena sifatnya lebih emosional.</p>



<p id="7ac5">Perusahaan B2B dapat menganalisis elemen di atas untuk memeriksa dan meningkatkan proposisi nilai. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diterapkan:</p>



<p id="fffb">1.&nbsp;<strong>Lakukan tolok ukur proposisi nilai perusahaan terhadap pesaing dengan melakukan survei pelanggan.</strong>&nbsp;Topiknya adalah tentang bagaimana kinerja produk dan layanan terhadap penawaran pesaing pada 36 elemen yang tidak termasuk dalam elemen&nbsp;<em>table stakes.&nbsp;</em>Dengan melakukan survei kuantitatif menggunakan sampel yang cukup besar, harapannya dapat menghasilkan wawasan yang dapat menjadi bekal untuk pengolahan data selanjutnya.</p>



<p id="40c3">2.&nbsp;<strong>Bicaralah dengan pelanggan untuk memahami pengalaman mereka</strong></p>



<p id="b508">Kamu dapat melakukan wawancara lanjutan untuk menemukan kebutuhan dan sumber kepuasan pelanggan. Selain itu, wawancara ini juga berfungsi untuk menemukan hal-hal yang membuat pelanggan merasa frustasi atau mencapai titik puncak dari permasalahan. Dari situ, kamu dapat menganalisis, apa saja kompromi yang dapat mereka buat dalam menggunakan produk atau layananmu, berdasarkan kebutuhan, kepuasan, dan rasa frustasi mereka.</p>



<p id="e032">Saat melakukan wawancara, hindari menggunakan layanan pelanggan atau grup pengguna. Hal ini untuk meminimalisir pelanggan membicarakan hal-hal yang mungkin ingin produsen dengar. Pertimbangkan juga pilihan untuk melakukan wawancara dengan pihak ketiga sebagai pihak yang netral. Alasannya, pelanggan cenderung akan memberikan umpan balik lebih jujur kepada perantara.</p>



<p id="95c2">3.&nbsp;<strong>Bayangkan bagaimana cara meningkatkan nilai bagi pelanggan.&nbsp;</strong>Lakukan proses untuk mengidentifikasi elemen apa saja yang memerlukan perhatian dan pengembangan selanjutnya.</p>



<p id="98ff">4.&nbsp;<strong>Sempurnakan, uji, dan pelajari nilai-nilai tersebut dengan mendiskusikannya dengan tim dan pelanggan.</strong>&nbsp;Hal ini akan memberikan wawasan baru yang dapat merevisi atau mengubah konsep nilai sebelum dikembangkan lebih lanjut. Wawasan ini dapat memberi data penting sebelum uji pasar atau peluncuran lebih luas.</p>



<p id="bd63">Itu tadi penjelasan seputar elemen nilai yang akan membantu manajer untuk menilai dan melakukan analisis untuk menentukan prioritas bagi perusahaan, agar dapat bersaing dan memenuhi tuntutan dari para pemangku kepentingan.</p>



<p id="cd44"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="41e1"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="1d0f"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/seperti-apa-elemen-nilai-dari-perusahaan-b2b/">Seperti Apa Elemen Nilai dari Perusahaan B2B?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
