<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Personal Development Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<atom:link href="https://1000startupdigital.id/tag/personal-development/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://1000startupdigital.id/tag/personal-development/</link>
	<description>Rintis startupmu bersama mentor &#38; praktisi digital</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Oct 2024 03:26:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.3</generator>

<image>
	<url>https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/08/cropped-ICON-1-32x32.png</url>
	<title>Personal Development Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<link>https://1000startupdigital.id/tag/personal-development/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ingin Hidup Lebih Sukses? Coba Bentuk Ulang Tujuanmu</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/ingin-hidup-lebih-sukses-coba-bentuk-ulang-tujuanmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Sep 2024 03:24:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mindset]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Productivity]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10862</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa tujuanmu dalam hidup selama ini? Apa tujuan kariermu selama ini? Apa tujuanmu menjadi orang tua atau anak selama ini? Dan mungkin apa-apa yang lain, yang berhubungan dengan makna hidup dan kesuksesan, akan selalu tiada habisnya. Jika kamu masih merasa selalu ada yang kurang, khawatir,&#160;insecure,&#160;dan takut terhadap tujuan hidup hingga arti kesuksesan, maka artikel ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/ingin-hidup-lebih-sukses-coba-bentuk-ulang-tujuanmu/">Ingin Hidup Lebih Sukses? Coba Bentuk Ulang Tujuanmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Apa tujuanmu dalam hidup selama ini?</p>



<p id="861c">Apa tujuan kariermu selama ini?</p>



<p id="d326">Apa tujuanmu menjadi orang tua atau anak selama ini?</p>



<p id="2229">Dan mungkin apa-apa yang lain, yang berhubungan dengan makna hidup dan kesuksesan, akan selalu tiada habisnya.</p>



<p id="15bb">Jika kamu masih merasa selalu ada yang kurang, khawatir,&nbsp;<em>insecure,&nbsp;</em>dan takut terhadap tujuan hidup hingga arti kesuksesan, maka artikel ini sangat cocok untukmu.</p>



<p id="2428">Berikut adalah langkah-langkah untuk membentuk ulang tujuan, dikutip dari artikel Harvard Business Review.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="b574"><strong>1. Mengidentifikasi alasan yang mendasari tujuanmu</strong></h2>



<p id="26f4">Agar bisa mencapai tujuan, kamu perlu bergerak melampaui tujuan tersebut. Bagaimana caranya? Fokuslah pada nilai-nilai yang mendekatkanmu dengan tujuan tersebut. Bagaimana contohnya?</p>



<p id="56e8"><strong>Contoh 1</strong></p>



<p id="9166">Tujuan: lari marathon</p>



<p id="d09c">Alasan: sehat dan melakukan pencapaian yang menantang</p>



<p id="69bb"><strong>Contoh 2</strong></p>



<p id="912b">Tujuan: melatih anak sepakbola dengan memasukkan ke tim sepakbola</p>



<p id="73e7">Alasan: menjadi orang tua yang baik</p>



<p id="ca9d"><strong>Contoh 3</strong></p>



<p id="693c">Tujuan: dapat promosi jabatan pada usia 30 tahun</p>



<p id="2e05">Alasan: punya pekerjaan yang memuaskan</p>



<p id="b01c">Menurut&nbsp;<em>value fulfillment theory,</em>&nbsp;kehidupan yang dijalani dengan baik adalah kehidupan di mana kamu bisa memenuhi atau menjunjung tinggi nilai-nilai penting yang diyakini. Jadi, untuk bisa mencapai kehidupan yang lebih baik, tanyakan dulu, “apa nilai-nilai yang kamu yakini?”.</p>



<p id="10d5">Jika kamu masih bingung nilai apa yang diyakini, kamu bisa mengingat hal apa yang paling membuatmu merasa baik. Saat itu, apa yang kamu lakukan? Dengan siapa kamu bersama? Seperti apa kegiatan yang membuatmu merasa bahagia dan puas?</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="6f92"><strong>2. Mendefinisikan kesuksesan untuk setiap nilai</strong></h2>



<p id="7dfe">Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi, “apa arti nilai-nilai tersebut untukmu?”.</p>



<p id="5b3f">Beberapa tujuan bisa didefinisikan secara konkret, seperti mencapai promosi atau target gaji dalam jangka waktu tertentu. Namun, ada juga tujuan yang lebih abstrak, misalnya membuat dampak positif, menjadi orang tua yang baik, dan sebagainya.</p>



<p id="5e1c">Untuk mendapatkan kejelasan, kamu bisa mempertimbangkan orang-orang yang membuatmu kagum, atau bahkan membuatmu iri. Apa yang telah mereka capai atau alami yang menurutmu sangat berharga dan ingin kamu alami juga? Misalnya, kamu mengagumi kedua orang tuamu yang selalu hadir dalam momen penting kehidupan anak-anak mereka, seperti pertandingan olahraga atau pentas sekolah. Atau kamu iri dengan seorang penulis sukses yang memiliki banyak pengikut dan berhasil menerbitkan buku laris.</p>



<p id="af07">Penting untuk dipahami bahwa tidak ada jawaban pasti dalam mendefinisikan kesuksesan, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang nilai. Contohnya, seseorang yang berpartisipasi dalam pertandingan olahraga mungkin memandang kemenangan sebagai nilai utama, sementara yang lain lebih menghargai partisipasi dan kerja sama tim. Dalam hal keluarga bahagia, ada yang memandangnya tercapai dengan stabilitas finansial, sementara yang lain menilai kebahagiaan dalam keluarga berdasarkan membesarkan anak-anak yang sehat.</p>



<p id="3705">Dengan menentukan apa yang penting bagimu, kamu bisa memposisikan diri dengan lebih baik untuk membentuk dan mencapai nilai-nilai yang bermakna dalam hidupmu.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="79d6"><strong>3. Mengevaluasi definisi tentang kesuksesan</strong></h2>



<p id="1070">Kamu dapat bertanya dan mengevaluasi, “Apa sumber dari setiap definisi?” atau “Sejauh mana definisi tersebut adalah ekspektasi dari luar atau menjadi norma eksternal?”.</p>



<p id="9b0a">Contoh jika kamu mendefinisikan kesuksesan seorang penulis dengan jumlah pengikut banyak di media sosial, maka kamu perlu memikirkan ulang. Apakah definisi sukses dengan banyak&nbsp;<em>follower&nbsp;</em>itu sudah sesuai dengan nilai-nilaimu? Mungkin jika dipikirkan ulang, definisi tersebut berkaitan dengan popularitas, dan mungkin bukan jadi hal yang sangat kamu hargai.</p>



<p id="075e">Alasannya, kita bisa jadi memikirkan definisi dari tujuan atau kesuksesan secara cepat karena hal itu adalah norma di industri, budaya, atau ekspektasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="1f98"><strong>4. Menyesuaikan definisi kesuksesan</strong></h2>



<p id="72ce">Maksudnya adalah caramu mengubah bentuk nilai-nilai untuk mengurangi konflik, seiring berjalannya waktu. Jadi, setelah kamu melihat dan menerapkan nilai tersebut untuk mencapai tujuan, kamu akan bisa mengevaluasi. Apakah mungkin definisi kesuksesan tersebut dapat diubah sehingga hasilnya menjadi lebih baik lagi.</p>



<p id="988a">Tanyakan hal ini pada dirimu:</p>



<p id="6ce5">Apakah ada cara berbeda yang dapat mendefinisikan kesuksesanmu, sehingga lebih dapat dicapai dan lebih sesuai dengan nilai-nilai, keadaan, dan kepribadianmu saat ini?</p>



<p id="527d">Contohnya jika kamu punya tujuan berkontribusi pada pekerjaan profesional, maka nilai yang dihargai dan definisi kesuksesannya tidak hanya apa yang dianggap normal oleh budaya kita saja (menghasilkan uang, mendapatkan promosi).</p>



<p id="7d57">Ada definisi lain yang masih sejalan dengan tujuan tersebut dan lebih sesuai dengan kondisimu saat ini, seperti menjadi bagian dari tim, membimbing orang lain, atau menjadi bagian dari proyek yang besar dan sukses.</p>



<p id="e5be">Itu adalah sesuatu yang bisa kamu banggakan, memenuhi nilai yang diyakini, sekaligus mengurangi ketegangan dengan nilai-nilai lain yang kamu miliki, seperti fokus pada keluarga dan kesehatan mental.</p>



<p id="00be">Empat cara di atas memang tidak mudah untuk diterapkan, tetapi kamu akan merasakan manfaatnya dan dampak yang besar demi kehidupan yang lebih memuaskan.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="154d"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="4671"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----f9ea010b30aa--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/ingin-hidup-lebih-sukses-coba-bentuk-ulang-tujuanmu/">Ingin Hidup Lebih Sukses? Coba Bentuk Ulang Tujuanmu</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rutin Melakukan Refleksi Ternyata Menjadikanmu Pemimpin yang Lebih Baik</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/rutin-melakukan-refleksi-ternyata-menjadikanmu-pemimpin-yang-lebih-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Mar 2024 10:45:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10575</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurutmu, apa yang bisa membuat pemimpin menjadi lebih mudah untuk berkembang dan terus bertumbuh menjadi sosok yang lebih baik lagi? Ternyata, melakukan refleksi adalah jawabannya. Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh James R. Bailey dan Scheherazade Rehman yang dipublikasikan di Harvard Business Review. Penelitian tersebut menunjukkan tiga hal yang membentuk pemimpin menjadi pribadi yang lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/rutin-melakukan-refleksi-ternyata-menjadikanmu-pemimpin-yang-lebih-baik/">Rutin Melakukan Refleksi Ternyata Menjadikanmu Pemimpin yang Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="d5d0">Menurutmu, apa yang bisa membuat pemimpin menjadi lebih mudah untuk berkembang dan terus bertumbuh menjadi sosok yang lebih baik lagi?</p>



<p id="e706">Ternyata, melakukan refleksi adalah jawabannya. Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh James R. Bailey dan Scheherazade Rehman yang dipublikasikan di Harvard Business Review.</p>



<p id="f57a">Penelitian tersebut menunjukkan tiga hal yang membentuk pemimpin menjadi pribadi yang lebih baik, yaitu melalui kejutan, frustasi, dan kegagalan. Tiga hal tersebut terbukti berharga dalam membantu para pemimpin belajar dan bertumbuh dalam karirnya. Yuk, kita bahas satu persatu ketiga hal tersebut!</p>



<p id="371a"><strong>1. Kejutan</strong></p>



<p id="f44d">Rasa terkejut datang dari sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi atau perkiraan kita. Misalnya, kolega yang kamu hormati ternyata punya kebiasaan membesar-besarkan masalah kecil. Atau, ide cemerlang yang kamu kira akan berhasil, nyatanya mengalami penolakan dari tim, hingga hasil penjualan produk unggulan yang tidak mencapai target.</p>



<p id="3387">Pada dasarnya, manusia akan berhipotesis tentang apa yang akan terjadi berdasarkan logika. Ketika hipotesis kita salah, kita akan terkejut dengan hasilnya. Nah, kekeliruan kita dalam memperkirakan sesuatu bisa dituangkan ke dalam sebuah refleksi.</p>



<p id="6d2c"><strong>2. Kegagalan</strong></p>



<p id="a044">Seorang responden dari penelitian bercerita bagaimana ia terlalu terlibat dalam ‘politik organisasi’ yang menyebabkan program yang dipimpinnya gagal. Ia mengeluhkan bahwa ia membuat kesalahan besar. Terlalu fokus pada ide, bukan pada detailnya. Meski ia mengakui kesalahan itu, tapi rasanya tetap menyakitkan. Ia pun tidak akan pernah melakukan kesalahan itu lagi.</p>



<p id="e31f">Kegagalan dan kesalahan ternyata berkesinambungan. Kegagalan berhubungan dengan perilaku, kemudian bermanifestasi sebagai kesalahan. Kesalahan lah yang menjadi bukti tentang apa yang tidak boleh kita lakukan lagi di masa depan.</p>



<p id="1732"><strong>3. Frustrasi</strong></p>



<p id="6e9c">Menurut KBBI, frustrasi adalah rasa kecewa akibat kegagalan di dalam mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil mencapai suatu cita-cita. Frustrasi bisa terjadi saat pilihan terbaik kita ternyata mendapat kritik. Misalnya, ada orang lain menyerobot tempat parkir kita, penebangan yang mendadak&nbsp;<em>delay,&nbsp;</em>atau terjebak macet.</p>



<p id="c79f">Contoh rasa frustrasi yang dialami oleh para responden dari penelitian adalah penundaan internal yang mengancam peluncuran produk, kesenjangan anggaran, dan kantor perusahaan yang tampaknya tidak memahami kenyataan di lapangan.</p>



<p id="90b3">Menurut artikel dari Harvard Business Review, akar dari rasa frustrasi adalah tujuan kita, atau tujuan dari ambisi dan upaya kita. Tujuan itu menggambarkan nilai yang kita miliki. Kita akan merasa frustrasi saat tujuan gagal dan tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Untuk bisa mengatasi rasa frustrasi tersebut, kita harus mencari cara lain untuk mencapai tujuan kita sehingga kita bisa bergerak maju untuk berkembang. Di sinilah letak refleksi penting dilakukan untuk menuntun kita mengubah frustrasi menjadi solusi baru.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="ee8b"><strong>Bagaimana cara melakukan refleksi?</strong></h2>



<p id="7b60">Kita harus membiasakan diri untuk melakukan refleksi. Dengan refleksi, kita bisa mendapatkan energi kembali dan tumbuh menjadi lebih kuat. Nah, kamu bisa membangun kebiasaan refleksi dengan melakukan kebiasaan ini setiap minggunya.</p>



<p id="c82f"><strong>1. Melakukan&nbsp;<em>journaling</em></strong></p>



<p id="5f89">Siapkan buku, tablet,&nbsp;<em>gadget,&nbsp;</em>atau buka laptopmu untuk dijadikan jurnal. Pilih yang paling mudah untuk diakses dan membuatmu nyaman. Kapan pun kamu merasa terkejut, frustrasi, atau gagal, kamu bisa mengambil jeda dan mencatat perasaan tersebut ke dalam jurnal. Catat apa yang terjadi dengan cukup detail untuk mengingat kejadian tersebut seakurat mungkin. Cobalah peka terhadap perasaan dan respon tubuh. Misalnya perut merasa tidak nyaman, kepala panas, ingin menangis, atau apa pun yang mungkin terlintas di benakmu.</p>



<p id="fa97">Dalam refleksimu, coba cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kira-kira, mengapa emosi tersebut bisa terjadi?</li>



<li>Apa yang menjadi pemicunya?</li>



<li>Apakah ekspektasimu meleset?</li>



<li>Mengapa semuanya berjalan tidak sesuai dengan keinginanmu?</li>



<li>Apakah kamu melakukan kesalahan?</li>
</ul>



<p id="ff2c"><strong>2. Meluangkan waktu satu jam tiap minggu untuk meninjau jurnalmu</strong></p>



<p id="dcbc">Kamu bisa membuat&nbsp;<em>time blocking&nbsp;</em>di kalender digitalmu agar bisa lebih konsisten untuk melakukan hal ini. Tetapkan ekspektasi yang realistis, ya. Lakukan&nbsp;<em>review&nbsp;</em>ini dengan jujur. Tidak perlu membohongi perasaan atau pikiranmu tentang apa yang terjadi. Mungkin menyakitkan untuk mengetahui ada kekurangan di diri kita. Namun, bagaimana kita bisa lebih baik jika kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki?</p>



<p id="0928"><strong>3. Melakukan retrospeksi</strong></p>



<p id="1db9">Saat meninjau jurnalmu, kamu bisa retrospeksi atau merenung tentang situasi tersebut. Apa yang bisa kamu lihat secara berbeda? Apa yang salah? Apakah pengamatan awal sudah benar, atau ada hal lain yang terungkap dan berbeda di situasi sekarang? Cobalah untuk menganggap dirimu sebagai pengamat yang netral.</p>



<p id="38cc">Coba pikirkan bagaimana kamu bisa memastikan agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Jika ada kegagalan, apa yang bisa kamu pelajari? Jika terjadi kejutan, kamu akan menyadari bahwa kamu perlu menetapkan dan menata ekspektasi dengan lebih realistis. Jika kamu merasa frustrasi, kamu mungkin menyadari bahwa kamu perlu lebih baik dalam beradaptasi terhadap hal-hal yang terjadi secara mendadak dan tidak terduga.</p>



<p id="bbe8">Dengan melakukan refleksi, kamu akan tahu fakta yang terjadi, hal pahit dan tidak enak yang ada, dan itu bisa melukai perasaanmu. Maka dari itu, melakukan refleksi dengan santai dan tidak terpaksa akan mempermudah prosesmu dalam bertumbuh.</p>



<p id="df15">Ingatlah bahwa keunggulan dan pertumbuhan dapat dicapai melalui proses yang pahit. Berjalan pelan, kemudian cepat, lalu tersandung, bangun, berdiri, membersihkan debu, tersandung lagi, begitu terus siklusnya. Jika kamu mempelajari apa yang membuatmu tersandung dan jatuh, kemungkinan untuk jatuh di masa mendatang tentu akan lebih kecil.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="faf5"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="6ba3"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="ac98"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----ac8446f532dc--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/rutin-melakukan-refleksi-ternyata-menjadikanmu-pemimpin-yang-lebih-baik/">Rutin Melakukan Refleksi Ternyata Menjadikanmu Pemimpin yang Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/mengenal-imposter-syndrome-dan-cara-mengatasinya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Feb 2024 06:19:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10357</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut artikel dari Harvard Business Review, sekitar sepertiga dari generasi muda mengalami&#160;imposter syndrome&#160;atau sindrom penipu. 70% dari semua orang kemungkinan besar akan mengalaminya suatu saat dalam hidup mereka. Sindrom penipu sering kali dikaitkan dengan identitas dan rasa harga diri kita. Pada akhir tahun 70an, psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes menciptakan istilah ini dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengenal-imposter-syndrome-dan-cara-mengatasinya/">Mengenal Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="71c3">Menurut artikel dari Harvard Business Review, sekitar sepertiga dari generasi muda mengalami&nbsp;<em>imposter syndrome&nbsp;</em>atau sindrom penipu. 70% dari semua orang kemungkinan besar akan mengalaminya suatu saat dalam hidup mereka.</p>



<p id="5e4f">Sindrom penipu sering kali dikaitkan dengan identitas dan rasa harga diri kita. Pada akhir tahun 70an, psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes menciptakan istilah ini dalam sebuah makalah penelitian, dan ada tiga ciri dari sindrom ini:</p>



<p id="da45">&#8211; Berpikir bahwa orang lain mempunyai pandangan berlebihan terhadap kemampuanmu</p>



<p id="db7c">&#8211; Takut terungkap sebagai penipuan</p>



<p id="8f2a">&#8211; Kecenderungan terus-menerus untuk meremehkan pencapaianmu</p>



<p id="f44b">Sindrom penipu biasanya muncul ketika kita memutuskan untuk mengambil peran baru atau tanggung jawab baru. Misalnya ketika kamu menjadi karyawan baru, atau baru pertama kali memimpin tim. Di mana, situasi yang tidak nyaman tersebut dapat menimbulkan perasaan ragu, cemas, hingga merasa bersalah. Orang yang mengalami&nbsp;<em>imposter syndrome&nbsp;</em>akan menyabot kesuksesan sendiri, terobsesi dengan kesalahan kecil, atau bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri.</p>



<p id="187b">Lalu, bagaimana cara mengatasi perasaan yang merusak tersebut? Berikut adalah beberapa strateginya.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="9650"><strong>Mempertahankan pola pikir positif</strong></h2>



<p id="5fb0">Siapa yang pernah merasa tidak percaya terhadap diri sendiri?</p>



<p id="7a67">Banyak dari kita cenderung meremehkan apa yang sudah kita lakukan atau capai. Hal ini bisa bersembunyi dari sikap rendah hati, kemudian mengabaikan pencapaian tersebut dan mengatakan bahwa yang kita dapatkan adalah hasil dari keberuntungan. Meskipun rendah hati adalah sifat yang baik, namun jika berlebihan akan mengakibatkan kerugian.</p>



<p id="ddf5">Contohnya, ketika atasanmu memberi tugas yang kamu rasa tidak mampu untuk memimpinnya, kamu menjadi ragu. Daripada terus memikirkan alasan atasanmu memilihmu untuk tugas tersebut, atau memikirkan segala sesuatu yang mungkin salah, tetaplah berada di masa sekarang dan akui kenyataan yang ada. Faktanya adalah atasan percaya dan memilihmu karena ia yakin kamu memiliki kemampuan untuk mengerjakannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="9517"><strong>Merayakan kemenangan</strong></h2>



<p id="05c7">Fokus pada proses memang baik. Namun, jangan lupa untuk menikmati dan merayakan apa yang sudah kita capai sebagai bentuk rasa syukur atas segala upaya kita. Tidak apa-apa untuk berhenti sebentar dan menghargai diri sendiri. Mungkin beberapa di antara kita ada yang merasa bahwa mengambil jeda adalah hal sia-sia dan membuang waktu berharga. Tapi, cara tersebut adalah cara paling sederhana untuk membuang&nbsp;<em>imposter syndrome.</em></p>



<p id="e3af">Misalnya, jika kamu menulis postingan di LinkedIn untuk merayakan pekerjaan baru, pertimbangkan untuk menyebutkan apa yang kamu pelajari selama proses perekrutan. Apakah kamu menyadari bahwa&nbsp;<em>soft skill&nbsp;</em>A, B, atau C sangat penting selama kamu menjalani proses perekrutan. Apa pun itu, ceritakan saja dan jangan disimpan sendiri. Kamu tidak akan pernah tahu siapa saja orang yang mungkin akan terpengaruh secara positif dari ceritamu.</p>



<p id="9108">Kamu juga bisa merayakannya dengan makan malam di resto atau kafe favorit, bercerita ke sahabat, atau membeli suatu barang yang bermanfaat untuk diri sendiri. Lakukan sesuatu untuk dirimu. Tidak harus besar, tetapi itu penting bagimu. Mengutip dari artikel Harvard Business Review, saat kita menyadari kemenangan kita (berapa pun ukurannya), otak kita melepaskan neurotransmitter dopamin yang membuat kita merasa nyaman, yang memotivasi kita untuk mencapai lebih banyak lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="1c5d"><strong>Menggunakan media sosial dengan bijak</strong></h2>



<p id="8355">Kamu dapat memanfaatkan internet secara positif untuk menghilangkan&nbsp;<em>imposter syndrome.&nbsp;</em>Cari tahu orang yang kamu kagumi dan bagaimana mereka dapat mencapai posisi mereka saat ini. Misalnya, Michelle Obama. Lewat Google, kamu akan tahu dan melihat videonya di YouTube tentang perasaan dan&nbsp;<em>imposter syndrome&nbsp;</em>yang ia alami sepanjang karirnya. Risiko yang diambilnya membuahkan kesuksesan dan menjadi pengingat untuk kita bahwa jangan pernah meragukan potensi dirimu.</p>



<p id="ad0f">Agar kamu bisa mengatasi&nbsp;<em>imposter syndrome&nbsp;</em>lewat internet, latih kesadaran diri saat berselancar di sosial media. Tidak apa-apa untuk&nbsp;<em>unfollow&nbsp;</em>orang yang menjatuhkanmu dan fokus pada konten yang memberikan dampak positif untukmu.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="6cee"><strong>Membuat rencana yang terorganisir</strong></h2>



<p id="bce1">Cara baik untuk mengelola perasaan cemas adalah dengan mengatur diri. Kamu dapat membagi tujuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, lalu rencanakan untuk mencapainya satu per satu. Meskipun menyelesaikan banyak tugas bisa terasa membebani, bersikap konsisten akan membawamu jauh lebih baik.</p>



<p id="bc76">Seperti yang dituliskan oleh James Clear dalam bukunya, Atomic Habits, kamu dapat menyisihkan waktu di kalender untuk mengerjakan tugas terpenting dalam seminggu. Clear merekomendasikan penjadwalan sejumlah waktu untuk menyelesaikan beberapa tugas yang lebih kecil dan berdampak lebih rendah (membaca email, menyalin, menjadwalkan, dll.) dan memisahkan sejumlah waktu untuk bekerja secara eksklusif pada proyek yang berdampak lebih tinggi (satu per satu). Dengan cara ini, kamu mengatur apa yang perlu kamu lakukan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.</p>



<p id="8fb3"><em>Imposter syndrome </em>bisa dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali kita yang membaca artikel ini. Bagian penting dari perjalanan mengatasi <em>imposter syndrome </em>adalah belajar dari pengalaman yang sudah dialami. Tidak semua nasihat bisa diterapkan untuk orang lain, meski mungkin nasihat itu cocok untuk kita. Jadi, penting untuk membuat catatan atau melakukan tinjauan dari kejadian yang kita alami, dan renungkan apa yang terbaik untuk kamu lakukan.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="d883"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="04bc"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="f8a8"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----07f7e03447cf--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mengenal-imposter-syndrome-dan-cara-mengatasinya/">Mengenal Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Personal Branding di Tempat Kerja, Mulai Dari Mana?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/membangun-personal-branding-di-tempat-kerja-mulai-dari-mana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2024 03:36:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Brand]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=10353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Layaknya di dunia komersial, sebuah merek tidak akan punya nilai apabila konsumen tidak menyadarinya. Produk A tidak akan laris di pasaran jika ternyata konsumen tidak tahu akan kelebihan produk tersebut. Begitu halnya di dunia kerja. Orang tidak akan tahu kamu adalah seorang fotografer yang jago, jika kamu tidak menunjukkannya. Orang tidak akan tahu bahwa kamu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/membangun-personal-branding-di-tempat-kerja-mulai-dari-mana/">Membangun Personal Branding di Tempat Kerja, Mulai Dari Mana?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="8013">Layaknya di dunia komersial, sebuah merek tidak akan punya nilai apabila konsumen tidak menyadarinya. Produk A tidak akan laris di pasaran jika ternyata konsumen tidak tahu akan kelebihan produk tersebut.</p>



<p id="749b">Begitu halnya di dunia kerja. Orang tidak akan tahu kamu adalah seorang fotografer yang jago, jika kamu tidak menunjukkannya. Orang tidak akan tahu bahwa kamu adalah programmer handal jika kamu tidak membuat proyek yang bermanfaat.</p>



<p id="b7ed">Jadi, untuk bisa ‘tampil’, terlihat, atau orang lain mengenalimu sebagai pribadi dan seseorang yang punya banyak nilai, kamu perlu membangun&nbsp;<em>personal branding</em>, atau merek secara personal.</p>



<p id="9ecb">Berikut adalah langkah-langkah taktis untuk membangun&nbsp;<em>personal branding</em>, berdasarkan sumber dari Harvard Business Review.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="becb"><strong>Langkah pertama</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading" id="7569"><strong>Cari tahu apa yang mendorongmu</strong></h3>



<p id="3907">Jika kamu bingung harus mulai dari mana, maka kamu bisa menjawab beberapa pertanyaan ini:</p>



<p id="4fe9">Apa yang memotivasimu untuk bangun di pagi hari dan berangkat kerja?</p>



<p id="1e18">Keterampilan atau bakat apa yang paling kamu banggakan?</p>



<p id="9347">Keterampilan apa yang membuatmu penasaran tetapi belum dikembangkan?</p>



<p id="bad3">Tugas atau proyek seperti apa yang memberi energi bagimu?</p>



<p id="9c79">Mata pelajaran apa yang paling menarik minatmu?</p>



<p id="334c">Sepuluh tahun dari sekarang, kontribusi apa yang ingin kamu berikan kepada dunia?</p>



<p id="17c0">Apa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang paling kamu kagumi?</p>



<p id="466f">Kamu dapat menulis jawabannya dan perhatikan apakah ada tumpang tindih atau keselarasan yang dapat kamu temukan. Jawaban tersebut dapat membantumu untuk mengidentifikasi, apakah nilaimu, keyakinan, atau tujuan yang saat ini mendorongmu untuk bergerak maju.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="c753"><strong>Langkah kedua</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading" id="8d70"><strong>Menyelaraskan nilaimu dengan tujuan organisasi</strong></h3>



<p id="dfd1">Kamu dapat mencoba untuk lebih peka dengan orang-orang dan lingkungan yang ada di sekitar tempat kerjamu. Amati orang-orang yang sukses dan kamu kagumi di perusahaan. Apa kekuatan mereka yang paling berharga? Bagaimana perilaku mereka membantu bisnis bergerak maju?</p>



<p id="e815">Sekarang, kembali ke langkah pertama, dan renungkan tujuan dan nilai yang kamuidentifikasi. Apakah kamu melihat adanya keselarasan antara keahlianmu saat ini dan kualitas yang dihargai oleh organisasimu? Jika ya, fokuslah pada pengembangan bidang-bidang tersebut. Jika tidak, Anda mungkin perlu memperluas kompetensimu.</p>



<p id="4417">Contoh, kamu adalah salah satu anggota tim divisi&nbsp;<em>Research and Development</em>&nbsp;di industri FMCG (<em>Fast Moving Consumer Goods</em>). Dari hasil pengamatanmu, perusahaanmu secara teratur menghadirkan produk-produk baru yang paling mutakhir ke pasar dan menghargai para pemimpin yang menantang status quo dan berpikir di luar kebiasaan. Bagaimana kekuatanmu saat ini selaras dengan tujuan perusahaan? Kamu melihat dirimu sebagai orang yang kreatif, suka memecahkan masalah yang kompleks. Oleh karena itu, kamu dapat memilih kata kunci “inovator” sebagai atribut merek pribadi utamamu.</p>



<p id="9cdd">Langkah berikutnya, kamu perlu mengidentifikasi sifat dan perilaku spesifik yang perlu dikembangkan dan ditunjukkan secara konsisten oleh seorang inovator. Ini bisa berupa karakter, solusi, ide dan masukan dari berbagai sumber, hingga umpan balik dari orang lain ketika diskusi.</p>



<p id="2e61">Pada akhirnya, tujuanmu adalah menyelaraskan minatmu dengan nilai-nilai inti organisasi dan menggunakan semangat tersebut untuk mendorong pertumbuhan profesional dan memperkuat merek pribadimu.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="d182"><strong>Langkah ketiga</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading" id="0f8b"><strong>Memetakan siapa saja pemangku kepentingannya</strong></h3>



<p id="0f5a">Kamu dapat membuat peta pemangku kepentingan yang dapat membantumu untuk mengenali pihak-pihak yang memberi pengaruh di organisasimu. Kemudian, kamu dapat menyusun strategi untuk bisa terhubung dengan mereka, baik secara formal atau informal. Kamu bisa menuliskan daftar sederhana orang-orang yang ingin kamu kenal atau orang-orang yang dapat membantumu maju dalam organisasi. Kamu dapat mencari tahu tentang minat mereka, tantangan profesional, masalah yang mereka coba selesaikan, keterlibatan dalam jaringan alumni, dan lain-lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="0a0b"><strong>Langkah keempat</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading" id="696b"><strong>Kamu harus terlihat</strong></h3>



<p id="befe">Dari daftar orang-orang yang ingin kamu ‘dekati’, kamu perlu menjangkau mereka. Jika kamu masih baru, mungkin rasanya akan canggung, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan. Contohnya menghubungi atasan, kolega senior, atau rekan kerja satu tim yang sudah lama bekerja di perusahaan untuk membantumu melakukan beberapa perkenalan.</p>



<p id="c67e">Saat kamu terhubung dengan mereka, lihat apakah mereka bersedia bertemu untuk minum kopi atau makan siang sebentar. Kamu dapat menyusun pertanyaan dengan meminta nasihat mereka tentang suatu topik dalam bidang keahlian mereka, atau bahkan mungkin menyebutkan kesamaan dalam latar belakang, misal hobi, aspirasi, atau afiliasi alumni yang sama.</p>



<p id="41b8">Jika kamu memiliki gagasan atau ide yang menarik, tidak perlu takut untuk menceritakannya. Kamu dapat menyoroti keahlian, minat, dan bagaimana hal tersebut dapat bermanfaat untuk mereka. Nyatakan apa saja yang ingin kamu capai, dan paling penting bagaimana hal tersebut dapat membuat perbedaan dalam organisasi. Contohnya, kamu ingin terhubung dengan Wakil Presiden Pemasaran di perusahaan, dan menuliskan pesan berikut:</p>



<p id="3d87">Hai Jennifer! Pada pertemuan balai kota baru-baru ini, Anda berbicara tentang pentingnya mendapatkan wawasan pelanggan yang lebih baik untuk membantu kami mengembangkan dan melaksanakan strategi bisnis kami dengan lebih efektif. Saya tertarik dengan analisis data dan telah bekerja sebagai analis selama tiga tahun terakhir. Saya ingin berbagi beberapa ide tentang penggunaan visualisasi data interaktif untuk menerjemahkan kumpulan data menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti untuk kampanye pemasaran digital kami yang ada. Bisakah kita menjadwalkan kopi virtual selama 20 menit untuk berdiskusi?</p>



<p id="524f">Kuncinya adalah menunjukkan ketertarikan yang tulus pada kolega. Apa yang mereka pedulikan dan masalah apa yang ingin mereka selesaikan. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan kekuatanmu yang dapat menjadi simbiosis mutualisme bagi mereka.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="fa3a"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="3792"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="35db"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----acc80ee7dbfd--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/membangun-personal-branding-di-tempat-kerja-mulai-dari-mana/">Membangun Personal Branding di Tempat Kerja, Mulai Dari Mana?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ingin Startupmu Sukses? Perkuat Tim Startup-mu dengan 5 Langkah Ini</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/ingin-startupmu-sukses-perkuat-tim-startup-mu-dengan-5-langkah-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2022 08:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8466</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap startup–atau organisasi serta perusahaan–membutuhkan strategi komunikasi yang baik untuk meminimalisasi konflik dan beralih ke pola diskusi yang produktif. . . . Coba bayangkan, suatu hari kamu datang terlambat ke sebuah rapat di kantor. Pernyataan mana yang akan membuatmu lebih tenang: pertama, “kamu tuh datang terlambat terus ya saat rapat”, atau kedua, “kamu datang terlambat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/ingin-startupmu-sukses-perkuat-tim-startup-mu-dengan-5-langkah-ini/">Ingin Startupmu Sukses? Perkuat Tim Startup-mu dengan 5 Langkah Ini</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="06d9"><em>Setiap startup–atau organisasi serta perusahaan–membutuhkan strategi komunikasi yang baik untuk meminimalisasi konflik dan beralih ke pola diskusi yang produktif.</em></p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="7ce3">Coba bayangkan, suatu hari kamu datang terlambat ke sebuah rapat di kantor. Pernyataan mana yang akan membuatmu lebih tenang: pertama, “kamu tuh datang terlambat terus ya saat rapat”, atau kedua, “kamu datang terlambat lagi saat rapat… ada apa?”</p>



<p id="0b97">Tak jarang, pernyataan pertama lebih berpotensi berujung konflik. Memang konflik dan perdebatan di dalam tim adalah hal yang wajar. Bahkan sering kali, konflik menjadi salah satu langkah besar menghasilkan ide dan inovasi yang membuat startupmu lebih berkembang. Namun, bukan berarti pola komunikasi selalu diwarnai konflik. Sebab, konflik yang tak terselesaikan dan mengandung anggapan sepihak bisa berujung perpecahan tim.</p>



<p id="7ac1">Setiap startup–atau organisasi serta perusahaan–membutuhkan strategi komunikasi yang baik untuk meminimalisasi konflik dan beralih ke pola diskusi yang produktif.</p>



<p id="f2ca"><strong>Sebetulnya, apa yang dimaksud dengan pola komunikasi yang baik dan produktif?</strong></p>



<p id="9ee0">Menurut pelatih eksekutif terkenal Ann Mehl dan Jerry Colonna, ada perbedaan besar antara berbicara dan berbicara agar kamu dapat didengar. Dengan pengalaman melatih pemimpin senior di perusahaan seperti Kickstarter, Etsy, SoundCloud, dan banyak lagi, mereka muncul dengan taktik konkret untuk memperbaiki dan membangun komunikasi yang baik. Menekankan kesadaran, tanggung jawab dan empati, metode ini disebut&nbsp;<em>non-violence communication&nbsp;</em>atau “komunikasi tanpa kekerasan”.</p>



<p id="aa94">Pilihan bahasa memiliki dampak besar pada apa yang dapat kamu lakukan. Penggunaan atau penyalahgunaan kata-kata kita dalam percakapan sehari-hari dapat bersifat transformatif atau destruktif. Dan meski kamu mungkin tidak menganggap apa pun yang pernah kamu katakan sebagai “kekerasan”, Mehl telah melihat bagaimana kata-kata dapat memicu perpecahan di tempat kerja.</p>



<p id="96ce">“Komunikasi tanpa kekerasan memungkinkan kita membingkai ulang cara kita mengekspresikan diri dan mendengarkan orang lain,” katanya. “Teknik ini membantu kita berbicara tentang apa yang kita amati, bagaimana perasaan kita, apa kebutuhan kita, dan bagaimana kita menanggapi permintaan orang lain,”</p>



<p id="ad8c">Tujuan komunikasi tanpa kekerasan — terkadang disebut komunikasi welas asih — adalah untuk memberdayakan fungsi memberi dan menerima. Jika diterapkan dengan benar, ini dapat menggantikan reaksi spontan dan pola lama yang tidak efektif. Itu bisa dibangun seperti kebiasaan apa pun.</p>



<p id="d265">Salah satu tekniknya adalah<strong><em>&nbsp;A-E-I-O-U Model of Managing Conflict.</em></strong></p>



<p id="b047">A-E-I-O-U, yang merupakan singkatan dari&nbsp;<strong><em>Acknowledge, Express, Identify, Outcome, and Understanding</em></strong>&nbsp;(Akui, Ekspresikan, Identifikasi, Hasil, dan Pemahaman), adalah metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kebuntuan komunikasi: anggota tim-ke-<em>founder</em>, peer-to-peer,&nbsp;<em>co-founder</em>&nbsp;ke&nbsp;<em>founder</em>. Ini sangat berguna untuk startup awal agar semua orang mengenal satu sama lain dan belajar bersama. Tidak peduli berapa usia perusahaanmu atau bagaimana strukturnya, anggota tim harus selalu merasa nyaman mendekati manajer dan berkomunikasi di lapangan permainan yang setara. Aturan lainnya: menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi menjadi tujuan utama. Untuk melakukan itu, kamu harus memisahkan orang yang berkonflik denganmu dari masalah itu.</p>



<p id="405d"><strong>Seperti apa metode A-E-I-O-U diterapkan?</strong></p>



<p id="3db7">Jika dijabarkan, metode ini terdiri dari:</p>



<p id="3ad6"><strong>MENGAKUI (<em>acknowledge</em>)</strong>: (Lihat niat positif) Asumsikan orang lain dalam argumen bermaksud baik. Cobalah untuk memahami alasannya dan nyatakan dengan lantang langsung kepada mereka. Beritahukan bahwa kamu tahu mereka mencoba melakukan sesuatu yang baik, dan bahwa kamu memahami mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.</p>



<p id="84eb"><strong>EXPRESS (<em>express</em>)</strong>: (Apa yang kamu lihat) Tegaskan niat positif yang telah kamu identifikasi dan ungkapkan perhatian khusus kamu sendiri. Berikan pernyataan yang tulus dengan kata-katamu sendiri: “Saya berpikir/saya merasa.” Jika kamu menengahi konflik, undanglah masing-masing pihak untuk meluangkan waktu beberapa menit untuk mengklarifikasi kekhawatiran atau masalah mereka secara tepat.</p>



<p id="bcae"><strong>IDENTIFIKASI (<em>identify</em>)</strong>: (Mengusulkan solusi) Tentukan dengan jelas tujuan dan rekomendasimu. Apa hasil yang ingin kamu capai?. Cobalah membangun konsensus dengan menunjukkan bagaimana solusi kamu akan menyelesaikan masalah semua orang, bukan hanya masalahmu sendiri .</p>



<p id="3b9e"><strong>HASIL (<em>outcome</em>)</strong>: (Uraikan manfaatnya) Apa untungnya bagi lawanmu jika mereka setuju memakai solusi darimu? Orang merespons lebih positif ketika mereka dapat melihat alasan kuat mengubah tindakan atau perilaku mereka. Jangan lupa salah satu motivator yang paling kuat adalah pengakuan sederhana (yaitu “Terima kasih, saya menghargai fleksibilitasmu dalam masalah ini,” atau “Saya berutang budi kepadamu”). Pernyataan seperti ini sangat membantu membangun harmoni.</p>



<p id="d398"><strong>PENGERTIAN (<em>understanding</em>)</strong>: (Minta umpan balik) Buat kesepakatan tentang tindakan atau langkah berikutnya, atau bekerja sama untuk mengembangkan alternatif. Menanyakan sesuatu seperti, “Bisakah kita setuju untuk mencoba ini sebentar untuk melihat apakah ini berhasil untuk kita berdua?” memberi orang lain pilihan untuk menerima proposalmu tanpa mengakui kekalahan.</p>



<p id="9859">Keberhasilan sebuah startup dibangun dari hal-hal kecil, salah satunya adalah pola komunikasi dan penyelesaian konflik yang baik. Karenanya, bangunlah kesuksesan startupmu perlahan dan memulainya dengan penerapan metode A-E-I-O-U di dalam pola komunikasi antar tim kamu. Semangat ya, <em>founders</em>!</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="f809"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="ab2a"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="9fb4"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/ingin-startupmu-sukses-perkuat-tim-startup-mu-dengan-5-langkah-ini/">Ingin Startupmu Sukses? Perkuat Tim Startup-mu dengan 5 Langkah Ini</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mau Jadi Founder, Harus Punya Keterampilan Apa Saja?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/mau-jadi-founder-harus-punya-keterampilan-apa-saja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2022 06:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Founder]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8459</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ingin menjadi&#160;founder&#160;startup, keterampilan apa saja yang harus dipelajari dan dikuasai? Apakah menjadi&#160;founder&#160;harus jago dalam bidang teknologi? Mengapa keterampilan-keterampilan tersebut penting? Artikel ini menjawab semua pertanyaan di atas berdasarkan riset yang dilakukan oleh Tom Eisenmann, Rob Howe, dan Beth Altringer. Hasil penelitian dipublikasikan lewat artikel Harvard Business Review, di mana penulis mengajukan pertanyaan kepada&#160;founder&#160;yang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mau-jadi-founder-harus-punya-keterampilan-apa-saja/">Mau Jadi Founder, Harus Punya Keterampilan Apa Saja?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="571f">Jika ingin menjadi&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;startup, keterampilan apa saja yang harus dipelajari dan dikuasai? Apakah menjadi&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;harus jago dalam bidang teknologi? Mengapa keterampilan-keterampilan tersebut penting?</p>



<p id="7b04">Artikel ini menjawab semua pertanyaan di atas berdasarkan riset yang dilakukan oleh Tom Eisenmann, Rob Howe, dan Beth Altringer. Hasil penelitian dipublikasikan lewat artikel Harvard Business Review, di mana penulis mengajukan pertanyaan kepada&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;yang merupakan alumni dari Harvard Business Review. Secara garis besar, penelitian berfokus untuk mencari jawaban atas, “Apa yang perlu diketahui oleh orang yang ingin menjadi pendiri startup?” Berikut merupakan ulasannya.</p>



<p id="0828"><strong>1. Keterampilan yang dimiliki tergantung pada tahapan startup yang sedang dijalani</strong>. Keterampilan&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;akan berubah seiring dengan skala perusahaan yang semakin besar. Contohnya adalah pada tahap&nbsp;<em>early stage,&nbsp;</em>maka fokuslah pada keterampilan desain dan pengembangan produk,&nbsp;<em>pitching,&nbsp;</em>serta formula merancang tim. Di tahapan selanjutnya, keterampilan akan punya bobot lebih besar untuk merekrut karyawan ahli, mengkomunikasikan visi pada karyawan baru, dan manajemen budaya perusahaan.</p>



<p id="46c7"><strong>2. Memilih mitra kerja seperti&nbsp;<em>co-founder&nbsp;</em>ternyata punya peran besar.</strong>&nbsp;Penting sekali belajar bagaimana membentuk tim pendiri yang saling memperkuat peran satu sama lain. Pendiri harus bisa menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga paham bagaimana merekrut dan memberikan motivasi untuk anggota tim pendiri yang lain. Seperti saling melengkapi.</p>



<p id="5785"><strong>3. Seorang pendiri harus memiliki pemikiran terbuka, termasuk ketika mendapatkan umpan balik.&nbsp;</strong>Bagaimana<strong>&nbsp;</strong>contohnya? Menerima pendapat orang lain dan tidak bersikap defensif, seolah dirinya sendiri yang paling benar. Jika ditilik lebih dalam, faktor ini lebih berhubungan pada mental sebagai seorang pemimpin. Selanjutnya,&nbsp;<em>founder&nbsp;</em>perlu untuk memprioritaskan mana yang menjadi fokus, apa yang harus didelegasikan, serta hal apa yang harus dikerjakan seorang diri.</p>



<p id="c063"><strong>4. Saat startup ada di tahap awal,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;harus punya pemahaman yang luas tentang kebutuhan pelanggan.</strong>&nbsp;Dilanjutkan dengan melakukan iterasi dan pengujian cepat untuk dapat membuktikan bahwa produk mereka mencapai&nbsp;<em>product-market fit.&nbsp;</em>Sebagai&nbsp;<em>founder</em>, jangan sampai terjebak teknologi adalah segalanya. Karena,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;tetap harus berbicara dengan pelanggan dan mengutamakan kebutuhan mereka.</p>



<p id="ff2f"><strong>5. Keterampilan penjualan adalah hal yang penting ketika sudah menjadi&nbsp;<em>founder</em>.&nbsp;</strong>Apa pun latar belakang pendidikanmu, ilmu penjualan akan selalu digunakan sampai kapan pun. Yang paling sederhana, sebenarnya ketika di awal menjadi&nbsp;<em>founder</em>, kamu harus bisa ‘menjual’ keterampilanmu untuk bisa menarik minat&nbsp;<em>co-founder</em>&nbsp;dan bergabung denganmu. Kamu sebagai&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;harus bisa ‘menjual’ visi misimu dalam merekrut anggota tim. Dan proses ‘menjual’ yang lainnya.</p>



<p id="c322">Selain ilmu penjualan, ada satu keterampilan lagi yang menarik untuk diulik, yaitu&nbsp;<em>storytelling.&nbsp;</em>Ternyata&nbsp;<em>storytelling&nbsp;</em>adalah kemampuan yang mungkin dianggap remeh, namun perlu untuk dipelajari. Sebab, dengan menyusun dan mengkomunikasikan kisah menarik tentang perusahaanmu, maka orang lain (baik itu pelanggan, calon karyawan, hingga investor) dapat menerima ceritamu dan tidak segan untuk terus mengikuti perjalananmu.</p>



<p id="811f"><strong>6. Kemampuan negosiasi sering dibutuhkan ketika menjadi&nbsp;<em>founder</em>.&nbsp;</strong>Baik itu misalnya&nbsp;<em>dealing&nbsp;</em>dengan investor, atau bekerja sama dengan pihak ketiga seperti vendor. Sama seperti kemampuan penjualan, kemampuan negosiasi sering dianggap sebagai ilmu yang tidak diutamakan untuk dipelajari. Padahal bagi seorang&nbsp;<em>founder</em>, negosiasi justru sangat penting.</p>



<p id="ce13"><strong>7. Setelah memiliki bisnis sendiri, memang sebagai&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;kita bisa mempekerjakan orang lain yang lebih ahli di bidangnya.</strong>&nbsp;Namun setidaknya,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;harus memiliki dasar ilmu tentang beberapa keterampilan, salah satunya keuangan. Bagaimana model bisnismu berjalan dan dapat menghasilkan keuangan? Seperti apa alur kerja uang yang masuk dan keluar? Bagaimana bisa startupmu mendapatkan pendanaan? Seperti apa strategi dalam penggunaan dana setelah mendapatkan fundraising? Dan lain-lainnya yang harus kamu pelajari lebih dalam. Tujuannya agar kamu tidak mudah terjebak dalam hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti penipuan, penggelapan dana, dan ‘kamuflase’ keuangan lain yang bisa saja terjadi apabila tidak hati-hati.</p>



<p id="dac3">Kesimpulannya, hasil survei mendapati bahwa tidak ada satu keterampilan yang lebih menonjol di antara yang lainnya. Responden memberi pernyataan bahwa <em>founder</em> perlu menjadi <em>jack of all trade </em>atau orang yang serba tahu. <em>Founder</em> membutuhkan penguasaan keterampilan manajemen yang cukup luas. Jadi, ternyata fokus di satu bidang saja dan menjadi <em>expert </em>tidaklah cukup untuk bisa menjadi <em>founder</em> sukses dan berpengaruh.</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="054e"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="7dbb"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="b6e4"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/mau-jadi-founder-harus-punya-keterampilan-apa-saja/">Mau Jadi Founder, Harus Punya Keterampilan Apa Saja?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkuat 3 Hal Ini Jika Kamu Ingin Jadi Leader yang Dipercaya</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/perkuat-3-hal-ini-jika-kamu-ingin-jadi-leader-yang-dipercaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2022 04:18:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Leader]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=8436</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kepercayaan adalah mata uang penting dalam organisasi. Ibaratnya, jika seorang pemimpin tidak dipercaya oleh para karyawannya, bagaimana mungkin perusahaannya dapat melaju kencang dan berkinerja sesuai rencana? Mustahil rasanya. Kepercayaan sama dengan&#160;value&#160;yang bahkan jumlahnya tidak dapat ditentukan. Buktinya, orang akan lebih sulit untuk percaya untuk yang kedua kali setelah rasa kepercayaannya diingkari. Akan jauh lebih mudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/perkuat-3-hal-ini-jika-kamu-ingin-jadi-leader-yang-dipercaya/">Perkuat 3 Hal Ini Jika Kamu Ingin Jadi Leader yang Dipercaya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="2918">Kepercayaan adalah mata uang penting dalam organisasi. Ibaratnya, jika seorang pemimpin tidak dipercaya oleh para karyawannya, bagaimana mungkin perusahaannya dapat melaju kencang dan berkinerja sesuai rencana? Mustahil rasanya.</p>



<p id="5eb9">Kepercayaan sama dengan&nbsp;<em>value&nbsp;</em>yang bahkan jumlahnya tidak dapat ditentukan. Buktinya, orang akan lebih sulit untuk percaya untuk yang kedua kali setelah rasa kepercayaannya diingkari. Akan jauh lebih mudah untuk membangun rasa kepercayaan sebagai pemimpin, dan meningkatkan kredibilitas dari sini. Itulah mengapa kepercayaan ‘harganya’ sangat mahal.</p>



<p id="dd78">Untuk mendukung hal tersebut, berikut adalah beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kepercayaan. Sumber diambil dari artikel yang dipublikasikan dari Harvard Business Review, yang ditulis oleh Jack Zenger dan Joseph Folkman. Berikut adalah ulasannya:</p>



<p id="3813"><strong>1. Hubungan yang positif</strong></p>



<p id="1f1a">Semakin tinggi tingkat kepercayaan seseorang, biasanya semakin tinggi pula kualitas hubungan dari orang tersebut. Seorang pemimpin yang memiliki hubungan positif dengan anggota timnya, pada umumnya juga dipercaya oleh anggotanya. Agar kepercayaan dapat tumbuh dan tertanam dengan kuat, seorang pemimpin harus dapat:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Tetap berkomunikasi dan berhubungan dengan masalah dan keresahan orang lain</li>



<li>Menyeimbangkan hasil dengan kepedulian terhadap orang lain</li>



<li>Menciptakan kerja sama yang suportif</li>



<li>Mampu menyelesaikan konflik</li>



<li>Memberikan umpan balik yang jujur ​​dengan cara yang bermanfaat</li>
</ul>



<p id="72b3"><strong>2. Memiliki keahlian dan mampu memberikan penilaian dengan baik</strong></p>



<p id="6d49">Hal lainnya yang mempengaruhi tingkat kepercayaan adalah apakah orang tersebut ahli dan punya pengetahuan. Sebagai pemimpin yang dapat dipercaya, harus memiliki keterampilan terkait pekerjaan, misalnya tentang hal teknis atau pengalaman. Mengapa hal ini penting?</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Orang yang dapat dipercaya memberikan penilaian yang baik ketika mengambil keputusan</li>



<li>Orang lain dapat mempercayai ide dan pendapat yang diberikan oleh orang ahli, berpengalaman, atau bijak dalam mengambil keputusan</li>



<li>Orang lain akan mencari pendapat pemimpin yang dapat dipercaya</li>



<li>Pengetahuan dan keahlian orang tersebut akan memberikan kontribusi penting bagi hasil</li>



<li>Dapat mengenali masalah dan meresponnya dengan cepat</li>
</ul>



<p id="cdb6"><strong>3. Konsistensi</strong></p>



<p id="5d34">Yang menjadi poin paling ditunggu dari kepercayaan adalah tentang bukti atau konsistensi. Sejauh mana pemimpin dapat merealisasikan apa yang mereka bicarakan. Orang lain akan memberikan penilaian bahwa pemimpin tersebut dapat dipercaya apabila:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Pemimpin adalah sosok yang disegani dan menjadi panutan</li>



<li>Pemimpin tidak hanya berkata baik, namun juga dapat memberikan contoh yang baik</li>



<li>Terlibat dalam pembicaraan dan berkomunikasi</li>



<li>Menghormati komitmen dan menepati janji</li>



<li>Dapat menindaklanjuti komitmen</li>



<li>Bersedia mengerjakan lebih baik, atau melampaui apa yang perlu dilakukan</li>
</ul>



<p id="0afb">Kesimpulannya, orang-orang yang menjadi pemimpin tidak perlu menjadi ‘sempurna’ agar berhasil menjadi pemimpin hebat. Namun dalam hal kepercayaan, ketiga elemen di atas jumlahnya harus di atas rata-rata. Standar paling rendah dalam penelitian ditunjukkan pada angka 60%. Artinya, ketiga elemen tersebut harus memiliki ukuran lebih dari 60% agar pemimpin merasa dapat dipercaya oleh karyawan, rekan kerja, dan kolega lainnya.</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="de64"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="2bac"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="ba66"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/perkuat-3-hal-ini-jika-kamu-ingin-jadi-leader-yang-dipercaya/">Perkuat 3 Hal Ini Jika Kamu Ingin Jadi Leader yang Dipercaya</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Founders, Kenali Cara Mengendalikan Energi dan Stres di Masa Sulit</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/founders-kenali-cara-mengendalikan-energi-dan-stres-di-masa-sulit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 May 2022 02:24:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=7399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang&#160;entrepreneur, tentu banyak dari kamu yang menyadari bahwa menjalankan bisnis merupakan perjalanan yang dinamis, penuh tantangan, dan ketidakpastian.&#160;Trigger&#160;eksternal tersebut seringkali membuat banyak orang merasa tertantang, dan sebagian orang merasa frustasi dan ingin menyerah. Namun, hal berikutnya yang harus kamu sadari adalah ketegaran dan kestabilan emosi sebagai seorang&#160;founder&#160;juga dibutuhkan dalam perjalanan ini. Sebab, sebagai kepala [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/founders-kenali-cara-mengendalikan-energi-dan-stres-di-masa-sulit/">Founders, Kenali Cara Mengendalikan Energi dan Stres di Masa Sulit</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="ee4c">Sebagai seorang&nbsp;<em>entrepreneur</em>, tentu banyak dari kamu yang menyadari bahwa menjalankan bisnis merupakan perjalanan yang dinamis, penuh tantangan, dan ketidakpastian.&nbsp;<em>Trigger</em>&nbsp;eksternal tersebut seringkali membuat banyak orang merasa tertantang, dan sebagian orang merasa frustasi dan ingin menyerah.</p>



<p id="2bff">Namun, hal berikutnya yang harus kamu sadari adalah ketegaran dan kestabilan emosi sebagai seorang&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;juga dibutuhkan dalam perjalanan ini. Sebab, sebagai kepala dari anggota tim, maupun karyawan dari semua divisi akan sangat bergantung pada setiap keputusan yang kamu buat. Maka dari itu, mari sama-sama membahas cara terbaik untuk bertahan di masa sulit!</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="3b15"><strong>Empat Zona menurut Tony Schwartz</strong></h2>



<p id="eeb5">Tony Schwartz, CEO dari The Energy Project (sebuah&nbsp;<em>startup</em>&nbsp;yang fokus kepada jasa&nbsp;<em>employee wellbeing</em>), menggolongkan keadaan-keadaan yang biasa dialami seorang&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;menjadi&nbsp;<strong>empat zona</strong>:</p>



<p id="237d"><strong><em>Performance Zone</em></strong>&nbsp;adalah keadaan di mana seorang sedang memiliki banyak energi dalam konteks yang sangat positif. Merasa sangat terpompa, bersemangat, dan siap menghadapi tantangan apapun.</p>



<p id="0467"><strong><em>Survival Zone</em></strong>&nbsp;adalah keadaan di mana kamu harus mulai berhati-hati, sebab kamu merasa penuh energi, tetapi tidak dalam konteks yang cukup positif. Keadaan ini menggambarkan orang-orang yang mudah terpicu, merasa terancam di setiap situasi, mudah cemas, tidak sabaran, cenderung mengkritik diri sendiri secara berlebihan, dan tidak puas akan banyak hal.</p>



<p id="03c6"><strong><em>Burnout Zone</em>&nbsp;</strong>adalah masa di mana tubuhmu mulai menyadari akibat buruk dari menekan diri sendiri secara berlebihan pada&nbsp;<em>survival zone</em>. Kamu akan merasakan kelelahan yang luar biasa, dan kamu butuh memperhatikan kesehatan fisik dan mentalmu dengan lebih teliti pada fase ini.</p>



<p id="275f"><strong><em>Renewal Zone</em></strong>&nbsp;adalah masa di mana kamu diharapkan untuk beristirahat. Rasa lelah itu mungkin sudah jauh berkurang, tapi kamu masih butuh&nbsp;<em>recovery</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>recharge</em>&nbsp;sementara waktu. Kuncinya adalah bergerak dan bertindak pelan-pelan serta tenang, agar kamu bisa mendorong dirimu lagi menuju&nbsp;<em>performance zone</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="065d"><strong>Yang Harus Diperhatikan untuk Menghindari Survival Zone</strong></h2>



<p id="6143">Seringkali&nbsp;<em>survival zone&nbsp;</em>menjadi tak terhindarkan, namun bukan berarti mustahil. Kamu bisa mencoba cara-cara ini untuk mengantisipasi dampak buruk yang ekstrem, maupun mencegah sama sekali agar hal ini tidak terjadi.</p>



<p id="f45a">Kamu bisa memulai dengan&nbsp;<strong>memahami batasan dirimu.&nbsp;</strong>Ibaratnya, dibanding berlari&nbsp;<em>marathon</em>&nbsp;dengan menjadi yang tercepat dalam satu kali perlombaan, kamu bisa menjadi yang terbaik dalam&nbsp;<em>track</em>&nbsp;yang lebih pendek. Dengan mencurahkan energimu secara merata kepada banyak fokus dan subfokus, kamu tidak akan kelelahan dan menghabiskan seluruh energimu pada satu hal saja.</p>



<p id="a0bd">Hal terpenting dalam pengembangan diri adalah&nbsp;<strong>membedakan observasi diri dengan menggunjing diri.</strong>&nbsp;Sering kali seorang pemimpin terbuka akan&nbsp;<em>negative self-talk</em>&nbsp;di kepalanya hanya karena ia merasa momentum itulah yang bisa membuatnya maju dan&nbsp;<em>self-aware</em>&nbsp;akan kekurangannya, namun hal negatif yang kamu tanamkan terus-menerus dalam dirimu akan menjadi racun dalam pola pikir. Bedakanlah suara dalam kepalamu; yang mana yang kamu rasa lega dan terpacu saat membatin, dan yang mana yang membuatmu merasa jatuh dan membenci diri sendiri.</p>



<p id="d6a9">Penting juga untuk membatasi diri saat merasa sedih dan&nbsp;<strong>tidak merasa bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya</strong>. Selama masih ada kesempatan dan waktu untuk memperbaiki segala sesuatu, maka cerita dan usahamu belum selesai. Gunakan teknik&nbsp;<em>square breathing</em>&nbsp;atau&nbsp;<em>journaling</em>&nbsp;untuk memetakan perasaan dalam dirimu. Rasakan dari mana&nbsp;<em>trigger</em>&nbsp;stres itu berasal, dan di bagian tubuh mana kemarahan/kekesalan itu paling terasa. Dengan pikiran yang lebih jernih dan stabil, kamu bisa lebih semangat dalam melanjutkan ceritamu bersama tim kamu.</p>



<p id="3e2f">Menjadi&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;bukan berarti harus selalu bekerja 24 jam. Kamu tetap harus&nbsp;<strong>memiliki ruang sendiri</strong>. Luangkanlah waktu untuk rekreasi, istirahat, membaca, atau bahkan sekedar menyendiri di ruangan atau tempat favoritmu. Bila kamu nyaman pun, kamu bisa melakukan rekreasi tersebut bersama orang-orang terdekatmu. Sediakan juga waktu untuk melakukan hobi yang terlupakan sejak kamu merintis&nbsp;<em>startup</em>&nbsp;ini; bisa jadi hobi menari, hobi berkuda, desain, maupun olahraga tertentu.</p>



<p id="a6d2"><strong>Melakukan hal baik untuk orang lain</strong>&nbsp;menciptakan hormon&nbsp;<em>dopamine</em>&nbsp;yang mendorong kita untuk merasa dihargai, puas, dan gembira. Luangkanlah waktu untuk kegiatan sosial sekecil apapun, seperti mentraktir karyawanmu, mengajak pasangan maupun keluargamu pergi ke tempat yang sejak lama mereka idamkan, maupun menjadi pembicara sukarela dalam acara almamatermu.</p>



<p class="has-text-align-center" id="1a21">. . .</p>



<p id="a1d3"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="df1d"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="b80c"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/founders-kenali-cara-mengendalikan-energi-dan-stres-di-masa-sulit/">Founders, Kenali Cara Mengendalikan Energi dan Stres di Masa Sulit</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
