<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CEO Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<atom:link href="https://1000startupdigital.id/tag/ceo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://1000startupdigital.id/tag/ceo/</link>
	<description>Rintis startupmu bersama mentor &#38; praktisi digital</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Oct 2023 09:30:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.3</generator>

<image>
	<url>https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/08/cropped-ICON-1-32x32.png</url>
	<title>CEO Archives - 1000 Startup Digital</title>
	<link>https://1000startupdigital.id/tag/ceo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Beban Kerja Tinggi dan Penuh Tekanan? Ini Cara yang Dapat Dilakukan CEO!</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/beban-kerja-tinggi-dan-penuh-tekanan-ini-cara-yang-dapat-dilakukan-ceo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Sep 2023 01:57:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Mindset]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[CEO]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<category><![CDATA[Stress Management]]></category>
		<category><![CDATA[Work Culture]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=9948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tugas CEO sekilas tampaknya tidak ada kaitannya dengan kerja emosional yang tinggi. Dilihat dari peran dan kekuasaannya, CEO justru kerap dicitrakan sebagai profesi yang menciptakan tekanan emosional bagi orang lain dibandingkan dengan menanggung beban itu sendiri. Benarkah? Dikutip dari artikel dari Harvard Business Review, kenyataannya justru berbanding terbalik. Peran CEO menuntut kerja emosional tingkat tinggi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/beban-kerja-tinggi-dan-penuh-tekanan-ini-cara-yang-dapat-dilakukan-ceo/">Beban Kerja Tinggi dan Penuh Tekanan? Ini Cara yang Dapat Dilakukan CEO!</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="81c6">Tugas CEO sekilas tampaknya tidak ada kaitannya dengan kerja emosional yang tinggi. Dilihat dari peran dan kekuasaannya, CEO justru kerap dicitrakan sebagai profesi yang menciptakan tekanan emosional bagi orang lain dibandingkan dengan menanggung beban itu sendiri. Benarkah?</p>



<p id="8936">Dikutip dari artikel dari Harvard Business Review, kenyataannya justru berbanding terbalik. Peran CEO menuntut kerja emosional tingkat tinggi, meskipun banyak pengamat yang tidak mengapresiasinya. CEO diharuskan untuk menunjukkan kepercayaan publik bahkan ketika mereka mungkin memiliki keraguan pribadi. Mereka harus menyadari konsekuensi dari pengambilan keputusan sulit yang pasti akan membuat beberapa pihak tidak senang.</p>



<p id="ca32">Mereka harus memikul tanggung jawab atas hasil yang buruk, meskipun orang lain juga bertanggung jawab atas konsekuensi tersebut. CEO harus menanggung rasa kecewa orang lain, karena sebagai figur yang mewakili perusahaan. CEO harus selalu rendah hati, berempati, dan menghibur ketika orang lain sedang putus asa secara emosional. Namun, pahitnya, ternyata salah satu aturan tidak tertulis mengenai peran CEO adalah tidak boleh membicarakan dampak emosional yang diakibatkan oleh pekerjaan tersebut di depan publik.</p>



<p id="2af9">Kemudian, bagaimana cara yang dapat CEO terapkan dalam menavigasi perasaannya untuk meluapkan beban kerja emosional dan membantu mereka mengatasi tekanan? Simak yuk, panduan yang bersumber dari artikel dari Harvard Business Review yang ditulis oleh Nitin Nohria.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. <strong>Mengandalkan Orang Kepercayaan</strong></h3>



<p id="3ec4">Stres dan tekanan yang timbul dari tuntutan pekerjaan terkadang menyebabkan CEO justru menarik diri dari lingkungan. Mereka memilih untuk mengasingkan diri dengan dalih ‘mencari waktu untuk berpikir’. Padahal, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Kesepian justru akan menambah stres.</p>



<p id="d40b">Sebaliknya, CEO yang merasa stres akibat tekanan emosional di tempat kerja perlu mengandalkan orang kepercayaan untuk membagikan bebannya. CEO perlu menyadari bahwa ia tidak sendiri dan butuh bantuan orang lain untuk mendengarkan dan berbagi beban emosional.</p>



<p id="e566">Seringkali orang kepercayaan ini tidak ada kaitannya dengan rekan atau partner kerja. Orang kepercayaan ini pada umumnya berada di luar perusahaan. Sebut saja pasangan hidup, teman kuliah, mantan mentor, kolega, atau anggota keluarga lainnya. Dampak membagi beban emosional pada orang kepercayaan ini membawa pengaruh besar terhadap proses CEO untuk mengatasi tekanan yang muncul.</p>



<h3 class="wp-block-heading" id="ad48"><strong>2. Menemui Penasihat Profesional</strong></h3>



<p id="2521">Saat startup menghadapi krisis, perusahaan sering mempekerjakan tim penasihat eksternal serta konsultan&nbsp;<em>public relation.&nbsp;</em>Tim penasihat ini umumnya berpengalaman menjadi konsultan dan penasihat karena memiliki banyak pengalaman dalam memahami alur krisis. Mereka juga punya sudut pandang tentang berbagai pendekatan yang berhasil dan gagal, serta punya tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan media.</p>



<p id="fae8">Manfaat tersebut membuat tim penasihat eksternal menjadi berharga, dan CEO perlu menemui mereka untuk melakukan konsultasi. Namun, CEO juga perlu berhati-hati dan tetap fokus pada kata ‘penasihat’, atau mendengarkan nasihat dari pihak eksternal agar tidak melakukan&nbsp;<em>outsourcing.</em></p>



<p id="e6fd">Dengan kata lain, CEO tidak mendelegasikan dengan cara yang menyebabkan mereka hilang kendali atau justru menjauhkan diri dari kesulitan. Dalam tekanan pekerjaan emosional, CEO harus mempekerjakan dan mendengarkan penasihat terbaik. Di waktu bersamaan, CEO juga harus bisa memegang kendali dan membuat keputusan penting.</p>



<h3 class="wp-block-heading" id="3024"><strong>3. Menyadari Hal Tersebut, Bukan Masalah Pribadi</strong></h3>



<p id="549c">Secara logika, orang yang kesal punya preferensi untuk meluapkan kekesalannya pada orang lain dibandingkan pada sesuatu. Perusahaan tidak punya bentuk fisik secara nyata seperti manusia, mereka tidak berwajah. Maka dari itu, CEO sering menjadi personifikasi dan perwujudan dari perusahaan.</p>



<p id="a9e8">Maka, ketika publik melayangkan kekecewaan atau amarahnya pada perusahaan, kerapkali CEO menjadi emosional dan merasa bahwa hal tersebut ditujukan secara pribadi. CEO harus ingat bahwa pihak lain merasa tertekan terhadap perusahaan, bukan terhadap CEO secara individu.</p>



<p id="5e47">Meskipun, mau tidak mau, CEO harus bertanggung jawab atas nama perusahaan dan harus menghindari munculnya kritik secara personal. Keterampilan seperti inilah yang harus dimiliki oleh CEO, yang umumnya akan muncul apabila mereka membangun kebiasaan dan disiplin pribadi, seperti rutin berolahraga, meditasi, atau hobi lain yang bersifat memulihkan dan membangun sikap&nbsp;<em>resilience.</em></p>



<h3 class="wp-block-heading" id="382c"><strong>4. Mengantisipasi Terjadi Reaksi Emosional dari Orang Lain</strong></h3>



<p id="2b83">Tekanan pekerjaan secara emosional akan menimbulkan dampak hadirnya reaksi emosional dari pihak lain. Untuk itu, para CEO harus mengandalkan kecerdasan emosional untuk menangani hal tersebut. Dikutip dari artikel Harvard Business Review, para CEO perlu menyadari bahwa mereka dan orang-orang terdekatnya mungkin tidak selalu menghargai perasaan konstituen yang berbeda. Maka, CEO yang cerdas dapat mengandalkan orang lain yang dapat berperan sebagai pendengar dan dapat membantu mereka memahami dan memikirkan keputusan yang bermuatan emosional.</p>



<p class="has-text-align-center">. . .</p>



<p id="3406"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="d727"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="ab8a"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>



<p><a href="https://medium.com/@sofynito?source=post_page-----cb07b25f9d21--------------------------------"></a></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/beban-kerja-tinggi-dan-penuh-tekanan-ini-cara-yang-dapat-dilakukan-ceo/">Beban Kerja Tinggi dan Penuh Tekanan? Ini Cara yang Dapat Dilakukan CEO!</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Jadi CEO Ada Kedaluwarsanya?</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/apakah-jadi-ceo-ada-kedaluwarsanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2022 09:43:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[CEO]]></category>
		<category><![CDATA[Founders]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=7329</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi&#160;founder&#160;dan menjabat sebagai CEO di startup adalah sebuah langkah besar yang tidak semua orang bisa dapatkan. Terlebih setelah berhasil membangun startup dengan susah payah dan berdarah-darah, pasti rasa kepemilikan yang begitu tinggi tertanam dalam&#160;value&#160;startup kita, bukan? Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya perkembangan perusahaan, akan ada masa di mana&#160;founder&#160;CEO harus berpikir ulang: apakah masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/apakah-jadi-ceo-ada-kedaluwarsanya/">Apakah Jadi CEO Ada Kedaluwarsanya?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="ea67">Menjadi&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;dan menjabat sebagai CEO di startup adalah sebuah langkah besar yang tidak semua orang bisa dapatkan. Terlebih setelah berhasil membangun startup dengan susah payah dan berdarah-darah, pasti rasa kepemilikan yang begitu tinggi tertanam dalam&nbsp;<em>value</em>&nbsp;startup kita, bukan?</p>



<p id="3a41">Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya perkembangan perusahaan, akan ada masa di mana&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO harus berpikir ulang: apakah masih lanjut untuk duduk di kursi tahta sebagai CEO? Atau harus mundur dan menyerahkan tongkat kepemimpinan CEO pada orang lain? Akankah menjadi CEO ada masa kedaluwarsanya?</p>



<p id="3e3b">Menurut buku&nbsp;<em>The Hard Thing About Hard Things</em>&nbsp;yang ditulis oleh Ben Horowitz, CEO yang efektif harus mengetahui apa saja yang bisa dieksekusi. Menurut Horowitz,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO pada umumnya punya performa terbaiknya di masa awal berdirinya startup dan mulai merasa kesulitan saat perusahaan tumbuh lebih kompleks.</p>



<p id="87fb">Masalah perusahaan besar akan sangat berbeda dengan&nbsp;<em>early stage startup.&nbsp;</em>Ada banyak hal yang harus dicari solusinya, misalnya berkaitan dengan menurunkan biaya operasional, merampingkan organisasi, mengelola pertambahan karyawan, dan lain-lain.</p>



<p id="9d4d">Jika ternyata menjadi CEO ada kedaluwarsanya, seperti apakah transisi yang bisa dilakukan?</p>



<p id="7a8b"><strong>1. Beri jeda dari posisi CEO menuju non-CEO</strong></p>



<p id="03fc">Ternyata penemuan dari Bradley Hendricks, Travis Howell, dan Christopher Bingham yang dipublikasikan di Harvard Business Review menjelaskan bahwa&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;dapat memberikan value paling banyak di awal startup berkembang. Lebih jelasnya, rata-rata terjadi di waktu setelah 6 tahun menjabat sebagai CEO,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;menjadi punya value lebih di posisi non-CEO, misalnya posisi&nbsp;<em>chief&nbsp;</em>yang lain, atau dewan komisaris.</p>



<p id="eaac">Contoh nyatanya terjadi pada Google. Saat pendapatannya mencapai $100 juta, salah satu investor terbesar Google pada waktu itu adalah Sequoia Capital, yang merasa khawatir jika&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;Larry Page dan Sergey Brin tidak cukup memiliki kemampuan manajerial untuk memimpin perusahaan yang berkembang pesat. Sequoia paham benar tentang value yang dibawa oleh para&nbsp;<em>founder</em>, namun berusaha mendorong mereka untuk merekrut CEO eksternal.</p>



<p id="a00c">Hingga pada akhirnya, jabatan CEO jatuh pada Eric Schmidt yang sukses membawa perusahaan sampai IPO dan bertumbuh lebih baik dari masa sebelumnya. Pada intinya, kolaborasi antara CEO eksternal dan&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;harus tetap berjalan. Seperti Schmidt yang membimbing Page dan Brin tentang manajerial, sedangkan ia sendiri juga mengembangkan produk baru dan kegiatan inti bisnis lainnya.</p>



<p id="2226"><strong>2. Mengikuti kata hati untuk merealisasikan mimpi</strong></p>



<p id="d947">Kita hidup pasti punya banyak mimpi. Begitu pula&nbsp;<em>founder</em>, yang pasti punya lebih dari satu mimpi. Oke, mimpi membangun startup sudah tercapai. Lalu selanjutnya, adakah hal lain yang bisa direalisasikan?</p>



<p id="1e9b">Banyak&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;yang menjadi CEO sukses kemudian mengundurkan diri untuk mengejar&nbsp;<em>wishlist&nbsp;</em>mereka yang lain. Misalnya saja John Huntsman, Sr. yang meninggalkan Huntsman Chemical untuk membangun Huntsman Cancer Institute. Demikian pula dengan Bill Gates yang mundur dari Microsoft dan fokus membangun Gates Foundation. Di dalam negeri, ada cerita tentang Achmad Zaky yang mundur dari jabatannya sebagai CEO Bukalapak dan sekarang membangun Init 6, perusahaan modal ventura yang punya misi untuk mengembangkan&nbsp;<em>early startup.</em></p>



<p id="f01a">Ternyata kuncinya ada pada dukungan peran dari orang-orang di balik layar seorang CEO. Misalnya peran anggota dewan dan eksekutif yang berani mendorong CEO untuk terus mengobarkan api semangatnya sebagai&nbsp;<em>founder</em>. Tidak hanya itu saja, anggota dewan dan eksekutif juga punya peran untuk mengarahkan ke jalur yang dapat membantu CEO mencapai tujuannya. Di sisi lain,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO harus fokus untuk mengembangkan kapasitas diri sebagai CEO sembari introspeksi. Contohnya, “apakah kamu ingin mendedikasikan waktu dan energi untuk perusahaan yang sudah semakin besar?” Jika ternyata jawabannya tidak, pertimbangkan pilihan lain yang mungkin lebih cocok dan selaras dengan misi hidupmu sebagai<em>&nbsp;founder</em>.</p>



<p id="cd38"><strong>3. Melibatkan&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;ketika memilih CEO eksternal</strong></p>



<p id="061f">Ketika ternyata CEO eksternal harus direkrut dan menggantikan peran&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO, akan lebih baik jika<em>&nbsp;founder</em>&nbsp;sudah terlibat sejak awal. Ini terjadi di Apple, di mana Steve Jobs yang secara pribadi mempekerjakan Tim Cook untuk memegang tongkat kekuasaan sebagai CEO di Apple. Akibatnya, harga saham Apple meningkat 1.022% di bawah masa jabatan Cook. Begitu pula yang terjadi di Twitter, di mana&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO yaitu Jack Dorsey tiba-tiba mundur dan menyerahkan kekuasaannya pada CTO, Parag Agrawal.</p>



<p id="13f7">Artikel ini akan ditutup oleh sebuah analogi: seorang&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;yang menjadi CEO dapat dengan sukses menaiki satu persatu tangga dalam membangun startupnya. Namun, untuk bisa memenangkan pertarungan dan memperbesar perusahaan,&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;CEO bisa jadi lebih baik jika menyerahkan tongkat estafet kepada orang lain yang layak. Semoga artikel ini dapat menjadi bahan introspeksi bagi para&nbsp;<em>founder</em>, baik itu tetap jalan terus, atau mundur secara sukarela demi kebaikan&nbsp;<em>founder</em>&nbsp;maupun perusahaan.</p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p id="b065"><a href="https://1000startupdigital.id/" rel="noreferrer noopener" target="_blank"><em>Gerakan Nasional 1000 Startup Digital</em></a><em>&nbsp;adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.</em></p>



<p id="7309"><em>Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.</em></p>



<p id="6e3c"><em>Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/apakah-jadi-ceo-ada-kedaluwarsanya/">Apakah Jadi CEO Ada Kedaluwarsanya?</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenali Fase Kedua CEO Startup dan Perannya di Perusahaan</title>
		<link>https://1000startupdigital.id/kenali-fase-kedua-ceo-startup-dan-perannya-di-perusahaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[#1000StartupDigital]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2021 07:15:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[1000startupdigital]]></category>
		<category><![CDATA[CEO]]></category>
		<category><![CDATA[Startup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://1000startupdigital.id/?p=6193</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah startup dapat dikatakan sukses jika sudah melewati tiga fase besar selama proses berkembang. Pada setiap fase itu pula pekerjaan seorang CEO berubah secara signifikan.&#160; Artikel ini lebih membahas tentang bagaimana cara menjadi CEO yang hebat pada fase kedua. Ada tugas-tugas level tertinggi yang hanya bisa diselesaikan oleh CEO. Mau tahu apa saja? Yuk disimak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/kenali-fase-kedua-ceo-startup-dan-perannya-di-perusahaan/">Kenali Fase Kedua CEO Startup dan Perannya di Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="572" src="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-10-at-13.57.41-1024x572.png" alt="" class="wp-image-6198" srcset="https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-10-at-13.57.41-1024x572.png 1024w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-10-at-13.57.41-300x168.png 300w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-10-at-13.57.41-768x429.png 768w, https://1000startupdigital.id/wp-content/uploads/2021/11/Screen-Shot-2021-11-10-at-13.57.41.png 1188w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Sebuah <em>startup </em>dapat dikatakan sukses jika sudah melewati tiga fase besar selama proses berkembang. Pada setiap fase itu pula pekerjaan seorang CEO berubah secara signifikan.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Artikel ini lebih membahas tentang bagaimana cara menjadi CEO yang hebat pada fase kedua. Ada tugas-tugas level tertinggi yang hanya bisa diselesaikan oleh CEO. Mau tahu apa saja? Yuk disimak informasinya!</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>CEO dan Tiga Fase Besar</strong></h2>



<p>Pahami apa saja yang termasuk tiga fase besar selama proses pertumbuhan dan perkembangan <em>startup</em> yang nantinya berpengaruh pada tugas seorang CEO, yaitu:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Fase pertama.</strong> Tugas CEO adalah menciptakan produk yang disukai oleh pengguna.&nbsp;</li><li><strong>Fase kedua.</strong> CEO membangun perusahaan untuk memaksimalkan peluang munculnya produk.&nbsp;</li><li><strong>Fase ketiga.</strong> Keuntungan dari bisnis utama diinvestasikan ke dalam ide produk yang baru dan transformatif.</li></ul>



<p>Banyak CEO yang berhasil bertransisi dari fase pertama ke fase kedua, tapi banyak pula yang gagal. Padahal CEO memegang peran penting dalam mencapai keberhasilan perusahaan dan menghadapi setiap tantangan.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tugas yang tidak bisa didelegasikan oleh CEO</strong></h2>



<p>Pada fase kedua, tugas kamu sebagai CEO adalah mendelegasikan semua yang kamu lakukan di fase satu. Tujuannya supaya kamu punya waktu untuk fokus pada tugas operasional penting yang dilakukan pada fase kedua.&nbsp;</p>



<p>Daftar tugas yang tidak bisa didelegasikan oleh CEO pada fase dua di antaranya:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Memastikan semua tim bekerja sama dengan baik</strong></h3>



<p>Hanya CEO yang dapat mempekerjakan tim <em>senior leadership </em>untuk perusahaan dan memastikan mereka bekerja sama dengan baik. Mengevaluasi kinerja <em>senior executive </em>juga merupakan tantangan tersendiri. Kamu harus pandai mengevaluasi seberapa produktif pegawai mereka dan seberapa baik mereka saat bekerja sama dengan tim <em>executive </em>lainnya.</p>



<p>Rekrut tim dengan visi dan misi yang sejalan dengan kamu. Kumpulkan <em>feedback </em>dari mereka, tapi pastikan keputusan akhir tetap berada di tangan kamu.&nbsp;</p>



<p>Pekerjaan kamu selesai ketika seluruh tim <em>leadership </em>telah dibentuk. Proses ini memang memakan banyak waktu, yakni sekitar 50% waktu kamu digunakan hanya untuk merekrut dan mengelola tim senior.&nbsp;</p>



<p>Namun, setelah kamu berhasil melatih mereka untuk bekerja sama dengan baik, kemungkinan keterlibatan kamu di masa depan akan lebih sedikit.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Menciptakan tujuan dan keselarasan</strong></h3>



<p>Tugas kedua yang tidak dapat didelegasikan oleh CEO adalah menciptakan tujuan dan keselarasan di perusahaan.&nbsp;</p>



<p>Ketika sebuah <em>startup </em>memiliki pegawai kurang dari 10 orang, akan lebih mudah untuk membuat semua orang tetap selaras. Mereka akan dengan mudah mendengar dan memahami apa yang sedang terjadi, mengetahui tujuan pekerjaan mereka, dan dapat menyumbang suara saat mengambil keputusan. Komunikasi sederhana seperti ini mumudahkan kamu dalam menciptakan keselarasan.&nbsp;</p>



<p>Lain ceritanya ketika kamu mempekerjakan lebih banyak orang di lokasi kantor yang berbeda, serta dari latar belakang dan fungsi yang lebih luas, seperti <em>sales, finance, </em>dan sebagainya. Menciptakan keselarasan akan jauh lebih sulit.&nbsp;</p>



<p>Dalam sebuah <em>startup </em>dengan pegawai yang lebih banyak, kamu sebagai CEO mungkin tidak dapat bertemu langsung dengan semua orang yang bergabung di perusahaan. Bahkan kamu mungkin tidak dapat menghadiri sesi <em>onboarding</em> pegawai.&nbsp;</p>



<p>Pada fase pertama, ibaratnya kamu adalah pendayung utama di atas kapal. Namun, tugas kamu berubah pada fase kedua. Kamu tidak lagi menjadi pendayung, melainkan orang yang mengukur kecepatan dan kinerja setiap pendayung yang jumlahnya lebih banyak.&nbsp;</p>



<p>Sudah terbayang bukan?</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Membentuk dan memelihara budaya kerja perusahaan</strong></h3>



<p>Pada dasarnya, budaya kerja di kantor ditentukan oleh cara setiap pegawai memperlakukan satu sama lain. Budaya mulai terbentuk saat orang kedua bergabung dalam <em>startup </em>kamu.&nbsp;</p>



<p>Bagaimana <em>founder </em>dan pegawai awal bertindak satu sama lain pada masa awal <em>startup </em>didirikan, tanpa disadari membentuk budaya yang bertahan selama bertahun-tahun.&nbsp;</p>



<p>Namun, perlu dicatat bahwa menciptakan budaya yang baik bukan tugas CEO saja, melainkan tanggung jawab semua orang yang bekerja di perusahaan. CEO mendorong <em>founder </em>dan pegawai di awal untuk bekerja sama menyusun nilai dan norma perilaku yang aspiratif bagi semua orang.&nbsp;</p>



<p>Supaya budaya dapat ditegakkan dengan sendirinya, nilai-nilai tersebut harus selaras dengan cara perusahaan bertindak di masa lalu.&nbsp;</p>



<p>Sebaliknya, jika kamu tidak ingin perusahaan bertindak seperti masa lalu, maka berikan contoh yang jelas dan buat semua orang di bagian <em>leadership </em>bertindak seperti kamu.</p>



<p>Kalau begitu, siapkah kamu mengarungi fase kedua sebagai CEO <em>startup</em>?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>ReferensI:</p>



<p><a href="https://www.ycombinator.com/library/3k-what-s-the-second-job-of-a-startup-ceo">https://www.ycombinator.com/library/3k-what-s-the-second-job-of-a-startup-ceo</a></p>



<p class="has-text-align-center">.  .  .</p>



<p><em>— Tulisan ini dibuat oleh Yurista Andina.</em></p>
<p>The post <a href="https://1000startupdigital.id/kenali-fase-kedua-ceo-startup-dan-perannya-di-perusahaan/">Kenali Fase Kedua CEO Startup dan Perannya di Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://1000startupdigital.id">1000 Startup Digital</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
