fbpx

Mitos, Fakta, dan Pertimbangan Penting saat Membuat MVP

Sekelompok anak muda membahas dan berdebat tentang ide startup serta rencana apa yang harus mereka eksekusi ke dalam MVP. Menimbang banyak hal dan memutuskan, fitur apa yang paling baik untuk dimasukkan ke produk, fitur mana yang tidak perlu dimasukkan, hingga menghabiskan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Familiar dengan situasi seperti ini?

Kondisi di atas umum terjadi saat startup memasuki fase membangun MVP. Namun, apakah mereka sebenarnya sudah mengetahui dan memahami tentang MVP? Seringkali, startup terjebak dalam mitos tentang MVP seperti:

Padahal, faktanya

Ya, MVP adalah proses yang dilakukan berulang-ulang hingga tercapai sebuah hasil yang bisa digunakan oleh calon pelanggan. Dilansir dari ycombinator.com, berikut adalah beberapa pertanyaan yang layak dipertimbangkan saat membangun MVP:

Saat kamu membangun produk atau layanan, pasti akan ada banyak asumsi. Misalnya, kamu berasumsi sudah mengetahui apa saja yang dicari oleh pengguna, seperti apa desain yang tepat, bagaimana pemasaran dijalankan, model bisnis apa yang paling cocok, dan lain-lain. Masalahnya, kamu tidak tahu asumsi mana yang salah, dan mana yang benar. Lantas, bagaimana cara mengetahuinya?

Ujilah asumsi dengan menempatkan produkmu di depan pengguna secepat mungkin. Dengan ini, kamu akan tahu mana yang harus dikoreksi, mana yang harus dicoret dari daftar, dan mana yang perlu ditambahkan. Ini proses yang sangat berharga, yaitu mendapatkan umpan balik tentang produkmu dari pengguna secepat mungkin.

Proses ini tidak dilakukan sekali, melainkan berulang-ulang. Akan ada banyak sekali percobaan dan kesalahan yang dilakukan, tetapi itu wajar.

Sekali lagi, MVP lebih tepatnya bukan merupakan sebuah produk, melainkan sebuah proses. Kita akan menyebut hal ini dengan pendekatan MVP as a process. Mari lanjut ke contoh, ya.

Sebuah tim ingin membuat produk yang pelanggannya adalah pemilik restoran. Nantinya produk tersebut bisa jadi berupa mobile apps dengan beberapa fitur seperti kalender, galeri foto, fitur chat, ulasan restoran, sinkronisasi ke media sosial, fitur pemesanan yang mudah, kupon diskon, dan lain-lain.

Lalu, kira-kira seperti apa MVP yang harus mereka buat?

Menggunakan pendekatan MVP as a process, berikut adalah tahapannya:

Katakanlah asumsi paling berisiko adalah pemilik restoran ingin membuat mobile apps, sehingga MVPnya mungkin seperti mock up dari mobile apps. Kemudian, para anggota tim turun ke lapangan untuk melakukan riset dan mewawancarai pemilik restoran, mereka menanyakan beberapa pertanyaan seperti berikut:

Kamu juga bisa menunjukkan mock up yang sudah kamu buat secara sederhana, dan peragakan apakah hal tersebut bisa menjadi solusi yang tepat untuk masalah yang mereka hadapi.

Setelah melakukan riset di lapangan, kamu dan anggota tim mendapatkan fakta bahwa ternyata para pemilik restoran tidak punya minat besar untuk memiliki mobile apps yang dapat mendukung operasional restoran. Berita buruknya, mungkin kamu dan tim akan kecewa. Namun, kabar baiknya, kamu tidak perlu membuang waktu terlalu lama untuk melakukan pengembangan produk dan penambahan fitur yang tidak perlu. Di sisi lain, kamu mendapatkan fakta bahwa para pemilik restoran yang tidak tertarik pada mobile apps, justru tertarik pada situs yang desainnya sederhana dan mudah digunakan. Voila!

Eksperimen sudah dilakukan dan kamu mendapatkan validasinya. Bukankah ini sebuah kemajuan?

Tapi, jalan masih panjang. Proses membangun MVP belum selesai. Kamu harus mengulangi tahapan MVP as a process untuk membangun MVP dari data eksperimen yang paling baru.

Asumsi berikutnya mungkin adalah pembuatan static website untuk beberapa pemilik restoran yang menyatakan minatnya serta melihat respon mereka.

Dan beberapa pertanyaan lain untuk uji asumsi yang dapat kamu klarifikasi langsung ke para pemilik restoran.

Dari riset, para pemilik restoran bersedia membayar situs tersebut dengan mekanisme pembayaran beberapa bulan layanan dengan metode transfer otomatis (ini sekaligus memastikan kamu tidak membuang waktu untuk membuat sistem penagihan), kemudian membuatkan situs untuk mereka.

Tanyakan kembali, apa saja eksperimen terkecil dan paling minimal untuk menguji asumsi tersebut?

MVP mu mungkin adalah landing page yang menjelaskan apa yang akan kamu tawarkan ke pelanggan, menunjukkan mock up situs sebelumnya, dan membuat kolom pengisian alamat alamat e-mail pelanggan untuk pemberitahuan tentang update selanjutnya jika kamu sudah meluncurkan produk dalam versi beta. Kemudian kamu bisa memasang iklan sebagai pemasaran agar trafik landing page bisa diakses sesuai dengan target pelanggan yang tepat. Secara singkat, inilah proses MVP. Jangan lupa untuk selalu menguji MVPmu menggunakan pertimbangan dua pertimbangan penting di atas dan menggunakan metode MVP as a process untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Bagikan artikel ini