fbpx

Ketahui Kesalahan yang Sering Dilakukan Founder ketika Membangun Brand

Sebagai upaya awal dalam merintis startup, jenama (brand) adalah sesuatu hal yang menjadi dasar ketika akan membuat produk. Dalam perjalanan membuat produk, akan ada beberapa hal yang menjadi titik kritis dan rawan mengalami kesalahan. Berikut ini akan dijabarkan beberapa kesalahan yang sering dilakukan founder ketika membangun jenama, yang dipaparkan oleh Arielle Jackson, seorang pakar pemasaran yang telah membantu ratusan startup. Jackson menekankan startup untuk berfokus pada dasar-dasarnya terlebih dahulu, seperti menentukan tujuan, positioning, hingga kepribadian. Karena, hal tersebut merupakan elemen yang penting dari strategi jenama. Lebih lanjutnya, kamu dapat membaca artikel ini sampai tuntas, ya.

  1. Tidak mempelajari dasar-dasarnya

Sering kali, hal eputar pemasaran langsung dilakukan dengan tergesa-gesa. Contohnya, membuat halaman landing page tanpa persiapan yang matang, iterasi dan membuat logo perusahaan, dan lain-lain. Padahal, sebelum sampai di titik tersebut, startup harus memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu.

Ada tiga langkah yang dapat memudahkan proses founder membangun jenama.

Langkah pertama, menentukan tujuan perusahaan

Tujuan perusahaan adalah tentang ‘mengapa kamu membangun ini?’ dan ‘mengapa orang lain harus peduli?’

Langkah kedua, merencanakan positioning produk

Ini adalah tentang:

– Apa hal yang akan kamu tawarkan ke pasar?

– Apa fungsinya?

– Seperti apa kategori produknya?

– Untuk siapa produk ini dibuat?

– Mengapa orang harus peduli dengan produk ini?

– Siapa yang kamu lawan?

– Bagaimana diferensiasi produkmu?

Langkah ketiga, mengembangkan kepribadian jenama

Analoginya adalah, jika perusahaan itu adalah seseorang, orang ini akan seperti apa? Umumnya kepribadian jenama dihasilkan dalam bentuk copy dan sekaligus berisi tentang identitas visual.

2. Melebih-lebihkan tujuan

Startup yang telah membuat pernyataan dasar seperti tujuan, visi, misi, serangkaian nilai, hingga tagline, umumnya hanya menuliskan hal tersebut sebagai pelengkap dan kata-kata saja, bukan sebagai prinsip dan panduan dalam mengambil keputusan. Tips terbaik dalam membuat tujuan adalah dengan memfokuskannya untuk membuat pesan ke pihak luar: ‘perubahan apa yang ingin kamu lihat di dunia dari produkmu, terlepas dari memikirkan keuntungan finansial?’

Misalnya tujuan Nike adalah membawa inspirasi dan inovasi bagi atlet di dunia. Dan tujuan Google adalah mengatur informasi dunia, membuatnya dapat diakses dan berguna secara universal.

3. Tidak mempertimbangkan kategori secara cermat

Konteks kategori di sini adalah bagian dari pekerjaan dan penentuan posisi yang lebih luas. Misalnya, kamu harus bisa membuat pernyataan, perusahaan X adalah Y yang melakukan Z. Dan Y adalah kategori di mana kamu membuat produk. Karena, jika kamu tidak dapat mengartikulasikan apa yang kamu perjuangkan dan di mana kategori bermain, kamu tidak dapat mengambil posisi di benak pelanggan sebagai targetmu. Pilihannya adalah bermain di kategori yang sudah ada atau membuat kategori baru.

Jika ingin bermain di kategori yang sudah ada, orang akan punya pemahaman tentang kondisi pasar yang sudah ada. Namun, hal ini bisa mengintimidasi karena pasti sudah ada pemain lama. Contohnya ketika Google ingin bermain di kategori webmail gratis, mereka harus mengalahkan Yahoo! Mail dan Hotmail. Sedangkan ketika Uber bermain di kategori baru, pasti butuh waktu bagi orang-orang agar teredukasi dengan kategori ini, sekaligus butuh biaya yang besar. Contohnya adalah Uber yang bermain dalam kategori ridesharing.

4. Menentukan manfaat emosional, bukan fungsional dalam pesan awal

Jika kamu adalah startup yang baru memulai, usahakan untuk menulis manfaat fungsional di atas manfaat emosional. Untuk memudahkan, kamu bisa membuat daftar manfaat fungsional yang kamu miliki dan manfaat fungsional. Contohnya datang dari Eero, yang membuat pesan ‘Selimuti rumahmu dengan wifi yang cepat dan andal.’ Mereka tetap membawa manfaat fungsional dengan ‘cepat dan andal’ namun sedikit menyentuh sisi emosional dengan mengatakan ‘selimuti’.

5. Lupa memberikan kepribadian jenama

Umumnya, startup mayoritas siap dengan tipografi, palet warna, dan logo, namun kerap melupakan kepribadian jenama, tone, dan voice dari jenama. Contohnya seperti ini, jika kamu memberi tahu orang lain tentang kepribadianmu, seperti mudah didekati, suka membantu, baik hati, rajin, dan baik, pada dasarnya semuanya sama saja dan diulang-ulang hingga lima kali. Namun jika kamu bercerita bahwa kamu adalah sosok yang optimis, setia, suka berpetualang, suka tantangan, dan berprestasi, maka orang lain akan lebih mudah punya gambaran tentang dirimu.

Nah, itu tadi beberapa kesalahan yang umumnya dilakukan para founder ketika membangun jenama. Tujuannya agar kamu bisa lebih berhati-hati dan terhindar dari kesalahan-kesalahan ini, ya. Semangat dalam membangun jenama startupmu!

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.

Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!

Bagikan artikel ini