fbpx

Belajar Tips Pitching Startup dari Ahlinya

Pitching menjadi sebuah kesempatan bagi startup untuk unjuk gigi dan ‘memperlihatkan taringnya’ di depan audiens. Kesempatan ini pula yang banyak membuat startup gagal karena gagal menarik perhatian audiens dan investor. Mereka kerap melakukan ‘kesalahan’ seperti menjabarkan terlalu banyak hal, atau melewatkan banyak poin penting yang seharusnya diceritakan.

Untuk itu, agar kamu tidak melewatkan kesempatan berharga ketika nanti pitching, kamu perlu melakukan persiapan sedari dini. Lewat artikel ini, kamu dapat menerapkan tips pitching yang dijelaskan oleh pakarnya, yaitu David Beckett, yang telah menjadi pelatih pitching selama belasan tahun untuk perusahaan dan startup, agar berhasil meningkatkan nilai mereka.

Sudah siapkah kamu? Mari kita mulai dari tips yang paling awal.

1. Mendengarkan audiensmu

Startup sering terkecoh dengan memberi tahu semua orang tentang produk yang telah dibangun dengan jerih payah dan tetes air mata. Namun faktanya, orang lain bisa jadi tidak peduli sama sekali. Untuk menghindari hal tersebut, kamu perlu lebih menyelami audiensmu. Promosimu harus selaras dan relevan dengan keinginan audiens.

  • Siapa audiensmu?
  • Apa yang sangat penting bagi mereka?
  • Bagaimana agar kamu bisa membuat orang lain terkesan?

2. Fokus pada masalah dan solusinya

Pitch yang kamu tulis harus menjawab tentang pain points dan keuntungan yang didapatkan pelanggan.

  • Apa akibat dari pain points yang dialami pelanggan?
  • Seberapa besar masalah yang mereka miliki?
  • Apakah mereka akan membayar agar masalah tersebut bisa selesai?
  • Bagaimana caramu memvalidasinya?

3. Menetapkan tujuan yang jelas

Kesimpulannya, pitch yang sukses akan membuat orang lain mengambil tindakan. Jika berbicara tentang investor, maka tindakannya adalah dealing untuk investasi. Namun, startup pada umumnya akan menempuh langkah ini sebelumnya. Misalnya, tindakan untuk membuat pertemuan lanjutan, perkenalan, atau sesederhana audiens memindai kode QR untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

Kemudian, yang paling penting adalah menjaga koneksi setelah audiens melakukan tindakan yang kita inginkan. Serta, buatlah tujuan yang jelas dan mudah diingat.

4. Menggunakan post it untuk menyusun alur cerita

Setelah kamu menetapkan tujuan, kini tiba saatnya untuk menyusun strategi dalam mewujudkannya. Kamu dapat memanfaatkan sticky notes atau kertas tempel untuk menuangkan pemikiran dan idemu dan menyusunnya ke dalam alur cerita. Supaya lebih mudah, kamu dapat menggunakan Pitch Canvas yang disusun oleh Beckett, sebuah alat bercerita gratis yang dapat digunakan untuk menyusun promosimu.

5. Tunjukkan nilaimu

Bisnis tidak bisa dijabarkan dengan konsep di atas kertas. Bisnis dapat dibuktikan dengan produk dan pelanggan yang tepat. Maka dari itu, investor ingin melihat bukti bahwa kamu dapat melaksanakan rencana dan strategimu. Misalnya, jika kamu punya daya tarik pelanggan, kamu dapat menjelaskan siapa saja yang menggunakan produk tersebut. Jika kamu punya demo, tunjukkan bagaimana demo tersebut bekerja.

6. Pembukaan adalah kuncinya

Investor dapat melihat ribuan penawaran dalam satu tahun dan mereka hampir tidak punya banyak waktu untuk bertele-tele. Untuk itu, syarat pertama yang mutlak harus kamu penuhi adalah menggunakan opening untuk membuat mereka terpikat. Sebab, jika pembukaan ini tidak berhasil memikat audiens, maka bagian selanjutnya hampir dipastikan tidak akan terlalu diperhatikan oleh audiens.

7. Percantik pitching secara verbal

Setelah kamu memiliki prototype untuk promosi, kamu perlu menjelaskannya secara verbal. Untuk itu, kamu perlu banyak berlatih untuk mengucapkan dengan lantang di depan audiens. Jangan lupa untuk bertanya kepada audiens tentang respon dan masukan dari versi latihanmu, agar kamu dapat menyempurnakan penyampaian pitchingnya. Penting sekali untuk mengatur kejelasan, fokus, ritme, serta penekanan terhadap kata-kata penting agar lebih menonjol.

8. Sempurnakan dengan latihan

Beckett telah melakukan penelitian tentang kapasitas mendengarkan dan berbicara banyak orang. Kesimpulannya, kamu dapat berbicara maksimal 150 kata per menit. Jika berbicara lebih cepat dari itu, orang lain akan kesulitan untuk mengikuti. Kamu dapat berbicara sedikit lebih lambat agar orang dapat memproses pesan yang disampaikan.

Cobalah berlatih untuk menyampaikan pesan penting, dengan energi dan kecepatan yang cukup. Pada umumnya, 150 kata akan muat dalam kurang lebih sembilan kalimat. Jika promosinya disampaikan dalam durasi tiga menit, maka jumlahnya sekitar 27 kalimat. Ini dapat menjadi acuan untukmu dalam menyusun cerita agar pesannya dapat diterima oleh audiens dan membuat mereka melakukan tindakan.

Semoga sesi pitching kamu mendapatkan tanggapan yang positif, ya. Semangat terus, Founder!

. . .

Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.

Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!

Bagikan artikel ini