fbpx

Aruna: Bersama Bikin Nelayan Berdaya

Aruna adalah startup perdagangan perikanan yang terintegrasi di Indonesia. Didirikan oleh Farid Naufal Aslam, Indraka Fadhlillah, dan Utari Octavianty pada tahun 2015, saat ini jumlah tim Aruna terdiri dari ± 180 orang dengan fase pendanaan Series B.

Pada mulanya, bagaimana cerita latar belakang dalam membuat Aruna? Apa visi yang ingin dicapai oleh Aruna?

Kali ini, Rintisan mewawancarai Utari Octavianty, salah satu founder startup Aruna yang berkecimpung di bisnis perikanan digital di Indonesia. Aruna didirikan pada tahun 2015 oleh tiga orang, yakni saya sendiri, Farid Naufal Aslam, dan Indraka Fadhlillah. Kami bertiga merupakan teman satu universitas di kota Bandung dan kebetulan memiliki perhatian dan kekhawatiran yang sama terkait industri perikanan di Indonesia. Kami melihat bahwa Indonesia memiliki potensi kemaritiman yang sangat besar, secara 70% luas negara ini merupakan lautan. Tetapi kami kebingungan karena di kota-kota yang jauh dari pesisir, seperti Bandung, masih sulit untuk mengonsumsi seafood segar.

Sewaktu kami pelajari lebih jauh, kami menemukan kenyataan yang bertolak belakang. Meskipun Indonesia memiliki potensi kemaritiman yang besar, sayangnya 25% masyarakat yang tinggal di pesisir pantai berkontribusi cukup banyak terhadap angka kemiskinan di Indonesia.

Selain karena alasan tersebut, kami memutuskan untuk merintis startup di bidang perikanan karena dua dari tiga founder Aruna berasal dari daerah pesisir. Saya dari pesisir Balkpapan, Kalimantan Timur, sedangkan Indraka berasal dari daerah Indramayu-Karawang, Jawa Barat. Karena kami berasal dari pesisir dan belajar tentang teknologi ketika kuliah, kami jadi berpikir bagaimana memecahkan masalah di industri ini. Akhirnya, pada saat itu muncullah ide untuk menghubungkan kelompok nelayan untuk mendapatkan pembeli serta akses pasar yang lebih baik, sehingga pendapatan para nelayan meningkat dan kehidupan mereka dapat menjadi lebih sejahtera.

Apa visi yang ingin dicapai oleh Aruna?

Aruna memiliki visi ‘making the sea a better livelihood for all’, yang berarti kami ingin menjadikan laut Indonesia sebagai sumber kehidupan yang lebih baik untuk semua. Karena sebagian besar luas Indonesia adalah laut, kami ingin dengan adanya sumber daya ini, masyarakat yang hidup disekitarnya dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, kami juga sering mengampanyekan bahwa laut itu ada dan diciptakan untuk semua orang. Serta untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kian berkembang karena potensi kemaritimannya.

Sebelum membuat startup, apa pekerjaan/kegiatan Anda sebelumnya? Mengapa memutuskan untuk membuat startup?

Saya belum pernah bekerja sebelum mendirikan Aruna, karena pada tahun 2015 itu kami masih duduk di bangku kuliah. Meskipun sebelum memulai Aruna kami sudah beberapa kali membangun bisnis. Ada bisnis yang dijalani bersama-sama bertiga, ada juga yang secara individual. Para founder Aruna ada yang pernah punya startup, bisnis konveksi, maupun bisnis dengan keluarga di rumah. Mungkin latar belakang kami bertiga yang cukup familiar dengan kegiatan kewirausahaan membuat kami lebih yakin dan maju terus membangun Aruna.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi saat tahun pertama merintis Aruna? Apakah tantangan tersebut sudah diprediksi sebelumnya, atau di luar prediksi?

Sewaktu mendirikan Aruna, modal kami berasal dari ikut lomba-lomba dan kompetisi, sehingga jumlahnya pun terbatas. Sudah dari kompetisi, kami pernah kena tipu pula. Dan jika hanya terpaku dengan modal, tentu kami tidak akan punya alasan lagi untuk melanjutkan bisnis ini. Namun, saat itu kami bertiga samasama berpikir kalau bisnis ini harus tetap dilanjutkan. Karena kami yakin kalau bukan kami yang mengembangkan, siapa lagi yang mau merealisasikan? Sementara sewaktu kami ke lapangan dan mengobrol dengan para nelayan, harapan mereka sudah banyak terhadap kami. Akhirnya kami memutuskan untuk bootstrapping, semua dikerjakan demi mengumpulkan modal supaya transaksi bisnis bisa terus berjalan.

Ketika mulai berjalan, tantangan selanjutnya adalah mendapatkan kepercayaan orang lain. Karena kami memulai usaha ini di usia yang cukup muda dan belum lulus kuliah, tidak mudah bagi kami meyakinkan ke pihak-pihak lain, terutama para nelayan, untuk mau bergabung menjadi stakeholder Aruna. Yang kedua, pastinya ada keterbatasan dari sisi akses yang kami miliki. Akses jejaring yang masih minim, tidak adanya modal, serta harus turun ke lapangan mempromosikan Aruna juga menjadi hal yang menantang. Kami memang sudah memprediksi bahwa akan terjadi masalah-masalah seperti itu, tapi kami tetap coba jalani terlebih dahulu.

Selain itu, dalam bisnis ini, lebih sulit mengumpulkan dan mengedukasi nelayan untuk mau menjadi mitra Aruna daripada mencari calon konsumen. Karena para nelayan ini tersebar di berbagai pulau, pesisir, dan banyak yang berada di daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) yang infrastrukturnya saja masih minim. Jadi jumlah nelayan yang mengerti teknologi pun masih sedikit jumlahnya. Untuk hal ini, kami menggunakan skema local heroes di beberapa daerah. Local heroes ini merupakan anak muda pesisir, anak nelayan, atau anak muda yang tidak ingin bekerja di kota dan mau kembali ke desanya untuk berkontribusi. Mereka kami titipkan aplikasi Aruna untuk mengumpulkan data nelayan, mensosialisasikan perihal sustainable fishing, quality control, sekaligus menjadi group manager dari para nelayan di daerah itu.

Bagaimana perkembangan Aruna saat ini? Apa yang sedang fokus dikerjakan Aruna sekarang?

Saat ini Aruna sedang fokus memperbanyak titik-titik suplai, atau titik-titik lokasi nelayan yang bisa diajak bergabung di Aruna. Kami sedang ekspansi ke beberapa pulau, seperti Maluku, Nusa Tenggara, dan beberapa daerah di Indonesia Timur dan pulau Jawa. Selain itu, tahun ini kami juga sedang memperluas jaringan ke beberapa konsumen dengan melakukan ekspansi ke beberapa negara, serta menambah varian produk. Sejauh ini top product Aruna adalah kepiting rajungan dan lobster, dan tahun ini kami akan menambah jenis ikan-ikan juga.

Kalau terkait dengan model bisnis, konsumen Aruna saat ini banyaknya masih B2B (business to business). Karena dengan skala pembelian yang besar, kami bisa mengirimkan ke pulau atau atau negara tertentu. Sedangkan untuk pembelian skala kecil, kami masih dalam percobaan selama setahun sejak pandemi COVID-19, dengan bekerjasama dengan beberapa e-commerce untuk memasarkan hasil tangkapan nelayan di cakupan daerah Jabodetabek.

Saingan Aruna saat ini adalah perusahaanperusahaan perikanan konvensional. Kalau di daerah kecil biasanya ada tengkulak yang mengumpulkan hasil tangkapan nelayan dan mengatur permodalan nelayan. Namun para tengkulak ini membeli hasil laut dengan harga rendah atau bahkan dihutangkan terlebih dahulu, sehingga para nelayan tidak begitu mendapat banyak keuntungan dan taraf hidupnya rata-rata masih berada di bawah garis kemiskinan.

Apa keunikan utama yang ditawarkan Aruna bagi penggunanya?

Dibandingkan para kompetitornya, Aruna menawarkan para nelayan akses market yang lebih baik. Para tengkulak yang ada biasanya hanya bisa memberikan akses market lokal, atau yang paling jauh dijual ke Jakarta. Sedangkan Aruna langsung menyambungkan kelompok nelayan ini ke pembeli akhir yang lokasinya tidak terbatas di Indonesia saja, misalnya restoran di Singapura, hotel, atau pabrik di Amerika. Dampak dari hal ini, nelayan bisa mempunyai pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga taraf hidup mereka pun dapat semakin meningkat.

Selain itu, Aruna juga membantu para nelayan mengetahui harga estimasi yang akan diterima, karena kami memiliki data standar harga yang diminta oleh konsumen dan informasi terkait regulasi internasional, faktor musim, dan hal lain yang mempengaruhi perubahan harga. Dari situ harga akan diolah di sistem Aruna dan diinformasikan kepada nelayan.

Apa hal yang paling berpengaruh besar pada pertumbuhan Aruna? Apa pencapaian terbesar yang pernah diraih Aruna?

Yang pasti, misi dari Aruna itu sendiri. Karena tanpa misi dan objektif yang jelas, modal yang kami miliki bisa digunakan tidak pada tempatnya dan tidak menghasilkan sesuatu yang produktif. Selanjutnya adalah anggota tim yang mengerjakan core business di Aruna. Semakin Aruna bertumbuh, kunci keberhasilan Aruna bukan lagi di founders nya saja, tapi juga semua tim yang ada di dalamnya. Oh ya, tim kami disebut dengan Nakama Aruna. Awalnya tim hanya berjumlah tiga orang, siapa lagi kalau bukan founders nya sendiri yang mulai implementasi bisnis di awal-awal, datang ke lapangan, dan mengerjakan semuanya sendiri. Sekitar 1 tahun kemudian, di 2016, beberapa mahasiswa magang yang mau turut membantu kami ajak bergabung di Aruna. Hingga tahun 2017 ketika bisnis sudah sedikit established, barulah kami punya karyawan sendiri.

Apa pencapaian terbesar yang pernah diraih Aruna?

Kami selalu berharap untuk dapat mencapai hal baru lagi dan lagi di setiap tahunnya. Tapi untuk saat ini, pencapaian terbesar Aruna adalah semakin banyak daerah dan nelayan yang bergabung di Aruna. Ditambah lagi ketika melihat beberapa nelayan itu taraf hidupnya menjadi lebih baik. Ada keluarga nelayan yang jadi bisa menyekolahkan anaknya, menyisihkan pendapatan untuk ditabung bahkan investasi. Hal-hal tersebut adalah salah satu parameter keberhasilan Aruna. Artinya, teknologi yang kita buat dapat bermanfaatnya bukan hanya untuk Aruna, tapi juga untuk nelayan sebagai mitra Aruna.

Apa prioritas utama dari Aruna dalam 2 tahun mendatang?

Yang paling utama adalah ekspansi dari sisi komunitas nelayan. Saat ini, Aruna baru tersebar di 32 titik, dan dalam dua tahun kedepan kami punya target untuk menjangkau 200–300 titik. Kedua, kami ingin ekspansi dari sisi produk dan konsumen. Meskipun saat ini Aruna sudah melebarkan pasar ke berbagai negara, harapannya kami bisa memasuki lebih banyak lagi negara dengan lebih banyak varian komoditas hasil laut. Kami juga akan berusaha agar teknologi yang menunjang bisnis Aruna bisa dikembangkan lebih baik lagi.

Sedikit tips bagi teman-teman yang ingin memulai ekspor produk bisnisnya ke pasar internasional, kita harus mau riset sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan teknologi digital yang ada. Kita harus mengetahui negara mana yang mau kita approach dan aturan ekspor-impor di negara tersebut, karena setiap negara memiliki regulasi yang berbeda-beda. Lalu jangan malas untuk aktif berjejaring baik dengan konsumen, jaringan bisnis, maupun komunitas ekspor-impor. Karena kepercayaan dari existing customer saja tidak cukup, kita juga perlu mendapatkan kepercayaan dari negara kita sendiri. Entah mengusahakan untuk dapat endorsement dari pemerintah maupun kedutaan, agar calon konsumen dari negara lain lebih mudah percaya dengan perusahaan dan produk yang kita miliki. Tapi jangan lupa untuk selalu berhati-hati dan mengecek ulang kredibilitas calon konsumen agar kita tidak kena tipu. Andalkan semua koneksi dan komunitas yang ada, sehingga kita bisa tetap berbisnis dengan aman dan sesuai aturan.

Apakah ada pesan untuk teman-teman pembaca yang sedang merintis startup?

Merintis startup itu bukanlah hal yang mudah. Sekarang, kan, istilah startup sudah semakin populer dibandingkan waktu dulu kami membangun Aruna. Teman-teman pasti lebih mudah mendapatkan referensi dan ilmunya. Tapi menurut saya, jangan sampai kita memulai startup karena ikut-ikutan tren. Merintis startup itu sama saja seperti membuat bisnis pada umumnya, dan kunci dari bisnis adalah profit. Jadi kita harus memikirkan baik-baik skala bisnis yang mau dibuat ini sebesar apa ke depannya? Rencana bisnisnya akan dieksplor seperti apa? Dan jangan memulai bisnis setengah-setengah, karena proses berbisnis itu sendiri akan memunculkan banyak masalah (seperti tidak punya modal, anggota tim, atau keterbatasan lainya). Kalau kita tidak punya niat 100% untuk bisnis, kita akan mudah menyerah ketika ditimpa masalah tersebut. Kita juga harus memikirkan apakah potensi bisnis ini bisa di scale-up? Jadi bukan hanya mengejar profit, tapi pengembangan bisnis ke depannya juga harus jelas mau seperti apa.

Terakhir, untuk teman-teman yang baru memulai, jangan membatasi diri. Di era ini, tidak hanya mudah mencari informasi, tapi juga lebih mudah berjejaring dan membangun koneksi secara online. Hal ini juga bisa membantu teman-teman yang baru mau memulai startup untuk bisa lebih maju lagi.


Tulisan ini juga dipublikasikan pada Buku Saku RINTISAN Volume 10.


Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia dengan mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Diinisiasi sejak 2016, #1000StartupDigital berfokus mendorong early-stage startup pada sektor agrikultur, kesehatan, pendidikan, pariwisata, logistik, dan maritim.

Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!

. . .

— Tulisan dibuat oleh Aulia Mahiranissa.

Bagikan artikel ini