fbpx

7 Emosi Negatif Ini Bisa Diubah Jadi Positif Jika Dikelola dengan Benar

Jika kamu bekerja dalam sebuah tim, ketahuilah bahawa emosi negatif akan berdampak pada produktivitas kerja dan keberhasilan tim, karena emosi tiap anggota dapat memengaruhi kualitas kerja tim secara keseluruhan.

Guna mencegah hal tersebut, dibutuhkan kemampuan dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan perasaan dan emosi. Namun, membicarakan ‘perasaan’ di lingkungan kerja sering kali dianggap tabu, sehingga kamu mungkin cenderung memendam emosi daripada harus menerima respons yang tidak diharapkan.

Sumber: instagram.com/lizandmollie

Berikut ini kami bagikan tujuh emosi negatif yang sebetulnya bisa diubah jadi positif jika dikelola dengan benar.

1. Kecemasan

Dilansir dalam STAT, kasus depresi dan kecemasan meningkat lebih dari 25% secara global pada tahun 2020. Ini merupakan salah satu dampak pandemi Covid-19 yang banyak memengaruhi kawula muda.

Baik di startup maupun perusahaan besar, budaya yang tidak sehat tentang permasalah emosi hanya akan menambah tingkat kecemasan dan membuat individu yang berada di sana enggan mengakui dan mengatasi kecemasan mereka.

Jika rekan kerjamu tampak tidak nyaman saat melihat ada yang menangis atau mencurahkan bagaimana kecemasan meliputinya, ini dapat menjadi pertanda bahwa mereka tidak terbiasa berhadapan dengan masalah emosional.

Apabila terus-menerus memperlakukan emosi sebagai hal yang tabu, kamu dan orang-orang di lingkungan kerjamu tidak akan pernah belajar bagaimana cara menghadapi situasi ini sepenuh hati.

Contoh kasus, kamu selalu khawatir apakah kamu mampu melalui minggu depan di kantor dengan baik. Kekhawatiran tersebut sudah sampai mengganggu kualitas tidurmu dan memicu stres. Sebaiknya coba utarakan perasaanmu kepada rekan kerja, siapa tahu mereka punya solusi yang bisa kamu praktikkan.

2. Kecemburuan

Rasa cemburu biasanya dianggap sebagai emosi negatif, karena kebanyakan orang akan langsung berusaha menampik emosi tersebut saat muncul. Kemudian mereka akan meyakinkan diri sendiri bahwa mereka tidak cemburu.

Apakah kamu juga seperti itu?

Sekarang coba pakai cara lain. Luangkan waktu untuk mengamati kecemburuan yang kamu rasakan, sehingga kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Contoh kasus, Andi menikmati kariernya sebagai penulis novel. Ketika Andi melihat ada penulis lain yang sukses, dia merasa baik-baik saja. Namun, ketika Andi melihat ada accounting manager yang sukses, dia merasa iri. Kecemburuan ini dapat menandakan bahwa sebetulnya yang Andi inginkan yaitu menjadi accounting manager.

Ketika kamu berada di situasi yang sama seperti Andi, sebaiknya jangan langsung menampik rasa kecemburuan tersebut, melainkan amati secara perlahan dan tanyakan kepada dirimu sendiri apa alasan kecemburuanmu.

3. Ketidakpastian

Di tengah masa pandemi Covid-19 ini, sangat wajar jika kamu merasakan ketidakpastian. Ini termasuk rasa bingung, cemas, dan stres. Namun, mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti secara berlebihan malah akan berdampak buruk bagi kesehatan mentalmu, karena dapat memicu perasaan dan emosi negatif yang berisiko menular kepada orang lain.

Sama halnya ketika muncul rasa ketidakpastian di tempat kerja. Contoh kasus, Gading memutuskan resign dari kantornya karena merasa tidak dapat membangun career path sesuai goals dia di masa depan. Dia juga iri dengan nasib teman-temannya yang dia anggap lebih bagus daripada dirinya sendiri. Jadi, dia lebih memilih mencari peluang kerja di tempat lain daripada di kantor sebelumnya.

Lalu, setelah pindah kantor, apakah Gading sudah pasti tidak akan merasakan ketidakpastian di tempat kerja? Jawabannya tidak, karena ketakutan akan ketidakpastian adalah hal yang konstan dan bisa muncul kapan saja.

Dibutuhkan kemampuan untuk mengontrol pikiran dan emosi diri agar kamu lebih bijaksana dalam menentukan apa yang sebaiknya kamu pilih dan kamu coba.

4. Konflik

Sebagian besar dari kamu pasti pernah mengalami bad day, misalnya ketika pendapat kamu dan atasan bertolak belakang. Saat konflik di tempat kerja tampaknya sulit menemukan titik terang, sedangkan emosi di kepala sudah mendidih, kamu mungkin berpikir bahwa satu-satunya pilihan yang tersisa hanya resign.

Tunggu dulu! Sebaiknya jangan buru-buru, karena ada cara lain untuk melewati situasi tersebut. Salah satu caranya dengan memahami gaya kerja satu sama lain, sehingga kamu dapat mencegah kesalahpahaman dengan rekan kerjamu.

Jika goals startup kamu adalah tumbuh dan berkembang, serta menciptakan produk terbaik, mungkin kamu bisa menerapkan urgensi yang sama demi menciptakan hubungan yang baik di tempat kerja.

5. Serba Salah

Emosi negatif yang dibiarkan begitu saja lama-kelamaan akan menumpuk jadi gunung dan berkembang menjadi emosi yang tidak relevan. Jika dibiarkan terus-menerus, emosi negatif tersebut bisa menular ke orang lain dan memengaruhi hubungan kalian.

Sebaiknya kenali tanda-tanda emosi negatif sedini mungkin sebelum kamu terjebak di dalamnya. Misalnya ketika kamu berbuat salah, akuilah bahwa kamu memang salah, tapi jangan berpikir bahwa kamu selalu mengacaukan segalanya. Sebaliknya, katakan bahwa kamu akan lebih berhati-hati selanjutnya dan menggunakan masalah sebelumnya sebagai pelajaran untuk meningkatkan performa kerja di masa depan.

Jika kamu sedang berada di situasi mendesak, yakni ketika atasan meminta perubahan besar di detik-detik terakhir deadline, lakukan hal ini:

  • Alih-alih membentak rekan kerja dengan kesal, sebaiknya berhenti sejenak sampai kamu dapat mengendalikan emosi tersebut dan memahami apa yang sebenarnya kamu ingin sampaikan.
  • Kamu mungkin mengatakan “Saya merasa kesal karena dikasih tugas dadakan”, padahal maksud kamu sebenarnya adalah “Saya khawatir tidak dapat merealisasikan perubahan yang diminta karena kurangnya waktu yang tersisa”. Itulah mengapa diam sejenak menjadi kunci agar pikiran lebih jernih sebelum merespons pemicu emosi.

6. Tidak Diterima di Lingkungan

Pernahkan kamu merasa seperti tidak bisa diterima di lingkungan kerja? Atau mungkin kamu merasa tidak cocok untuk orang-orang di sekitarmu? Ini adalah perasaan umum yang dialami oleh orang setidaknya sekali seumur hidup.

Terkadang kamu mengalami masa-sama sulit saat menyelesaikan pekerjaan. Kemudian di saat bersamaan kamu merasa bahwa kamu tidak dapat berhubungan dengan siapa pun sampai kamu memilih menutup diri untuk berhubungan sosial.

Usahakan kamu tidak semakin terjebak dalam perasaan tersebut. Kamu dapat membicarakan unek-unekmu dengan rekan kerja yang kamu percaya atau bahkan atasanmu. Mereka akan membantumu menemukan jalan keluar agar kamu tidak merasa sendirian lagi.

Namun, dalam tingkatan tertentu, kamu mungkin membutuhkan bantuan profesional untuk menyelesaikan masalah perasaan tersebut.

7. Penolakan

Masih berkaitan dengan perasaan tidak diterima di mana pun, emosi berikutnya yang mungkin sering kamu rasakan di tempat kerja adalah penolakan.

Penolakan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi. Di bidang perawatan kesehatan mental, penolakan sering kali mengacu pada perasaan malu atau sedih ketika seseorang merasa tidak diterima oleh orang lain.

Kamu dapat mempertimbangkan sisi lain dari penolakan. Alih-alih membiarkan rasa takut ditolak menguasaimu di tempat kerja, sebaiknya keluarlah dari belenggu ketakutan tersebut dan tempatkan dirimu di luar sana.

Itu dia tujuh emosi negatif yang bisa diubah jadi positif jika dikelola dengan benar. Kuncinya adalah mengubah sudut pandangmu agar tidak berputar di lingkaran yang sama.

Selain itu, peran founder startup atau perusahaan sangat dibutuhkan, karena bagaimana cara pandang karyawan terhadap masalah ‘perasaan’ akan berpengaruh pada budaya di startup ke depannya.


Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah upaya bahu membahu penggerak ekosistem startup digital Indonesia untuk saling terkoneksi, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Diinisiasi sejak 2016, gerakan ini diharapkan mendorong terciptanya mencetak startup yang menjadi solusi atas masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. #1000StartupDigital memberikan pembinaan bagi calon founder untuk membentuk tim, membuat MVP, hingga meluncurkan produknya ke pasar.

Karena Indonesia maju, #MulaiDariKamu!

Bagikan artikel ini